Sesering apakah Anda menemukan kedamaian di hati dan secepat apakah Anda bebas dari konflik-konflik setiap hari? Sesering Anda mengalami konflik dan kepedihan, sesering itulah Anda bisa mengalami kedamaian di hati asal Anda tahu bagaimana menyentuhnya secara tepat dengan kesadaran Anda.

Kedamaian hanya ada pada tingkatan keberadaan kita yang lebih dalam, sedangkan konflik-konflik dan kepedihan hanya ada pada tingkatan kesadaran pikiran di tingkatan permukaan. Maka kita perlu berlatih untuk menyentuh keberadaan kita yang paling dalam, karena hanya di sanalah kedamaian di hati bisa ditemukan.

Keberadaan kita yang paling dalam adalah Kristus. Apabila Anda seorang Buddhist, keberadaan Anda yang paling dalam adalah Buddha. Apabila Anda seorang Moslem keberadaan Anda yang paling dalam adalah Allah. Ketiganya pada hakikatnya tidak berbeda.

Seperti apakah hubugan kita, Anda dan saya, dengan Kristus? Hubungan Anda dengan Kristus—dengan Buddha atau dengan Allah– adalah seperti hubungan antara gelombang dengan air.

Apa esensi dari gelombang? Air adalah esensi dari gelombang. Tidak ada air di luar gelombang. Anda tidak bisa memisahkan air dari gelombang. Begitu pula Kristus tidak bisa dipisahkan dari Anda; Kristus adalah esensi atau hakikat Anda yang sesungguhnya.

Apa hakikat air? Air adalah gabungan 2 atom hydrogen dan 1 atom oksigen. Gabungan kedua unsur ini membentuk apa yang disebut dengan air. Apa sifat air? Air punya sifat merendah, bergerak dari atas ke bawah. Air punya sifat membersihkan, lentur, mudah menyesuaikan diri pada segala situasi. Apabila bertemu dengan suhu panas, ia menjadi panas; apabila bertemu dengan suhu dingin, ia menjadi dingin.

Apa Hakikat Kekristusan? Hakikat Kekristusan adalah kesatuan manusia dengan Allah. Kesatuan ini secara actual hanya terjadi bila terdapat pengosongan-diri atau ketiadaan-diri dari pihak manusia. Apa sifat Kekristusan? Sifat Kekristusan adalah Kemurnian dan Damai, Cinta dan Welas Asih, Kearifan dan Kebenaran, Keseimbangan dan Kekuatan.

Apabila kita menyentuh Hakikat Kekristusan di dalam diri kita, maka Damai, Kasih dan Kekuatan—dan banyak sifat-sifat yang lain–akan dianugerahkan kepada kita. Untuk mendapatkan anugerah ini, kita hanya perlu berlatih untuk menyiapkan tubuh dan batin kita.

Berikut adalah cara praktis dan mudah bagaimana menyentuh keberadaan kita yang paling dalam. Untuk menemukan air, kita hanya perlu menyentuh gelombang. Gelombang dalam diri kita adalah bentuk-bentuk ketakutan, kecemasan, kepedihan, kebencian, kemarahan atau bentuk-bentuk energy negative lainnya. Apabila kita berada pada permukaan kesadaran pikiran, kita berada pada gelombang ketidakdamaian. Kita terombang-ambing oleh berbagai perasaan negative.

Sentuhlah dengan kesadaran Anda gelombang ketakutan, kecemasan, kepedihan, kebencian, kemarahan atau perasaan-perasaan negative lainnya. Menyentuh dengan kesadaran berarti menyadari secara penuh bahwa hakikat Anda yang sesungguhnya bukanlah gelombang ketakutan dan kecemasan. Tidak cukup hanya menyadari rasa perasaan hati Anda; yang lebih penting adalah menyadari keakuan Anda dalam rasa perasaan hati Anda. Setiap kali Anda menyadari rasa perasaan hati Anda sekaligus keakuan Anda, maka Anda bergerak melampauinya dan Anda berjalan lebih dalam. Semakin dalam Anda menyelam, semakin mudah Anda menemukan kedamaian. Anda bisa menyadari dengan cara berikut ini.

“Pertama-tama duduklah dengan relaks, biarkan setiap bagian tubuh Anda betul-betul relaks. Sadari setiap ketegangan dan lepaskan.

Setelah cukup relaks, lihatlah apa yang terjadi dengan perasaan emosi Anda sekarang. Bukan perasaan Anda kemarin, tetapi sekarang.

Apakah terdapat ketakutan? Bila ada, sadari ketakutan saat muncul ketakutan. Sadari, ketakutan itu bukanlah hakikat Anda yang sesungguhnya; hakikat Anda yang sesungguhnya bukanlah ketakutan itu.
Apakah terdapat kecemasan? Bila ada, sadari kecemasan saat muncul kecemasan. Sadari, kecemasan itu bukanlah hakikat Anda yang sesungguhnya; hakikat Anda yang sesungguhnya bukanlah kecemasan itu.
Apakah terdapat kebencian? Bila ada, sadari kebencian saat muncul kebencian. Sadari, kebencian itu bukanlah hakikat Anda yang sesungguhnya; hakikat Anda yang sesungguhnya bukanlah kebencian itu.

Hakikat Anda yang sesunguhnya adalah Kristus dan sifat-sifat Kristus adalah Damai, Kasih dan Kuat.

Apakah terdapat rasa Damai? Sadari Rasa Damai saat muncul Rasa damai. Sadari, Kedamaian adalah sifat Kekristusan di dalam diri Anda.
Apakah terdapat Rasa Kasih? Sadari Rasa Kasih saat muncul Rasa Kasih. Sadari, Kasih adalah sifat Kekristusan di dalam diri Anda.
Apakah terdapat Rasa kuat? Sadari Rasa Kuat saat muncul Rasa Kuat. Sadari, Kekuatan Batin adalah sifat Kekristusan di dalam diri Anda.”

Itu bukan mantra tetapi suatu proses latihan untuk menyentuh secara actual Hakikat Kekristusan dan mengembangkan sifar-sifat Kekristusan di dalam diri Anda. Ketika Anda sudah merasakan mekarnya Kedamaian Hati, silahkan membuat komitment untuk menjadikan diri Anda sebagai Utusan Perdamaian (a Messenger of Peace).

Apa tugas seorang Utusan Perdamaian? Ada dua hal dan keduanya saling berkait. Pertama, merealisasikan Kedamaian Hati pada diri sendiri; dan kedua, menjadikan Kedamaian sebagai kekuatan untuk menolong orang lain dan mengubah situasi.

Barangkali Anda berpikir itu adalah tugas yang sulit. Saat Anda menyadari situasi di tempat Anda hidup, entah di keluarga, komunitas atau lingkungan hidup Anda, Anda sudah dikepung oleh kekerasan. Barangkali Anda melihat ada benih-benih kepedihan, ketakutan, dan kebencian dalam kesadaran Anda sendiri. Ketika Anda mendapatkan serangan dan cercaan bertubi-tubi, disalahpahami atau dicari-cari kesalahan dalam relasi, maka timbullah kesakitan dan kebencian dalam diri Anda. Ketika tidak lagi sanggup untuk menghadapinya lagi, Anda melampiaskan rasa frustrasi dan kepedihan Anda kepada orang-orang di sekitar. Anda adalah korban pertama dari penderitaan Anda sendiri. Karena Anda tidak tahu bagaimana menanganinya, Anda melukai orang lain.

Ketika Anda mulai menyentuh gelombang kepedihan hati, Anda juga mulai mengubah kemarahan dan kebencian orang lain menjadi bunga kedamaian dan kasih. Anda akan segera melihat bahwa panah-panah yang ditembakkan kearah Anda, berasal dari perasaan sakit orang lain. Anda tidak merasa terluka oleh panah-panah itu, tetapi justru timbul welas asih. Dan welas asih bisa mengubah ucapan dan tindak-tindakan orang lain.

Latihan menyentuh hakikat kita yang paling dalam dan menemukan damai di hati merupakan pelindung nyata; pelindung seperti inilah yang kita butuhkan sebelum dapat melindungi orang lain. Kisah berikut dimaksudkan sebagai ilustrasi.

Pada tahun 2003, terjadi perang di Aceh, perang antara TNI (Tentara Nasional Indoneisa) dan GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Saat itu, saya masuk ke Aceh dengan ijin resmi dari penguasa militer sebagai wartawan. Orang menyebut kami adalah wartawan perang, tetapi kami lebih suka menyebut sebagai wartawan perdamaian. Misi utama kami adalah melakukan perlindungan masyarakat sipil non-combatant. Suatu hari kami bergabung dengan wartawan lain untuk memasuki desa Tiro di pedalaman Pidie, tempat kelahiran Hasan Tiro yang saat itu masih dikuasai oleh GAM. Kami bertujuh; ada wartawan dari Radio Netherland, SCTV, Suara Pembaruan, Acheh Kita dan saya sendiri sebagai wartawan independent.

Kami berdiskusi bagaimana caranya kami bisa sampai di titik tujuan karena harus melewati banyak pos pemeriksaan TNI. Desa Tiro berjarak sekitar 12 km dari jalan raya Banda Aceh-Medan. Kami mendapat informasi terdapat pos pemeriksaan TNI di setiap satu km. Kami membuat strategi: pertama, banyak senyum dan buatlah tentara nyaman dengan kita; kedua, lebih dulu bertanya dan lebih banyak bertanya. Orang yang merasa sangat berkuasa dan memegang senjata di lapangan sangat berbahaya. Apabila mereka lebih dulu bertanya, mereka akan lebih dulu menguasai kami. Kami tidak mau membiarkan diri kami dikuasai.

Kami bergerak dengan 2 mobil. Setiap satu km kami bertemu pos pemeriksaan dan kami lolos. Strategi kami berjalan baik. Sampai di km 8, kami melihat markas besar TNI gabungan. Kami melakukan deliberasi secara cepat apakah kami akan berhenti di pos atau tidak. Apabila kami berhenti, kemungkinan besar kami tidak diperbolehkan lewat. Apabila kami bergerak terus tanpa behenti di pos TNI, maka harus siap menanggung resikonya. Kami akhirnya memutuskan untuk tancap gas tanpa berhenti. Untuk melindungi diri agar tidak ditembak, maka kami mengibarkan bendera journalis dan bendera Palang Merah International di samping kanan dan kiri mobil. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan tanpa diberhentikan paksa.

Begitu sampai di tempat tujuan, kami segera mengambil gambar dan melakukan wawancara dengan orang-orang yang kami temui. Setelah 45 menit, kami mendengar bunyi panser mendekat. Benar, satu pasukan TNI dengan pansernya memaksa kami untuk turun dan menggiring kami ke markas. Sesampainya di markas, beberapa orang TNI berdiri berjajar dengan senjata di tangan siap meledak. Wajah mereka tegang, matanya merah. Kami digiring masuk ke tenda komandan dan kami diinterogasi.

Komandan marah besar. Kami semua tegang tapi kami berlatih untuk senyum, damai dan lebih banyak bertanya. Kami bertanya dengan penuh pemahaman dan welas asih tentang kesulitan-kesulitan di medan perang, bagaimana mereka makan dan minum, tentang keluarga dan anak-anak mereka, tentang ketakutan-ketakutan mereka, kesepian-kesepian mereka, dst. Setelah 25 menit, sang komandan baru sadar bahwa dia lebih banyak menjawab pertanyaan kami, bukannya menginterogasi. Kami yakin Sang Komandan ini bisa merasakan bahwa kami bisa merasakan kesulitan mereka, ketakutan mereka, ketegangan-ketegangan mereka. Dalam 5 menit terakhir, wajah Sang Komandan sudah jauh lebih relaks. Sebelum menit ke 30 berakhir, kami cepat-cepat minta diri untuk pergi. Sampai di jalan raya besar, kami tertawa meledak-ledak. Kami lega, bisa bebas keluar dari mulut singa.

Kita semua perlu terus belajar untuk melindungi diri sendiri. Apabila kita tidak melindungi diri dengan latihan-latihan dalam relasi-relasi, maka kita akan mudah terperangkap pada permainan kesakitan dan kekerasan orang lain.

Berhadapan dengan orang-orang atau situasi-situasi yang sulit, kita sering kali mudah kehilangan kedamaian hati. Pakailah kunci ini untuk membuka kedamaian hati: “Don’t take sorrow, don’t give sorrow.”

“Dont’ take sorrow.” “Janganlah mengambil kepedihan orang lain sebagai kepedihan Anda.” Orang lain menembakkan panah-panah kepedihan kepada Anda pertama-tama karena mereka mengalami perasaan sakit dengan dirinya sendiri. Anda bukanlah penyebab kepedihan orang lain; penyebab kepedihan orang lain adalah kesakitan mereka sendiri. Apabila mereka damai dengan dirinya sendiri, mereka tidak akan menembakkan kepedihan kepada Anda. Pemahaman Anda yang benar akan mendatangkan kedamaian dan welas asih. Jadi lindungilah diri Anda sendiri dengan tidak mengambil kepedihan orang lain sebagai kepedihan Anda.

“Don’t give sorrow.” “Janganlah memberikan kepedihan Anda kepada orang lain.” Apabila Anda mengirim panah-panah kepedihan kepada orang lain, panah kepedihan itu akan kembali kepada Anda. Semakin banyak Anda melepaskan panah-panah kepedihan kepada orang lain, semakin Anda memperkuat kepedihan bagi diri Anda sendiri. Jadi lindungilah diri Anda sendiri agar Anda tidak mengirimkan panah-panah kepedihan Anda kepada orang lain. Sadari niat untuk menyebarkan kepedihan saat kemuncullannya dan biarkan berakhir.

Mari kita hidup bersama sebagai Utusan-utusan Perdamaian dengan menemukan kedamaian dalam setiap langkah dan menebarkan kedamaian dan welas asih kepada dunia. (js)

Peace and Love…