Yth. Romo Sudri,

Saya sempat merasa ada kemajuan dengan tiap hari bermeditasi dan rutin berdoa termasuk doa rosario, doa mohon Roh Kudus. Ada pengamatan tentang gerak pikiran dan kemunculan emosi saya. Saya merasa lebih ringan dan punya harapan. Namun, dalam periode ini, ada juga efek samping yang saya rasakan, kemunculan mimpi-mimpi yang begitu kuat dan masih ada residu emosinya bahkan setelah saya bangun tidur. Ini saya alami juga waktu retret meditasi dengan Romo. Saya bertanya-tanya apakah saya telah melakukannya dengan cara yang tepat atau saya hanya menekan bawah sadar saya. Namun saya tetap berusaha menekuni olah kesadaran dan doa karena saya merasa dalam aktivitas sehari-hari saya bisa tenang.

Namun kemudian muncul pemicu kekhawatiran saya. Dalam upaya memantau proses SK saya, saya mendapati ketidakpastian yang mengkhawatirkan karena lambatnya dan ketidakpastian kinerja birokrasi pemerintah mengenai SK (saya sudah 6 bulan menunggu kabar SK sebagai dasar panggilan kerja secara resmi dan dari monitoring saya jika situasi tetap begini ada kemungkinan 18 bulan lagi seluruh proses baru selesai). Ada gerak pikiran dan emosi kekhawatiran yang kuat tentang bagaimana saya bertahan hidup di Jakarta dengan ketidakpastian ini, apa lagi yang bisa kamu lakukan, ayolah ini soal bertahan hidup. Sementara itu saya sudah berusaha mencari temporary job dan belum berhasil.

Saya masih melakukan meditasi dan doa tapi saya menemukan kehampaan yang menyesakkan. Berbeda dari kondisi saya dua tahun lalu, saat ini saya sama sekali tidak punya satupun hal-hal yang saya butuhkan untuk status hidup mapan dan mandiri: tidak ada kepastian status pekerjaan, beasiswa, penghasilan yang bisa dibanggakan, rumah yang layak, pasangan hidup, komunitas tempat bertumbuh, dll. Emosi mulai muncul tak terkendali. Lalu saya mengalami stagnasi. Saya merasa dalam kondisi tidak ingin melakukan apapun karena mempunyai harapan artinya berisiko kecewa secara mendalam.

Pada satu titik, saya menyadari mungkin inilah mekanisme bertahan diri (self-defence mechanism) yang begitu kuat untuk melindungi saya dari perasaan terluka/kekecewaan/kepahitan/ketakutan. Saya punya kecenderungan menarik diri jika saya merasa secara psikologis saya tidak aman dalam situasi tertentu. Misalnya acara reuni atau seminar yang dihadiri orang-orang yang punya segala simbol kesuksesan. Saya peka terhadap apa yang orang katakan dan apa yang orang tidak katakan dengan bahasa tubuhnya. Saya peka terhadap penolakan dan kegagalan. Saya seperti tanaman putri malu yang sangat sensitif terhadap rangsang dari luar. Pemicu masih punya pengaruh meskipun saya bermeditasi dan berdoa. Saya kira inilah penghalang dalam diri saya yang belum tuntas tertembus.

Mohon kiranya Romo dapat membantu saya.

Salam,
NS
—–

Dear NS,

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Pertama, sikap meditasi. Setiap kali cobalah mengecek apakah sikap Anda dalam meditasi sudah benar. Sikap meditasi yang benar seharusnya bebas dari “kebencian, keinginan dan ego”. Apabila ketiga hal tersebut muncul dalam meditasi, silahkan setiap kali disadari dan biarkan lenyap secara alamiah.

Kedua, tentang mekanisme pertahanan diri. Apa dari hidup Anda yang perlu untuk dilindungi kalau bukan tubuh fisik Anda dan hal-hal fisik lain untuk menopang kelangsungan hidup Anda seperti kepastian pekerjaan, pendapatan, rumah yang layak, dst? Tetapi seringkali kita bukannya mau melindungi tubuh dan hal-hal fisik lain yang kita butuhkan untuk menopang hidup, melainkan mau melindungi rasa nyaman psikologis atau kenikmatan psikologis yang melekat pada hal-hal fisik. Kenikmatan psikologis dijadikan hal yang lebih utama daripada kebutuhan fisik. Maka sering-seringlah berlatih untuk melampaui tubuh fisik dan hal-hal fisik lainnya. Tahapan kesadaran yang melampaui tubuh dan hal-hal fisik akan membebaskan Anda dari perasaan terluka, kekecewaan, kepahitan, ketakutan dan berbagai bentuk kepedihan.

Ketiga, lakukan pelayanan kepada sesama dan segala makhluk. Kecenderungan Anda untuk hanya memikirkan kepentingan Anda bukan hanya makin membuat Anda hidup dalam cangkang ego yang sempit dan membuat makin terasing dari dunia, tetapi juga membatasi kekuatan-kekuatan kehidupan yang mau mendatangkan kebaikan bagi Anda. Maka berlatihlah untuk setiap kali memberi atau berbagi kebaikan kepada sesama dan segala makhluk, melalui pikiran, kata-kata, sikap dan tindakan. Apabila Anda memberi berkah, maka berkah Anda otomatis bertambah. Anda hanya akan menerima sejauh mana Anda memberi.

Peace and Blessings,
js