“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia …” (Mateus 18:15)

Apabila pernyataan dari kutipan tersebut di atas dirumuskan ulang secara lebih positif, bunyinya akan seperti ini, “Bantulah saudaramu untuk kembali kepada kesucian, kedamaian dan kekuatan yang menjadi esensi dari jiwa!”

Apa bedanya antara jiwa yang kuat dan jiwa yang lemah. Orang yang dalam kesadaran murni menghendaki sesuatu terjadi dan menjadi kenyataan, kita menyebut jiwa orang tersebut kuat. Sebaliknya orang yang menghendaki sesuatu terjadi tetapi tidak pernah terjadi, kita menyebut jiwa orang tersebut lemah.

Apabila Anda dipertemukan dengan orang yang jiwanya lemah, setiap kali jatuh pada kelemahan yang sama atau jatuh dari kelemahan yang satu ke kelemahan yang lain, pertolongan terbaik seperti apa yang bisa Anda berikan kepadanya?

Anda bisa menolong dengan memberikan energy spiritual yang terbaik. Penerimaan, pemahaman dan apresiasi adalah tiga macam energy spiritual dasariah yang sangat dibutuhkan untuk menolong jiwa-jiwa.

Pertama-tama kita perlu menerima bahwa apapun yang dilakukan orang lain adalah benar menurut keterkondisiannya. Apabila anak-anak Anda melakukan hal-hal yang buruk atau jahat dalam ukuran umum, misalnya, tindakan mereka adalah benar menurut keterkondisian mereka. Menerima bukan berarti setuju dengan apa yang mereka pikirkan atau lakukan. Menerima keadaan mereka seperti apa adanya membuat kita akan mampu memahami bahwa tindakan mereka hanyalah buah dari keterkondisian mereka. Dengan mengembangkan kemampuan untuk menerima dan memahami, maka kita akan mudah melihat kekuatan-kekuatan positif yang tersembunyi dalam diri mereka dan membangkitkan kekuatan-kekuatan tersebut dengan memberikan apresiasi.

Dulu ketika saya masih kecil, pertama kali saya belajar naik sepeda motor Honda GL kelas 3 Sekolah Menengah Pertama. Saya adalah anak ke-8 dari 10 bersaudara dan kakak saya nomor 2 adalah orang yang mengajari saya bagaimana mengendarai sepeda motor Honda. Ia meminta saya duduk di depan dan ia membonceng di belakang. Karena baru pertama kali mengendarai motor Honda, sebentar-sebentar motor mogok karena gasnya kurang kuat atau kurang percaya diri. Karena sudah terlalu sering mogok, saya tidak enak dan beberapa kali berkata, “Saya tidak bisa.” Saya berharap kakak saya mengambi kembali kendali motornya. Tetapi kakak saya selalu mengatakan dengan sabar, “Kita coba lagi, Kamu pasti bisa.” Kami menyusuri jalan Bulu ke arah Jalan Raya Magelang di Salam sejauh sekitar 5 km dan motor mogok belasan kali. Akhirnya sampai juga di ujung Jalan Raya Magelang dengan lega. Kelegaan hanya berlangsung sebentar karena kakak saya mengatakan harus pergi ke Slawi saat itu pula dengan bus sehingga saya harus pulang sendiri dengan motornya. Setelah ambil nafas dalam-dalam, saya hidupkan mesinnya dan saya pulang sendirian. Apa yang terjadi? Luar biasa. Saya sampai di rumah tanpa mogok satu kali pun. Saya lalu memberi tahu kakak saya bahwa saya pulang tanpa mogok dan mengatakan, “Hari ini saya bertemu dengan seorang guru yang hebat.” Ceritanya barangkali akan berbeda apabila anak kecil dalam kisah di atas dipersalahkan atau dibodoh-bodohi setiap kali motor yang dikendarainya mogok.

Penerimaan, pemahaman dan apresiasi yang paling baik bisa kita berikan kepada setiap jiwa. Kita tidak mungkin melihat perubahan mendasar selama jiwa lemah atau tidak memiliki kekuatan dari dalam. Dalam jiwa yang lemah, segala bentuk hukuman, tuntutan, atau paksaan dari luar untuk berubah tidak mendatangkan perubahan. Maka pertolongan yang paling baik adalah berikan dukungan dan energy spiritual yang paling baik kepadanya. Jiwa-jiwa yang lemah tidak membutuhkan banyak kata-kata nasehat, melainkan kekuatan spiritual. Dengan menerima dukungan dan energy spiritual yang paling baik, jiwa yang lemah akan menjadi kuat dan jiwa yang kuat akan mendatangkan perubahan mendasar secara alamiah.

Dalam berelasi dengan jiwa-jiwa yang lemah, kita perlu ingat ini: “Saya harus memberi dan bukan mengambil.” Apabila kita tidak memahami orang yang sedang bergulat dan kita hanya menuntut, memaksa, meminta untuk berubah, maka kita tidak memberi, tetapi mengambil. Apabila kita menunggu orang lain melakukan sesuatu yang kita harapkan dan barulah kemudian kita memberi, itu namanya bukan memberi tetapi mengambil. Apabila kita memberi karena kita merasa terganggu dengan kehadiran atau permintaan orang lain, maka itu bukan tindakan memberi, tetapi mengambil. Apabila Anda mengambil, jiwa Anda sendiri lemah dan jiwa yang lemah tidak mungkin bisa member berkah.

Mari kita merealisasikan kebenaran ini, bahwa kita adalah jiwa-jiwa pemberkah dan Allah adalah Sang Pemberkah Utama. Untuk bisa menjadi pemberkah, jiwa harus benar-benar penuh. Bagaimana caranya agar jiwa bisa selalu penuh dengan berkah?

Pertama, setiap pagi, kita harus menyediakan waktu dalam keheningan doa untuk membiarkan berkah dari Allah Sang Pemberkah Utama memenuhi jiwa kita. Kita hanya boleh menerima berkah dari Sang Pemberkah, bukan dari sesama makhluk. Kita boleh menarik berkah apapun yang kita butuhkan. Kristus menegaskan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu.” (Mateus 7:7) Apalagi jiwa-jiwa bertemu dalam kesadaran akan kehadiran Allah Sang Pemberkah dan sepakat untuk “meminta” atau merealisasikan berkah yang sungguh dibutuhkan, maka Allah Sang Pemberkah akan menganugerahkan berkahnya. (Bdk Mateus 18:19)

Mengapa jiwa kita harus dipenuhi dengan kekuatan-kekuatan spiritual setiap pagi? Seperti halnya kita perlu mengawali hari dengan tenaga yang penuh untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sehari-hari, begitu pula jiwa kita harus mencapai kepenuhan di awal hari agar jiwa kita bisa berfungsi sebagai pemberkah secara penuh. Apabila keheningan doa setiap pagi kita lupakan, jiwa tidak memiliki kekuatan penuh dan tidak mungkin berfungsi menjadi pemberkah. Akibatnya, jiwa makin menjadi lemah dan cenderung akan mengambil dari sesama makhluk untuk mengisi kekosongan dirinya.

Berkah apa yang diminta? Pertama-tama bukan hal-hal fisik, melainkan hal-hal rohani, seperti bertambahnya rasa damai, kesucian, ketenangan, kestabilan, kekuatan, antusiasme, kasih, kebahagiaan, kebijaksanaan, penerimaan, pemahaman, dst. Hal-hal tersebut hanya bisa kita terima dari Allah Sang pemberkah, bukan dari sesama makhluk.

Terhadap sesama dan segala makhluk, sejauh mungkin kita berlatih untuk selalu memberi, bukan mengambil. Terhadap Sang Penganugerah, kita berlatih untuk menerima anugerah sampai penuh. Bukan sebaliknya: dari sesama makhluk kita mengambil, kepada Sang Pencipta kita memberi.

Apabila kita memberi sesungguhnya kita menerima. Kita hanya menerima sejauh mana kita memberi. Siapakah yang pertama kali menerima kebaikan yang kita berikan? Ketika kita memberi kebaikan, kitalah yang pertama kali menerima kebaikan; barulah kemudian orang lain. Ketika orang lain menerima kebaikan yang kita berikan, anugerah kebaikan itu akan kembali kepada kita dan membuat anugerah kebaikan kita akan bertambah.

Syarat kedua agar kita kembali menjadi jiwa yang penuh dan selalu menjadi pemberkah adalah menjaga agar anugerah-anugerah yang sudah kita terima setiap pagi tidak kita bocorkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau sia-sia. Kebocoran terjadi ketika memiliki keinginan-keinginan yang sia-sia dan rintangan-rintangan batin yang lain. Ketika kita bebas dari kebocoran-kebocoran dari saat ke saat, jiwa berfungsi sebagai pemberkah secara penuh dan konstan.

Kita perlu belajar untuk melihat dalam segala sesuatu apa esensinya, bukan perluasannya. Ada seorang guru mengajari 3 muridnya bagaimana melepaskan anak panah pada titik sasaran. Guru bertanya, “Ketika ada burung di depan kalian, kapan saat tepat kalian melepaskan anak panah ke objek sasaran?” Murid pertama menjawab, “Pada saat saya melihat pergerakan pada objek sasaran, saat itu adalah saat tepat saya melepaskan anak panah.” Murid kedua berkata, “Pada saat saya melihat entah kepala, tubuh atau ekornya, saat itu adalah saat tepat saya melepaskan anak panah.” Murid yang ketiga mengatakan, “Pada saat saya yakin saya sampai pada titik kestabilan dan melihat titik matanya, saat itu adalah saat tepat saya melepaskan anak panah.” Guru tahu muridnya yang pertama dan kedua akan gagal dan murid yang ketiga akan berhasil.

Pandangan seorang pemanah yang terlatih tidak tertuju pada tubuh burung, tetapi pada titik mata burung. Tubuh burung adalah perluasan dan mata burung adalah titiknya. Melihat titik adalah melihat esensinya. Apa yang Anda lihat ketika seorang perempuan, misalnya, datang kepada Anda? Apakah Anda melihat lentik matanya, kemilau rambutnya, bibirnya, buah dadanya, kakinya? Itu semua adalah perluasan, bukan esensinya? Apa esensinya? Ia adalah jiwa; ia adalah kesadaran murni. Itulah titiknya; itulah esensinya. Ia tidak berbeda dengan siapa kita yang sesungguhnya.

Identitas sebagai perempuan atau laki-laki, buruk rupa atau rupawan, suami atau isteri, anak atau orang tua, orang berpunya atau tidak berpunya, berpendidikan tinggi atau rendah, semua itu adalah perluasan. Apabila penglihatan kita tertambat pada perluasannya, maka batin kita tergoncang dan tidak stabil. Pada saat kita mencapai titik kestabilan dan kita melihat titik jiwanya, saat itu adalah saat tepat kita melepaskan panah kekuatan spiritual untuk menolong jiwanya.

Pandangan kita harus tertuju pada satu titik. Titik itu adalah “Aku musti mencapai titik kestabilan. Aku dan orang lain tidaklah berbeda. Kita adalah jiwa; kita adalah kesadaran murni. Aku harus selalu memberi dan jangan pernah mengambil. Yang aku berikan adalah energy spiritual yang terbaik. Untuk bisa memberi, jiwa harus selalu penuh. Untuk bisa penuh secara konstan, jiwa harus bebas dari keinginan yang sia-sia dan rintangan-rintangan batin.”

Kita perlu melatih ini sekarang dan seterusnya, dari saat ke saat, sehingga ketika kita mendengar suara penderitaan dari jiwa-jiwa yang datang, kita mampu memberi pertolongan terbaik. Dan ketika kita mendengar jeritan kepedihan dari jiwa kita sendiri, kita mampu dengan cepat mengatasinya, secepat kita melepaskan anak panah pada titik sasaran.* js