Berikut adalah dialog antara DS dan JS.
===
DS: Romo Sudri yang baik, Selamat Paskah Romo.
JS: Selamat Paskah juga Pak Djohan.
DS: Semalam saya mengikuti Misa malam Paskah di gereja Santa dan mendengarkan homili perihal kematian dan kebangkitan dari romo.

Romo mengajak umat untuk mampu melepaskan ke-4 pokok belenggu diri seperti yang romo gambarkan telah terjadi pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, namun hingga akhir homili saya terus menunggu penjelasan romo perihal relasinya dengan ajaran utama Yesus: Cinta Kasih.

JS: Pak DS, Anda persis tidak menangkap intinya. Saya berbicara tentang “Kristus”, bukan “Jesus”. Yang saya tekankan dalam homily malam Paskah adalah kematian dan kebangkitan “Kristus”, bukan kematian dan kebangkitan “Jesus”. “Kristus” yang dimaksud di sini adalah “hakikat jiwa universal yang bersatu dengan Allah.” “Kristus” inilah yang mati dan dibangkitkan. Pada moment Inkarnasi, Kristus telah melakukan pelepasan atau pengosongan diri. “KesetaraanNya dengan Allah” atau “kesatuanNya dengan Allah Bapa di dalam diri Allah Bapa” ditanggalkan. Pada moment kematianNya, pelepasan itu terjadi lagi. Bedanya, pada moment kematian, yang dilepaskan adalah “KesatuanNya dengan Allah di dalam keakuannya sebagai manusia”.

Cinta Kasih dan keagungan hidupNya memukau banyak orang. Dari mana Cinta Kasih dan keagungan hidupNya itu bersumber? Apa kuncinya? Kuncinya adalah Kenosis atau pengosongan–diri sempurna dan relasi yang dalam dengan Allah BapaNya dalam keheningan doa. Tetapi orang sering kali hanya terpukau pada ajaran Cinta Kasih tanpa praktik pengosongan-diri dan praktik keheningan. Sikap ini adalah seperti orang yang tidak bijaksana yang menanam pohon dan segera ingin mendapatkan buahnya tanpa bersusah payah untuk merawat dan memupuknya. Maka menekankan aspek “pelepasan” menjadi penting di sini.

Kenosis atau pengosongan-diri sempurna pada moment Inkarnasi dan KematianNya ini sulit dipahami semua orang, termasuk mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus. KematianNya masih menjadi tragedy sampai sekarang karena tidak banyak dipahami orang, termasuk mereka yang merasa sudah mengenal Jesus Kristus.

DS: Bila “pelepasan belenggu” begitu penting, apa peran Cinta Kasih dalam proses pelepasan belenggu? Bahkan apakah pelepasan belenggu (diri sendiri) begitu penting sehingga mampu menisbikan Cinta Kasih?

JS: Dari pengalaman Anda sendiri, apakah ada Cinta Kasih bila tidak terdapat pelepasan kelekatan dan ego/keakuan?
Kristus berbeda dengan Anda dan saya. Kita memiliki potensi jatuh ke dalam dosa karena memiliki ego, sementara Kristus bebas dari ego sehingga bebas dari dosa. Tetapi Jesus Kristus masih memiliki keakuan (self) sebagai manusia selama Ia hidup di tengah dunia. Barangkali dimensi “self” dan “no-self” mewarnai hidupNya secara bergantian. Pada akhirnya hidupNya, keakuanNya itu dilepaskan secara permanen dan final di tiang Salib. Pengosongan diri Kristus secara total—-pada moment Inkarnasi, dalam hidup sehari-hari, dan pada moment kematian–adalah wujud Cinta KasihNya kepada Allah Bapa dan umat manusia. Tidak ada dualitas atau jarak antara pengosongan-diri dengan Cinta Kasih. Pengosongan-diri itu adalah Cinta Kasih; tidak ada Cinta Kasih tanpa pengosongan diri. Anda tidak bisa mengambil yang satu dan membuang yang lain.

DS: Saya merasa bahwa Yesus dalam Paskah jauh lebih besar dari itu. Bila Yesus fokus pada pelepasan belenggu diri maka Yesus hanya sederajat dengan Buddha, dimana dirinya (Sidharta, anak raja dengan kehidupan istimewa) yang amat terganggu (shock) dengan peristiwa-peristiwa kesengsaraan yang dilihatnya. Sebegitu terganggunya sehingga sebelum kesengsaraan itu (= pokok permasalahan) dikenalinya dengan benar, dibuatnya pernyataan bahwa kodrat hidup adalah kesengsaraan (dukka). Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan (diri sendiri) untuk melepaskan diri (sendiri) dari kesengsaraan. Siapapun yang sependapat dengan Buddha silahkan mengikuti latihan-latihan atau jalan-nya untuk lepas dari dukka.

Yesus juga amat terganggu dengan kesengsaraan namun hidup keseharian Yesus yang lebih dekat dengan kesengsaraan (cuma sebagai anak tukang kayu) mampu mengenali kesengsaraan dengan kedalaman dan perspektif yang luas sehingga Yesus tidak membuahkan solusi bagi diri-Nya sendiri namun solusi atau ajaran yang berbeda, dengan lingkup yang amat luas: CINTA KASIH . Sebuah kebenaran sejati.

Saya segera merasakan Yesus yang lebih besar dan lebih agung daripada Budha yang lebih egoistik. Apakah saya keliru?

JS: Pandangan Anda tentang Yesus dan Budha tentu saja benar 100% menurut keterkondisian Anda. Saya bisa memahami pandangan Anda.

Pemahaman orang tentang ajaran Yesus atau Budha—dan ajaran-ajaran lain–sangat dipengaruhi oleh tebal tipisnya kelekatan dan ego/keakuannya. Orang gampang mengunggulkan atau merendahkan suatu ajaran, menolak atau mengikutinya, seringkali tergantung pada kadar kelekatan dan ego/keakuannya itu sendiri.
Pandangan Anda umum ditemukan di kalangan Kristen dan Katolik. Tetapi pandangan Anda tentang Yesus dan Budha berbeda dengan pandangan saya.

Saya lebih tertarik mengenal Kristus bukan sebagai sosok pribadi yang hidup selama 33 tahun, tetapi Kristus yang melampaui sejarah, Kristus sebagai “hakikat jiwa universal” setiap manusia apapun agamanya. Terhadap Sang Budha, saya tidak tidak tertarik untuk mengenal Sang Budha sebatas sebagai seorang manusia, tetapi terlebih tertarik untuk mengenal dan menghargai “hakikat kebudhaan” dalam segala makhluk, seperti halnya saya tertarik untuk menemukan “hakikat kekristusan” dalam setiap orang.

Saya menemukan bahwa ajaran Cinta Kasih bukanlah ajaran khas agama Katolik atau Kristen, begitu pula ajaran Pengosongan-Diri atau Pelepasan-Diri bukanlah ajaran khas agama Budha. Pengosongan-Diri dan Cinta Kasih ada dalam setiap tradisi agama.

DS: Saya rasa dengan Cinta Kasih maka ke-4 belenggu itu menjadi nisbi dan sama sekali bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan, karena hanya melahirkan kerumitan yang membuat umat kebanyakan cuma terdiam tidak mengerti.

JS: Anda memiliki asumsi bahwa dengan mengembangkan Cinta Kasih, maka keempat belenggu–kelekatan pada body, mind and soul, termasuk kelekatan pada tuhan dalam ego/keakuan—bersifat nisbi.

Pernyataan Anda memiliki persoalan “metodologis”: bagaimana ada Cinta Kasih apabila terdapat kelekatan dan ego/keakuan? Bila ada ajaran yang mengatakan bahwa ada Cinta Kasih tanpa harus melepaskan kelekatan dan ego/keakuan, itu bukan ajaran Kristiani, juga tidak ada dalam ajaran spiritual dari semua tradisi religius yang lain.

Bagaimana kita, Anda dan saya sebagai orang biasa yang memiliki banyak kelekatan ini, bisa hidup dengan Cinta Kasih apabila kita memandang belenggu kelekatan itu bukan sebagai masalah? Pandangan Anda justru bertentangan dengan ajaran Kristus sendiri, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 17:33) “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anaknya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.” (Lukas 14:26)

Anda menarik kesimpulan bahwa belenggu kelekatan tersebut bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan. Anda mengungkapkan alasannya, yaitu karena upaya untuk membersihkan diri dari kelekatan dan ego/keakuan hanya akan menambah kerumitan dan tidak bisa dimengerti.

Apabila Anda memandang “jalan pelepasan” terlalu rumit dan tidak bisa dimengerti, barangkali jalan pelepasan itu memang bukan jalan Anda sekarang. Tetapi apabila Anda mengambil kesimpulan bahwa “jalan pelepasan” itu adalah “jalan Budha” dan bukan “jalan Kristus”, pandangan Anda salah besar.

Kelekatan dan ego/keakuan adalah musuh terbesar Cinta Kasih. Cinta ada apabila kelekatan dan ego/keakuan tidak ada. Keduanya tidak bisa berjalan beriringan. Apabila orang-orang Kristiani merasa lebih unggul dari pengikut agama lain karena memiliki Cinta Kasih tetapi tidak melepaskan kelekatan dan ego/keakuannya, maka itu hanyalah omong kosong belaka.

Biarkan yang siap untuk mengerti akan mengerti dan yang tidak mau mengerti tetap tidak mengerti.

Peace n Blessings…