Darimanakah kita—sebagai warga manusia dan warga negara–bisa memulai suatu perubahan sosial dan personal secara mendasar? Kita bisa mulai dengan menggerakkan semakin banyak orang untuk mau memberi, berbagai atau melayani tanpa menuntut imbalan apapun bagi kepentingan yang egois.

Apa yang kita bagikan? Yang kita bagikan pertama-tama adalah apa yang baik, benar, indah dan suci. Suatu pemberian atau pelayanan yang ditujukan bagi perubahan sosial dan perubahan personal yang mendasar pada hakekatnya adalah suatu pelayanan spiritual dan sesungguhnya tidak ada yang lebih spiritual dari pelayanan yang membawa perubahan personal dan perubahan sosial yang mendasar.

Ada banyak jenis pelayanan spiritual dalam berbagai tradisi agama-agama, seperti pelayanan ritual, pelayanan pengajaran dogma-dogma menurut tradisi agama tertentu, pelayanan pengajaran Kitab Suci, pelayanan doa, pelayanan retret, pelayanan administratif bagi anggota jemaat dan pelayanan sosial kemanusiaan.

Di sini, tidak satupun dari jenis pelayanan tersebut saya namakan sebagai pelayanan spiritual selama pelayanan-pelayanan tersebut tidak bebas dari segala kepentingan egois pribadi atau institusi dari penyelenggara pelayanan. Sebaliknya, ada banyak jenis pekerjaan yang dianggap “sekular” atau “tidak spiritual” adalah pelayanan yang paling spiritual apabila pekerjaan tersebut membawa kebaikan atau manfaat melulu bagi pihak lain, tanpa kepentingan egois dari orang atau institusi yang melakukannya.

Tindakan-tindakan seperti mempersiapkan makanan bagi anak-anak, menjalankan pekerjaan sebagai tukang sapu jalan atau wartawan atau pejabat publik, dipersepsikan sebagai “tidak spiritual” oleh khalayak umum. Namun demikian semua tindakan tersebut bisa disebut sebagai bentuk pelayanan spiritual selama tindakan tersebut dilakukan demi keluhuran tindakan itu sendiri tanpa ditunggangi atau dibelokkan oleh kepentingan-kepentingan egois secara pribadi atau institusi.

Ada banyak bentuk kebaikan, namun hanya terdapat dua cara dalam melakukan kebaikan, yaitu kebaikan yang dilakukan dengan “keakuan” (ego) dan kebaikan yang dilakukan “tanpa-keakuan” (tanpa-ego).

Kebaikan yang dilakukan dengan “keakuan” memperkuat gambaran diri bahwa “Aku memberi” dan “Aku melekatkan hatiku pada apa yang aku berikan.” Seringkali orang yang berada pada disposisi ini banyak berbicara secara berlebihan tentang apa yang ia lakukan atau apa yang telah ia berikan dengan maksud untuk menonjolkan diri. Dengan bertindak demikian, ia berharap orang lain mengenalnya sebagai orang yang hebat, penting, berharga, berkualitas, bermartabat, dst.

Orang-orang yang berada pada disposisi ini, seringkali juga berbicara tentang kebaikan, kebenaran, keadilan, ketulusan atau nilai-nilai luhur yang lain. Namun sesungguhnya, kebaikan hanyalah topeng yang sengaja ditampilkan untuk mengeruk keuntungan bagi diri sendiri. Misalnya, mereka yang menawarkan diri sebagai pemimpin negeri atau pejabat public seringkali mengobral janji seperti menggerakkan “pembangunan yang adil”, “persamaan hukum”, dan “peningkatan taraf hidup rakyat”. Dalam kenyataan, setelah terpilih, mereka hanyalah penjarah-penjarah kekayaan negara.

Kebaikan yang dilakukan “tanpa-keakuan” tidak menambah apapun terhadap gambaran diri seseorang sehingga dengan demikian tidak mempertebal rasa “keakuan”. Justru sebaliknya, kebaikan yang dilakukan “tanpa-keakuan” justru memperkuat kekuatan kebaikan itu sendiri, yang berasal dan bergerak dengan kecerdasannya sendiri dan bukan berasal dari kekuatan “keakuan”. Anda tidak bisa memberikan sesuatu sebagai milik Anda, karena sesungguhnya tidak ada yang menjadi milik Anda. Semua energy atau kekuatan berasal dari satu sumber yang sama dan Anda hanya dipakai sebagai medium, kendaraan atau alat agar energy tersebut bisa bermanifestasi di tengah dunia. Tidak ada gambaran diri “Aku melakukan kebaikan”, tidak ada “Aku melekatkan hatiku pada apa yang aku berikan”, tidak ada “Aku harus mengambil keuntungan bagi diri sendiri yang bisa ditarik dari tindakan yang aku lakukan.”

Anda tidak bisa mengklaim bahwa kebaikan yang sedang atau telah dilakukan adalah semata-mata karena Anda. Anda menyadari tidak lebih sebagai alat yang dipakai oleh kekuatan kehidupan agar suatu tindakan kebaikan terjadi, dan kekuatan itu bukanlah milik Anda. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari kesadaran bahwa Anda dipakai sebagai alatnya. Kebahagiaan Anda tidak ditentukan oleh penerimaan orang lain atau oleh besarnya keuntungan yang Anda bisa ambil untuk kepentingan Anda.

Ada banyak kebaikan yang bisa dibagikan melalui berbagai jenis pelayanan. Sekurang-kurangnya terdapat tiga jenis pelayanan.

Pertama, Pelayanan Fisik (Physical Service). Pelayanan yang ditujukan untuk mengubah situasi-situasi fisik agar menjadi lebih baik. Misalnya, pekerjaan fisik harian dalam kehidupan rumah tangga, seperti memasak, mencuci atau membersihkan rumah. Semua upaya untuk menolong orang lain melalui kegiatan karitatif, pemberdayaan, pembelaan, pembangunan infrastruktur, penguatan legislasi untuk melindungi hak-hak politik dan ekonomi rakyat, dan pembangunan struktur atau system yang melayani kepentingan public secara lebih cepat, akuntabel dan transparan, semuanya termasuk di sini.

Kedua, Pelayanan Halus (Subtle Service). Pelayanan yang ditujukan untuk menolong orang lain atau suatu kelompok untuk mengangkat akar masalah dari penderitaan yang dialami disebut sebagai Pelayanan Halus. Semua penderitaan personal atau kolektif pertama-tama tidak disebabkan oleh seseorang atau suatu kelompok atau sesuatu atau situasi di luar, melainkan disebabkan oleh keterkondisian mental atau batin seseorang atau keterkondisian mental kolektif. Perubahan struktur—entah ekonomi, politik, budaya, agama—sangat dibutuhkan. Namun tanpa revolusi mental mendasar pada tingkat kesadaran yang menyentuh dimensi sosio-structural, tidak mungkin penderitaan yang berciri personal sekaligus kolektif bisa dilenyapkan.

Ketiga, Pelayanan Utama (Main Service). Pelayanan yang ditujukan untuk menyambung hubungan yang terputus dengan Jiwanya sendiri dan dengan sesuatu yang Tak-Terbatas serta menolong orang lain untuk terhubung kembali dengan Jiwanya dan dengan sesuatu yang Tak-Terbatas disebut Pelayanan Utama.

Pelayanan Utama ini membawa manusia menyentuh hakekatnya sebagai makhluk spiritual melampaui doktrin-doktrin intelektual dan dogma-dogma agama. Sebagai makhluk spiritual yang ragawi, manusia belajar merealisasikan diri sebagai medium atau instrument bagi yang Tak-Terbatas untuk bermanifest dalam pelayanan di tengah dunia.

Semua bentuk Pelayanan Fisik dan Pelayanan Halus bisa disebut sebagai pelayanan spiritual selama didasari oleh Pelayanan Utama. Ketiga jenis pelayanan ini juga saling berkait satu dengan yang lain. Tidak ada Pelayanan Fisik dan Pelayanan Halus yang bermakna tanpa Pelayanan Utama. Begitu pula tidak ada Pelayanan Utama yang relevan tanpa menggerakkan Pelayanan Fisik dan Pelayanan Halus.

Ketiga pelayanan tersebut akan membawa kepada revolusi sosio-structural, mental dan spiritual. Ketiganya saling berkait dan mengandaikan satu dengan yang lain. Tidak ada revolusi sosio-structural yang membawa perubahan mental tanpa revolusi spiritual. Begitu pula tidak ada revolusi spiritual sejati yang tidak menggerakkan revolusi mental dan sosio-structural. Tanpa revolusi mental dan spiritual, revolusi sosio-structural bisa justru menjadi berbahaya.

Supaya pelayanan spiritual memiliki daya kekuatan transformative dan berjangka panjang, diperlukan beberapa kualitas pokok melalui praktik seperti berikut.

Pertama, praktik menjadi Instrument Tak-Terbatas (Unlimited Instrument). Karena ciri utama pelayanan dari yang Tak-Terbatas (God’service) adalah bersifat tak-terbatas, bisakah kita belajar untuk menjadi Instrument Tak-Terbatas? Pelayanan Tak-Terbatas mencakup tiga jenis pelayanan—fisik, halus dan utama—dan direalisasikan melalui berbagai tindakan—tindakan langsung dari persepsi kesadaran murni, tindakan pikiran, tindakan kata-kata dan tindakan tubuh. Fungsi kita sebagai makhluk spiritual yang bertubuh ragawi, sebagai Instrument Tak-Terbatas, adalah memastikan agar tindakan pelayanan spiritual dalam berbagai tingkatan terjadi.

Kedua, praktik menjadi Instrument yang Konstan (Constant Instrument). Suatu pelayanan disebut konstant apabila berlangsung terus-menerus dari pagi, siang dan malam. Yang seringkali terjadi adalah kebanyakan dari kita tidak cukup memiliki kekuatan spiritual di pagi hari. Kalau pun kita menimba kekuatan spiritual di pagi hari, seringkali kita mengalami kebocoran-kebocoran energy di siang hari. Kemudian kita merasa lelah atau habis-habisan pada malam hari. Bisakah kita memiliki kekuatan spiritual yang konstan sepanjang hari? Secara fisik boleh lelah, tetapi bisakah secara spiritual tidak mengalami kelelahan sepanjang hari? Oleh karena itu, waktu keheningan di pagi hari untuk menimba kekuatan spiritual menjadi amat penting. Begitu pula mencermati kebocoran-kebocoran energy spiritual sepanjang hari. Tidak ada kebocoran-kebocoran besar yang tidak mulai dari kebocoran-kebocoran kecil. Maka setiap kali kita bisa mewaspadai kebocoran-kebocoran itu sehingga stamina spiritual kita tetap konstan sepanjang waktu.

Ketiga, praktik menjadi Instrument yang Akurat (Accurate Instrument). Setiap orang yang hidup di muka bumi ini memiliki peran yang unik; tidak ada dua orang yang memiliki peran yang persis sama. Maka kita bisa memeriksa setiap kali sejauh mana akurasi dari peran-peran yang kita jalankan. Semakin mendekati apa yang benar, baik, indah, dan suci, semakin mendekati akurat peran-peran kita. Apakah terdapat akurasi dalam pikiran, kata-kata, sikap, keputusan dan tindakan? Apakah intensi di balik setiap pikiran, kata-kata dan tindakan cukup akurat?

Misi utama pelayanan dari yang Tak-Terbatas tidak lain adalah mengubah setiap Jiwa menjadi benar, baik, indah, dan suci dan pada gilirannya setiap Jiwa menghadirkan Kebenaran, Kebaikan, Keindahan dan Kesucian di tengah dunia. Ketika manusia dan dunia berada dalam tepi jurang kehancuran karena makhluk ragawi yang pada hakekatnya spiritual ini hidup dalam kepalsuan, kejahatan, kemunafikan, dan ketidaksucian, maka mendesak dibutuhkan revolusi sosio-structural, mental dan spiritual secara mendasar. Kita semua hanyalah instrument bagi yang Tak-Terbatas untuk melakukan Pelayanan Tak-Terbatas di tengah dunia.

Bisakah kita membawa misi Pelayanan Tak-Terbatas ini kedalam keluarga, lingkungan agama, masyarakat sekitar, komunitas tempat kita bekerja, bisnis dan politik?* (js)