Apa tandanya bahwa hubungan-hubungan atau relasi-relasi kita sudah mencapai tahapan spiritual atau bersifat spiritual? Suatu hubungan atau relasi disebut spiritual apabila relasi tersebut membawa orang kepada pencerahan.

Seperti apakah orang yang tercerahkan itu? Orang yang tercerahkan adalah orang yang mampu “melihat segala hal seperti apa adanya”.

“Apa artinya mendapat pencerahan?” seorang murid bertanya kepada gurunya.
“Melihat.”
“Apa maksudnya?”
“Melihat kesia-siaan pemuasan keinginan; melihat kosongnya rasa kebahagiaan; melihat kedangkalan dan ketidaknyamanan dalam hubungan-hubungan.”
Murid itu menjawab, “Tetapi, bukankah itu sikap pesimis dan negatif?”
“Oh tidak. Itulah kebebasan dan kegembiraan, seperti kebebasan dan kegembiraan seekor burung yang terbang di langit tanpa batas.”

Hidup dalam pencerahan adalah hidup bebas dari penderitaan dan hidup bebas penderitaan menyimpan banyak kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual itu bisa berupa kebebasan dan kegembiraan, ketulusan dan kejujuran, pengertian dan penerimaan, kasih dan kesetiaan, kemurnian dan kedamaian, kepercayaan dan kekuatan.

Pernahkah Anda berjumpa dengan seseorang dan merasakan getaran vibrasi kedamaian, kebebasan atau kegembiraan yang terpancar dari dirinya? Barangkali pernah. Itu hal yang biasa. Getaran vibrasi seperti itu juga dirasakan oleh para murid sejak perjumpaan awal dengan Yesus. Setelah diperkenalkan oleh Yohanes Pemandi di Sungai Yordan, orang-orang yang nantinya menjadi murid Yesus tergerak untuk mengenal siapa Yesus. Mereka bertanya di mana Dia tinggal. Setelah kesibukan harian sudah selesai, pada jam 16.00 mereka bertandang di tempat di mana Jesus tinggal. Di sana lah berlangsung dialog yang subur dan dalam. Dalam perjumpaan pribadi tersebut, mereka merasakan getaran vibrasi kekuatan-kekuatan spiritual dari seseorang yang bebas konflik sama sekali dalam dirinya. Impresi mereka dari perjumpaan dengan Yesus terekspresikan dalam pengakuan Andreas, “Kami telah menemukan Kristus.” (Yohanes 1:42) Bukan Jesus yang mereka sebut, tetapi Kristus.

Pencerahan dan energi-energi spiritual seperti kebebasan dan kegembiraan, kesucian dan kedamaian dari Kristus terpancar lewat pemikiran, kata-kata, sikap dan perilakuNya. Disposisi hatiNya mewarnai setiap perjumpaan dengan orang-orang di sekitarnya dan orang-orang di sekitarnya merasakan getaran vibrasi spiritualNya.

Apabila kita dipertemukan dengan orang lain atau dengan segala hal dan membuat kita terhubung secara lebih dalam sehingga kita memahami halnya melampaui batas-batas konsep atau pemikiran kita sendiri, maka moment-moment perjumpaan itu menjadi moment pencerahan.

Persoalannya, mengapa hubungan-hubungan kita jarang menjadi moment pencerahan. Mengapa hubungan kita satu dengan yang lain lebih banyak diwarnai oleh konflik, ketegangan dan rasa tidak nyaman? Ketika timbul rasa tidak nyaman, mengapa tidak segera ditransformasikan, sehingga kita kehilangan begitu banyak moment pencerahan?

Kita kehilangan banyak moment pencerahan dalam hubungan-hubungan karena kita tidak bercermin untuk melihat ke dalam diri sendiri. Perhatian kita lebih banyak terserap keluar.

Adalah fakta bahwa relasi-relasi kita dengan orang lain seringkali merupakan manifestasi atau proyeksi dari relasi-relasi kita dengan bagian-bagian yang membentuk “diri”. Ingatan, pikiran, keinginan, kehendak, ketakutan, harapan–semua itu–adalah pecahan-pecahan dari energy kejiwaan yang membentuk “diri”. Selama pecahan-pecahan energy ini aktif bekerja, maka konflik, ketegangan dan rasa tidak nyaman sudah kita alami sebelum kita membuka relasi-relasi ke luar dengan orang lain. Ketika pecahan-pecahan energy tersebut berhenti bekerja, maka energy kedamaian akan timbul secara alamiah.

Apabila kita menemukan kedamaian batin, maka kita akan mudah menemukan kedamaian dalam perjumpaan dengan sesama kita. Sebaliknya, apabila kita mengalami konflik batin dengan diri sendiri, kita juga akan mudah menciptakan konflik dalam relasi-relasi dengan orang lain.

Apa yang Anda pikirkan dan rasakan pastilah mempengaruhi relasi-relasi Anda. Apa yang Anda rasakan dan pikirkan tentang relasi-relasi Anda adalah perwujudan dari apa yang Anda pikirkan dan rasakan tentang diri sendiri. Entah Anda membenci atau mencintai seseorang, itu sepenuhnya adalah reaksi dari keterkondisian Anda. Apabila terdapat kebencian terhadap orang lain, itu berarti lebih dulu terdapat kebencian terhadap diri sendiri. Apabila terdapat rasa suka terhadap orang lain, itu berarti terdapat rasa suka terhadap diri sendiri. Apabila Anda mudah menemukan keindahan setiap kali Anda membuka mata dan telinga, maka sesungguhnya Anda lebih dulu sudah menemukan keindahan dalam diri Anda sendiri.

Apa yang terjadi apabila kita membebaskan diri dari persepsi pikiran terdistori yang mempengaruhi relasi-relasi? Batin yang bebas akan otomatis mempengaruhi relasi-relasi dan moment-moment relasi bisa menjadi moment yang menyembuhkan, mencerahkan dan menguatkan.

Buatlah daftar apa yang mengganggu Anda tentang orang lain. Bisa jadi Anda merasa jengkel, marah, kecewa, tidak puas, dst. Bacalah ulang daftar tersebut dan terapkan pada diri Anda sendiri. Apabila Anda jujur maka Anda akan menemukan fakta bahwa apa yang Anda keluhkan tentang orang lain sesungguhnya adalah keluhan tentang diri Anda sendiri.

Tidak mudah melihat bahwa keluhan tentang orang lain sesungguhnya adalah keluhan tentang diri Anda sendiri. Apabila Anda melihat kenyataan tersebut, maka Anda ditunjukkan di area mana Anda masih harus bertumbuh. Dengan demikian cara terbaik agar kita bisa tumbuh adalah dengan membuka diri terhadap relasi-relasi. Semakin banyak kita berinteraksi dengan orang lain, semakin banyak kita belajar tentang diri kita sendiri.

Relasi adalah seperti cermin. Lewat relasi kita mengenal diri kita. Apabila kita memahami, menerima dan mencintai seluruh bagian diri kita apadanya, maka kita akan mudah memahami, menerima dan mencintai orang lain seperti apa adanya mereka. Semakin selaras hidup batiniah, maka semakin selaras relasi-relasi Anda dengan orang lain.

Pernahkah Anda merasa tidak bahagia karena hubungan dengan pasangan Anda sedang buruk, entah pasangan hidup, pasangan bisnis, pasangan main, dst? Mengapa begitu? Mana yang sesungguhnya lebih dulu terjadi: Anda tidak bahagia karena hubungan sedang buruk atau hubungan menjadi buruk karena Anda tidak bahagia?

Apabila kita tidak bisa bahagia karena hubungan dengan pasangan sedang buruk, itu berarti kita memegang konsep tentang kebahagiaan yang terbatas (happiness limited). Kebahagiaan yang ditentukan oleh baik atau buruknya hubungan–hubungan adalah kebahagiaan yang terbatas. Sedangkan kebahagiaan yang tidak dikondisikan oleh baik atau buruknya hubungan-hubungan adalah kebahagiaan tak-terbatas (happiness unlimited).

Mana yang lebih menarik buat Anda: Anda tidak bahagia dan berjuang untuk memperbaiki hubungan yang buruk dengan orang lain supaya Anda bahagia ataukah Anda merasa perlu merealisasikan kebahagiaan tak-terbatas sebagai langkah pertama sebelum Anda memperbaiki hubungan Anda dengan orang lain?

Tidak mungkin Anda bisa memperbaiki hubungan-hubungan yang sedang didera konflik apabila Anda sendiri tidak bebas dari konflik dengan diri sendiri. Anda musti membereskan konflik-konflik dengan diri Anda sendiri. Itulah langkah pertama dan terakhir. Pada moment Anda bebas dan bahagia, konflik dengan diri sendiri berakhir, maka relasi-relasi keluar dengan orang lain akan terkoreksi dengan sendirinya.

Orang-orang yang bermasalah dengan kita atau hal-hal yang mengganggu kita seringkali justru menjadi guru yang paling baik. Lewat itu semua, kita bisa bercermin untuk melihat wajah kita sendiri. Dengan cara demikian kita menempatkan hubungan-hubungan kita dengan segala sesuatu sebagai hubungan spiritual.

Ada teks kuno dari seorang guru Zen abad 13, Dogen (1200-1253), yang barangkali bisa menambah aspirasi. Bunyinya begini, “Mempelajari Jalan Buddha (baca: Jalan Pencerahan) adalah mempelajari diri sendiri. Mempelajari diri sendiri adalah melupakan diri sendiri. Melupakan diri sendiri adalah dengan dicerahkan oleh segala hal yang tak-terhitung banyaknya.”

Semua makhluk pada hakikatnya adalah Buddha dan semua orang pada hakikatnya adalah Kristus. Buddha atau Kristus adalah manifestasi sempurna dari Pencerahan dan Pencerahan Buddha atau Pencerahan Kristus termanifestasi dalam hubungan-hubungan dengan segala hal yang tak-terhitung banyaknya.

Apabila kita mampu menyentuh dimensi ini, maka hubungan-hubungan kita, termasuk hubungan dengan orang atau hal yang paling sulit sekalipun, menjadi moment-moment pencerahan.* (js)