FYWS, 47 tahun, Wiraswasta, Surabaya

Sudah 5 kali saya mengikuti Retret Meditasi yang dibimbing Romo Sudrijanta. Retret Meditasi pertama kali tahun 2010 dan yang terakhir kali tanggal 1-5 Oktober 2014 di Claket, Pacet, Jawa Timur.

Lewat tulisan ini, saya bermaksud ingin membagikan pengalaman meditasi untuk saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Apa yang saya rasakan 5 tahun lalu sebelum saya mengenal Meditasi Tanpa Objek (MTO)? Saya merasakan keterpisahan antara kehidupan dan pikiran atau batin saya. Saya rindu kedamaian batin. Kedamaian batin tersebut saya cari dengan cara mengolah daya pikir dan menekan batin. Saya tidak berhenti untuk selalu mencari dan mencari, tetapi sulit untuk merasakan kedamaian tersebut.

Untuk bisa mengalami kedamaian, sesungguhnya batin sudah mengirimkan “tanda” untuk diketahui. Melalui Meditasi yang diajarkan Romo, saya melihat lebih jelas mengenai pola pikir dan batin yang terkondisi yang selalu menyuarakan sesuatu. Pikiran dan batin yang terkondisi ini membuat kehidupan yang saya jalani terasa tidak memuaskan. Setelah belajar berbagai metode meditasi dalam kurun waktu yang relative lama, barulah saya menyadari bahwa pokok persoalannya terletak pada kurangnya intensitas dalam menangkap objek yang disadari secara terus-menerus hingga objek tersebut lenyap dengan sendirinya.

Selain Meditasi Kristiani, saya juga mendalami meditasi konsentratif atau Samatha dalam Buddhisme. Pada mulanya, saya merasakan kelelahan, karena saya mengandalkan konsentrasi untuk mengendalikan buah-buah pikiran yang selalu bermunculan dan melompat ke sana ke mari.

Setelah lama saya mengembangkan meditasi konsentratif atau meditasi yang berfokus terhadap suatu objek, mulailah saya berlatih MTO. Pengalaman meditasi fokus sebelumnya sangatlah membantu dalam Meditasi Tanpa Objek. Saya dapat melihat “objek” tanpa terlompati, tidak bereaksi dengan menilai. Saat pengamatan menguat, biasanya saya mengalami kesesakan sebelum “objek” tersebut lenyap. Kesesakan tersebut adalah manifestasi dari keterbatasan pikiran, keterkondisian batin, reaksi suka dan tidak suka.

Terasa makin hari batin makin damai. Di tengah hidup keseharian, terdapat moment-moment damai yang tak terkatakan.

Dahulu saya mengira bahwa di “titik nol”, saya hanya akan bertemu rasa bosan. Tetapi semakin banyak mengalami “titik nol”, terasa justru makin damai karena kita dilepaskan dari keterbatasan pikiran dan keterkondisian batin. Kita menjadi mudah menerima segala sesuatu sebagai baik adanya. Bebas batin ini membahagiakan. Itulah esensi pencerahan.

Salam hening untuk semua makhluk.

Medio Desember 2014