Mungkinkah kita hidup setiap saat dengan batin yang bebas-merdeka? Kita tahu apa artinya bebas dari tekanan, bebas dari ancaman, bebas dari eksploitasi, dst. Kita tahu apa artinya bebas untuk menerima atau menolak sesuatu, bebas berpendapat, bebas memeluk suatu kepercayaan, dst. “Bebas dari” atau “bebas untuk” adalah satu hal dan “bebas sepenuhnya” adalah hal yang lain.

“Bebas dari” dan “bebas untuk” adalah bentuk kebebasan yang terbatas dan terkondisi; “bebas sepenuhnya” adalah kebebasan yang tak-terbatas dan tak-terkondisi. Kebebasan yang tak-terbatas dan tak-terkondisi adalah ciri alamiah dari jiwa. Itulah yang dimaksudkan dengan istilah Libertas Cordis.

Bagaimana mungkin merealisasikan kebebasan tak-terbatas dan tak-terkondisi yang membuat kita bertindak secara benar dan tepat sasaran tanpa penyimpangan-penyimpangan dari saat ke saat? Agar halnya lebih mudah dipahami, mari kita melihat kasus berikut ini. Seorang perempuan professional muda, umur 30-an tahun, religius, cerdas dan energik dalam ukuran umum, berkisah tentang dirinya.

“Saya mengikuti retret, dengan harapan dapat menemukan kekuatan untuk menyembuhkan diri karena saya merasa sakit secara emosional. Saya punya masalah dengan intensitas dan fluktuasi emosi terutama ketika hal-hal terjadi di luar kendali atau keinginan saya. Saya sangat tidak stabil dalam hal emosi dan ketika hal ini terjadi sangat mempengaruhi kemampuan saya berpikir dan bernalar. Hal ini juga bisa membawa saya pada titik-titik ekstrim: saya bisa sangat menyayangi seseorang dan sangat membenci orang lain.

Masalah saya yang lain adalah penyesalan masa lalu. Saya pernah menolak pekerjaan di lembaga donor dengan lingkungan kerja bergengsi serta kesempatan traveling dengan gaji tinggi karena mempertimbangkan kesempatan penelitian di tempat kerja lainnya. Ternyata hal itu tidak saya dapatkan. Saya kecewa berat dan tidak bisa lepas dari penyesalan itu.

Saya mencoba memahami masalah saya ini lewat meditasi dan doa. Dalam rentang waktu dari April 2014, saya mengunjungi biara Trapis di Gedono, membaca kitab suci, berdoa, berbicara dengan orang yang mengerti saya, jalan-jalan di alam, dan ikut berbagai retret dan meditasi. Sekitar tiga minggu setelah retret, saya masih rutin meditasi namun ketika saya merasa tidak ada perubahan dan saya tidak melihat solusinya, saya mulai menjerit dalam batin, kemudian saya mulai tidak rutin dan putus asa.

Saya tahu masalah saya, dan saya tahu saya harus menyelesaikan masalah saya tapi saya benar-benar tidak tahu caranya, harus mulai dari mana. Saya sepertinya memahami masalah saya tapi tidak berdaya menyelesaikannya, bahkan meskipun saya mempraktikkan meditasi dan doa. Saya kehilangan keyakinan akan diri saya, dan terkadang Tuhan. Dan dalam situasi ini, saya merasa lumpuh karena bahkan untuk keluar dari diri saya sendiri, saya tidak sanggup.”
Apabila Anda adalah si perempuan muda yang mengalami persoalan tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Anda mengalami hal-hal ini: 1)Emosi yang tidak stabil dan berpengaruh dalam berpikir dan bernalar. 2)Rasa sesal dan kecewa yang berlarut-larut. 3)Kejenuhan dan kebosanan karena tidak melihat adanya perubahan, meskipun sudah belajar meditasi, doa, membaca kitab suci, retret, berbicara dengan orang yang mengerti, dan relaksasi. 4)Perasaan lumpuh, merasa tahu masalahnya tapi tidak bisa keluar dari masalahnya.

Mari kita melihat bersama-sama apa pokok persoalan sesungguhnya yang Anda hadapi. Anda merasa lumpuh karena merasa tahu masalahnya tapi tidak bisa keluar dari masalahnya. Apakah Anda yakin Anda tahu masalahnya? Apabila Anda tahu persis pokok persoalannya, Anda dibebaskan seketika dari masalah yang Anda hadapi.Pada hemat saya, Anda tidak tahu kunci masalahnya. Pokok masalahnya bukan pada masalah yang Anda hadapi. Masalahnya bukan pada emosi yang tidak stabil, pikiran dan nalar yang kacau, rasa sesal dan kecewa yang berlarut-larut, dan olah batin yang tidak membawa perubahan. Itu bukan pokok masalahnya. Pokok soalnya juga bukan bahwa Anda tidak tahu cara keluar dari masalah. Pokok masalahnya adalah Anda tidak melihat “cara Anda melihat masalah.” Bagaimana Anda menghadapi masalah itu jauh lebih penting untuk dilihat daripada masalahnya itu sendiri.

Seperti apa Anda menghadapi masalah? Anda menghadapi masalah batin Anda seperti seorang tukang sapu yang tidak bijaksana di pinggir jalan yang selalu terganggu setiap kali dedaunan jatuh dari ranting pohon. Setiap kali dedaunan jatuh, Anda tidak tahan untuk tidak menyapu dan membuangnya. Seperti tukang sapu yang merasa terganggu dengan kotoran-kotoran di jalan, seperti itulah Anda bersikap terhadap masalah-masalah Anda. Setiap kali masalah datang, Anda terganggu dan ingin membuangnya. Artinya, Anda tidak memiliki kearifan dalam memahami sifat batin yang terkondisi, seperti halnya tukang sapu yang tidak bijaksana, yang tidak memahami sifat alamiah dari jatuhnya dedaunan dari ranting-ranting pohon.

Seorang tukang sapu yang bijaksana akan melihat adalah alamiah dedaunan bertumbuh dan ketika sudah menguning akan jatuh ke tanah. Ada saatnya untuk bekerja menyapu dan ada saatnya untuk istirahat dengan tenang. Saat bekerja menyapu, tukang sapu yang bijaksana bukan menyapu untuk membuang kotoran dedaunan, tetapi menyapu untuk mengumpulkan dedaunan yang jatuh ke tanah dan merawatnya menjadi pupuk. Melihat sifat batin yang terkondisi sealamiah seperti tukang sapu yang memahami sifat alamiah dari dedaunan yang tumbuh dan kemudian jatuh ke tanah adalah bentuk kearifan. Apabila terdapat kearifan dalam memahami batin yang terkondisi, maka batin tidak akan terganggu setiap kali masalah datang. Ketika perasaan emosi timbul, itu hanyalah perasaan emosi; ketika pikiran dan nalar menjadi kacau, itu hanyalah pikiran dan nalar yang kacau; ketika rasa salah dan kecewa timbul, itu hanyalah rasa salah dan kecewa; ketika rasa jenuh, bosan, rasa lumpuh datang, itu hanyalah seperti itu.

Kearifan dalam memahami sifat batin yang terkondisi hanya mungkin muncul apabila terdapat kebebasan sepenuhnya. Kebebasan haruslah menjadi langkah pertama dalam melihat, mengamati, menyadari, memahami, atau mengeksplorasi. Mengamati dalam kebebasan, itulah langkah pertama, sekaligus langkah terakhir.

Kebebasan bukan berarti “bebas dari”, bukan “bebas dari emosi yang tidak stabil”, bukan “bebas dari pikiran dan nalar yang kacau”, bukan “bebas dari rasa salah dan kecewa”, bukan “bebas dari rasa jenuh, bosan, rasa lumpuh.” “Bebas dari” adalah sebentuk kebebasan yang terkondisi, kebebasan yang terbatas, sebagai reaksi dari kondisi-kondisi.

Kebebasan sepenuhnya juga bukan “bebas untuk”, bukan bebas untuk melakukan apa saja yang Anda inginkan atau bebas berkeinginan. Kalau Anda suka, Anda bebas untuk menyenangi apa yang Anda suka; kalau Anda tidak suka, Anda bebas untuk menolak atau membuang apa yang Anda tidak suka. Kebebasan seperti itu gampang mengarah pada penyimpangan-penyimpangan.

Jadi, dalam kebebasan sepenuhnya, tidak terdapat keterkondisian dan tidak terdapat penyimpangan-penyimpangan. Dalam kebebasan sepenuhnya, tidak terdapat motif untuk melenyapkan kotoran batin, untuk menyalahkan, untuk menilai atau untuk mengubah. Batin sepenuhnya diam, waspada, peka, stabil, tidak terguncang, tidak terusik. Batin seperti ini mampu bertindak secara benar dan tepat sasaran, tanpa penyimpangan-penyimpangan. Itu adalah gambaran batin yang sepenuhnya bebas, jiwa yang sepenuhnya bebas.

Hanya dalam kebebasan seperti inilah akan timbul kearifan dalam memahami masalah. Hanya dalam kebebasan seperti inilah kebenaran dari setiap masalah bisa ditemukan dan kebenaran itulah yang membuat kita dibebaskan dari setiap belenggu masalah; bukan upaya kita untuk bebas dari masalah.

Apabila tidak ada kebebasan secara actual, maka batin didera oleh konflik dan kontradiksi dalam dirinya sendiri. Anda terjebak dalam permainan untuk melenyapkan setiap masalah dan konflik tersebut akan menguras energy tanpa mendatangkan buah perubahan. Hasilnya, Anda merasa lumpuh.

Semua upaya Anda untuk melenyapkan masalah justru akan memperkuat masalahnya. Apabila doa, meditasi, Kitab Suci, dialog, relaksasi dan berbagai teknik olah batin Anda pakai sebagai sarana untuk melenyapkan masalah, Anda tidak akan pernah menemukan pembebasan sepenuhnya. Meditasi bukan teknik melenyapan masalah, melainkan praktik menyadari adanya masalah. Apabila Anda sadar masih banyak memiliki masalah, praktik meditasi akan tetap relevan. Mengapa tetap relevan? Karena meditasi membuat Anda melihat dalam kebebasan sepenuhnya, dan setiap kali Anda mampu melihat dalam kebebasan, Anda dibebaskan dari setiap masalah yang Anda lihat.

Meditasi bukanlah praktik untuk mencapai pembebasan, melainkan praktik kesadaran yang dilakukan dalam kebebasan. Apabila kebebasan itu sudah ada sebagai langkah pertama, maka Anda tahu bagaimana menemukan kebebasan yang sama dalam setiap langkah berikutnya.

Mengapa Anda mudah terusik atau tergoncang ketika timbul perasaan emosi yang tidak stabil? Mengapa Anda terganggu ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan Anda atau tidak terjadi hal-hal yang sesuai dengan keinginan Anda? Mengapa pikiran Anda tidak bisa berhenti mempersoalkan hal-hal yang terjadi di luar kendali Anda?

Perubahan-perubahan situasi di luar tidak akan mengganggu batin Anda apabila tidak terdapat reaksi-reaksi. Begitu pula perubahan-perubahan situasi di dalam batin Anda dalam bentuk rasa perasaan emosi. Perubahan-perubahan situasi di luar maupun di dalam batin mengganggu Anda karena Anda membiarkan diri Anda diganggu. Gangguan itu Andalah yang menciptakan. Anda adalah pikiran Anda. Anda adalah emosi yang Anda ciptakan dan ingin Anda lenyapkan. Anda adalah daya upaya untuk bebas dari gangguan.

Ada “rasa diri” sebagai korban yang menderita; ada “rasa diri” sebagai pemilik penderitaan; ada “rasa diri” sebagai pelaku pengubah penderitaan. Apabila Anda menemukan “rasa diri” dalam relasi dengan setiap perubahan situasi dan membiarkan “rasa diri” tersebut lenyap, maka perubahan situasi apapun tidak akan mengganggu Anda. Situasi di luar maupun di dalam batin terus-menerus berubah. Kita tidak berhadapan dengan masalah, tetapi hanya berhadapan dengan perubahan situasi, dari situasi yang lama ke situasi yang baru. Jadi lihatlah setiap masalah hanya sebagai situasi yang baru, yang perlu untuk dipahami dan dihadapi secara baru.

Kristus adalah contoh salah satu tokoh yang memiliki gambaran sempurna dari kebebasan penuh. Libertas Cordis seperti ini terbaca dalam diri Kristus, misalnya dalam kesempatan polemic dengan para lawannya. Ia dijebak dengan pertanyaan, namun Ia mampu menjawab secara tepat sasaran. Apa kuncinya yang membuat Kristus mampu menjawab setiap persoalan secara jernih, benar dan tepat sasaran? Kuncinya sudah dikatakan sendiri oleh para pengritiknya. “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan ikhlas mengajarkan jalan Allah. Guru tidak takut kepada siapapun, karena tidak mencari muka.” (Mateus 22:16b) Batinnya tenang, seimbang, jujur, tulus, penuh kearifan dan kebebasan.

Jujur bukan hanya berarti tidak berbohong, tidak menipu, atau tidak mencuri. Jujur juga berarti batin tidak terkondisi oleh ideologi, system kepercayaan atau pemikiran; batin bebas pada dirinya sendiri, terbuka terhadap pengalaman hidup, dari saat ke saat, dan mampu mengekspresikan dirinya dalam kata dan tindakan secara sempurna, murni, alamiah, tak-terkondisi. Seperti halnya orang bebas, Kristus tidak dikondisikan oleh pemikiran atau system kepercayaan pada jamannya. Ia melampauinya.

Tulus hati bukan hanya berarti memberi tanpa mengharapkan imbalan. Tulus juga berarti mampu melihat realitas tanpa penyimpangan. Ketika Anda bicara dari hati, tulus sepenuhnya–selaras dengan siapa Anda yang sesunguhnya, tanpa pura-pura atau tanpa beban emosi, tetapi langsung, murni dan jujur pada diri sendiri—itu adalah ketulusan spiritual.

Mungkinkah kita, Anda dan saya, hidup sepenuhnya bebas-merdeka dari saat ke saat? Mungkinkah kita hidup tanpa keterkondisian dan penyimpangan-penyimpangan dari moment ke moment? Itu bukan pertanyaan spekulatif, melainkan pertanyaan praktis yang menantang kita untuk merealisasikannya. Mari kita realisasikan kearifan dan kebebasan dalam melihat dan bertindak dari saat ke saat.*js