Seorang anak muda pernah datang dan mengajukan pertanyaan ini, “Apa kuncinya agar kita bisa hidup dalam damai, bahagia dan berkelimpahan?” “Kuncinya adalah,” saya jawab secara spontan, “bersatu dengan kehidupan itu sendiri”.

Kehidupan memiliki dua dimensi, yaitu hal-hal yang mengisi hidup (things in life) dan hidup itu sendiri (life in itself). Hal-hal yang mengisi hidup beragam bentuknya. Itu mencakup benda-benda yang kita beli atau kita miliki, orang-orang di lingkaran hidup kita, pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan; hingga hal-hal yang mengisi batin seperti pikiran, perasaan dan bentuk-bentuk mental. Itu semua adalah fenomena dari dunia bentuk yang mengisi kehidupan, tetapi semua itu bukan kehidupan itu sendiri. Esensi kehidupan itu sendiri tidak memiliki bentuk.

Kita seringkali mengidentikkan dan mengacaukan hidup dengan hal-hal yang mengisi hidup. Kalau kita berpikiran bahwa kelimpahan hidup identik dengan hal-hal yang mengisi hidup, maka Kerajaan Surga hanya ada di supermall atau hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang berpunya secara materi. Kita mengalami Kerajaan Surga bukan ditentukan oleh banyaknya hal yang kita miliki, tetapi pada kedalaman kita dalam bersentuhan dengan dimensi keluasan kehidupan yang tak-berbentuk.

Bentuk-bentuk kehidupan (life forms) dan kehidupan yang tak-berbentuk (formless life) saling terkait tetapi berbeda satu dengan yang lain. Bayangkan sebuah kue donut di depan Anda. Donut adalah kue bulat yang tengahnya kosong. Bentuk-bentuk kehidupan adalah seperti kue bulat dan kehidupan tanpa-bentuk adalah ruang tengah yang kosong. Tidak ada donut tanpa lingkaran tengah kosong. Begitu pula tidak ada bentuk-bentuk kehidupan tanpa kehidupan yang tak-berbentuk. Keduanya saling berkait, tetapi berbeda secara absolute.

Apa yang dimaksudkan dengan kehidupan yang tak-berbentuk yang tak terpisahkan tetapi berbeda dari bentuk-bentuk kehidupan? Sementara Anda duduk, bagaimana Anda tahu bahwa nafas Anda masih berjalan? Apakah Anda bisa merasakan nafas Anda? Bagaimana Anda tahu bahwa Anda merasakan nafas Anda? Anda tahu bahwa Anda merasakan nafas Anda karena ada kesadaran, bukan? Nafas adalah salah satu bentuk kehidupan dan kesadaran adalah esensi kehidupan tanpa-bentuk. Anda bisa memperhatikan hubungan keduanya dengan mengambil bentuk-bentuk objek lain seperti sensasi tangan atau kaki Anda, pikiran, perasaan, benda-benda, persoalan-persoalan kehidupan, dst.

Mana yang lebih dulu ada: objek-objek yang Anda sadari atau kesadaran tentang objek yang Anda sadari? Bukankah kesadaran datang lebih dulu, barulah objek-objek dari kesadaran mengikutinya? Apabila kesadaran Anda berhenti, maka nafas—atau objek-objek kesadaran—juga berhenti. Objek-objek itu ada karena ada kesadaran tentang objek-objek itu.

Ada banyak objek yang berbentuk, namun hanya ada dua jenis kesadaran, yaitu kesadaran yang memisahkan dan kesadaran yang menyatukan. Kesadaran yang memisahkan adalah kesadaran yang berpusat pada entitas ego (egoic-consciousness) dan terfokus pada objek (focused consciousness). Kesadaran yang menyatukan adalah kesadaran pada dirinya (Awareness in itself), tidak memiliki pusat ego (Non-Ego Awareness), tidak memiliki objek (Objectless Awareness), tak-berbentuk (Formless Awareness).

Kesadaran yang memisahkan timbul dari kesadaran adanya “si aku” (“I”, “me”, “mine” “myself”) yang berelasi dengan segala hal sebagai objek. Sebaliknya, kesadaran yang menyatukan adalah kesadaran sebelum tercipta paham adanya “si aku”. Kita, Anda dan saya, adalah kesadaran INI, kesadaran tak-berbentuk, tak-berobjek, tanpa ego.

Kesadaran INI mirip seperti ruang mahaluas tak-terbatas yang mendasari dan melingkupi semua bentuk-bentuk kehidupan. Apabila Anda menyentuh dimensi Kehidupan Tak-Berbentuk ini–sebuah Kesadaran Tak-berbentuk yang menyatukan–maka Anda akan mengerti bahwa Anda bukan memiliki hidup, tetapi Anda adalah hidup itu sendiri; Anda bukan memiliki Kesadaran, tetapi Anda adalah Kesadaran itu sendiri. Kesadaran INI bukan milik Anda, bukan milik saya; INI adalah Kesadaran Semesta, Universal, Ilahi. Kesadaran INI adalah Anda yang sesungguhnya.

Rasakan beberapa saat kemahaluasan dari Kesadaran atau Kehidupan Tak-Berbentuk yang adalah Anda yang sesungguhnya. Tinggallah dalam realisasi ini dalam beberapa saat dan perhatikan bagaimana Kesadaran Tak-Berbentuk ini bermanifestasi dalam dunia bentuk, meresapi dan melampaui segala hal yang Anda sadari.

INI bermanifestasi sebagai dasar lautan yang menjadi gunung di daratan dan gunung yang sama menjadi dasar lautan kembali dalam proses waktu jutaan tahun. Ini bermanifestasi sebagai benda-benda atau makhluk yang bernyawa atau tak bernyawa—mineral, tanaman, hewan, manusia dan seluruh isi alam semesta. INI bermanifestasi sebagai keselarasan sempurna dari gerak alam semesta.

Kesadaran atau Kehidupan Tak-Berbentuk ini meresapi dan melingkupi setiap sel yang membentuk tubuh kita, seperti air meresapi dan membentuk tubuh ikan dan melingkupi dengan sempurna.

Kesadaran INI meresapi dan melingkupi batin kita dengan sempurna. INI meresapi batin, pikiran dan tindakan kita; dan menjadikannya sebagai alat agar keindahan dan kebaikan bermanifestasi di tengah dunia.

Kesadaran dan Kehidupan Tak-Berbentuk ini juga mengatasi dan mentransformasikan segala sesuatu. Saat kita merealisasikan bahwa kita adalah Kesadaran Tak-Berbentuk yang mahaluas sementara kita merasakan emosi yang kuat sekalipun—entah emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan—Kesadaran ini dengan mudahnya menembus dan mengatasinya seperti angin yang bergerak melewati jari-jari yang hendak menggenggamnya. INI membuka wawasan cerah. Kesadaran INI membuat perubahan-perubahan di luar terjadi pada saat yang sama kita mengalami perubahan-perubahan di dalam batin.

Apabila Anda merealisasikan atau menghidupi Kesadaran Tak-Berbentuk ini sementara Anda hidup dan berelasi dalam dunia bentuk, maka Anda akan menemukan secara relative mudah kedamaian, kebahagiaan dan kelimpahan dalam hidup.

Kapankah kita mengalami ketidakdamaian dalam hidup? Ketika kita melawan atau menentang fakta-fakta kehidupan, maka kita tidak menemukan kedamaian di hati. Kapankah kita mengalami ketidakbahagiaan? Ketika kita mencari sesuatu yang tidak ada di saat sekarang, kita dibuat makin tidak bahagia. Kapankah Kita merasakan hidup serba kekurangan? Ketika kita tidak bisa merasakan kecukupan di hati, maka kita makin jauh dari hidup yang berkelimpahan.

Kedamaian batin, kebahagiaan dan kelimpahan hidup tidak berasal dari banyaknya benda-benda atau hal-hal yang bisa kita miliki, tetapi pada realisasi bahwa kita tidaklah berbeda dari Kesadaran Tak-Berbentuk yang bermanifestasi, meresapi dan melampaui segala sesuatu. Benda-benda atau hal-hal yang kita miliki atau ingin kita miliki justru bisa menjauhkan kita dari kedamaian, kebahagiaan dan kelimpahan hidup apabila kita tidak berakar pada Kehidupan Tak-Berbentuk. Sebaliknya, apabila hidup kita berakar di dalamnya, maka benda-benda atau hal-hal yang kita butuhkan akan ditambahkan kemudian dan akan menambah kelimpahan hidup kita. Hidup damai, bahagia dan berkelimpahan sudah menjadi ciri hidup kita ketika kita hidup dan berelasi dalam dunia bentuk dengan berakar pada dimensi kemahaluasan Kehidupan Tak-Berbentuk saat ini juga.* (js)