“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sadaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)

Sesering apa kekuatan Belas Kasih timbul dalam diri Anda? Sesering Anda berhadapan dengan realita penderitaan–entah penderitaan makhluk lain, penderitaan orang lain atau atau penderitaan diri Anda sendiri—sesering itulah kekuatan Belas Kasih muncul, apabila sadar dan tahu bagaimana melihat penderitaan sebagai apa adanya.

Adalah fakta bahwa penderitaan hanya memiliki sengatnya kalau terdapat “si aku” yang terpisah dari penderitaan. Ketika “si aku” sudah muncul, mulailah “si aku” mengidentikkan dirinya dengan penderitaan: “Aku menderita.” “Penderitaan ini adalah milikku.” “Penderitaanku berbeda dengan penderitaanmu.” “Aku ingin melenyapkan penderitaanku.” Kemudian “si aku” melawan, menolak atau melarikan diri.

Kalau kita tidak melawan, tidak menolak atau tidak melarikan diri, melainkan tinggal bersama penderitaan itu, memeluk penderitaan itu, menerima penderitaan sebagaimana adanya, tanpa jarak, tanpa ada “rasa diri” atau “si aku” dalam penderitaan, maka sengat penderitaan akan terurai dan lenyap. Ketika “rasa diri” berakhir, sengat penderitaan pun berakhir; ketika sengat penderitaan berakhir, Belas Kasih terlahir. Ketika tidak lagi ada “rasa diri”, penderitaan fisik atau tekanan mental apapun tidak menggoncang batin Anda dan Anda berada dalam keadaan damai yang mendalam.

Belas Kasih yang benar hanya terlahir dari “kekosongan”, “suwung”, atau “kenosis”. “Kekosongan” adalah realita di mana kita hidup bebas dari “rasa diri” dalam relasi. “Ketiadaan diri” itulah hakikat awali dari “batin yang tak terkondisi”.

Begitu pula dalam “kekosongan” yang benar, terdapat kepenuhan Belas Kasih. “Kekosongan” bukanlah keadaan “tidak ada apa-apa” atau “nihil”. Dengan memasuki “kekosongan” atau “realitas tanpa diri” dalam relasi, kekuatan Belas Kasih terlahir secara alamiah. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Hidup dengan “rasa diri” adalah hidup dalam penderitaan; hidup bebas dari “rasa diri” adalah hidup bebas dari penderitaan. Setiap kali penderitaan yang timbul disadari dan kehidupan “tanpa diri” direalisasikan, maka penderitaan diubah menjadi damai batin yang mendalam. Itulah damai Tuhan, kedamaian yang dirindukan oleh setiap orang dan setiap makhluk. Kekuatan untuk menyadari dan melihat penderitaan “tanpa diri” itulah yang disebut dengan kekuatan Belas Kasih. Oleh kekuatan Belas Kasih, sungai penderitaan diubah menjadi lautan kedamaian; setiap orang atau segala makhluk dibebaskan dari belenggu penderitaan.

Belas Kasih terhadap segala ciptaan musti berakar pada Belas Kasih terhadap diri sendiri. Kita musti tahu bagaimana menyentuh dan mengakhiri setiap bentuk penderitaan dalam diri kita dengan melihat penderitaan tanpa “rasa diri”.

Begitu pula dalam melihat penderitaan sesama dan makhluk lain. Penderitaan mereka bukanlah “milik mereka”. Penderitaan adalah penderitaan. Apabila mereka menderita, penderitaan mereka tidak berbeda dengan penderitaan kita. Artinya, penderitaan tidak memiliki tuan, bukan milik mereka, bukan pula milik saya. Tidak ada “diri” di dalamnya. Melihat penderitaan orang lain dengan rasa kasihan, empati atau simpati hanyalah bentuk halus dari melihat dengan “rasa diri”. Melihat penderitaan “tanpa diri” dengan cara demikian ini, melihat bahwa semua orang dan segala ciptaan pada hakekatnya tidak berbeda dari diri kita, adalah melihat dengan mata Belas Kasih.

Bagaimana kekuatan Belas Kasih mewujud dalam kesadaran, pikiran, kata-kata dan perbuatan tubuh kita?

Pertama, kekuatan Belas Kasih menggerakkan kita untuk menolong keadaan sesama dan segala makhluk. Apabila kita melihat situasi-situasi yang menyakitkan dari makhluk hidup tertentu—mereka yang berada dalam bahaya, sakit, cacat, lemah, miskin, dan tersingkir—kekuatan Belas Kasih menggerakkan kita untuk memberi pertolongan. Kekuatan Belas Kasih ini menggerakkan anak-anak kecil yang secara spontan, misalnya, menyelamatkan seekor anjing yang terjatuh di sungai dan tak berdaya melawan arus sungai. Kekuatan yang sama menggerakkan orang-orang dewasa untuk menolong sesamanya untuk keluar dari situasi-situasi sulit, misalnya di bidang ekonomi, politik, social dst.

Kedua, kekuatan Belas Kasih menyentuh akar penderitaan dari orang yang mengalaminya. Kalau ada orang yang menderita—entah karena berbagai sebab—datang kepada Anda dan minta tolong, Anda tidak akan puas untuk menolong mengubah situasi-situasi yang membuat dia menderita, tetapi lebih jauh membantu untuk membongkar ketidaktahuan sebagai akar sebab dari penderitaan yang dialaminya. Hidup dengan “rasa diri” alam relasi-relasi adalah hidup dalam ketidaktahuan dan hidup dalam ketidaktahuan adalah hidup dalam kegelapan. Itulah akar penderitaan.

Ketiga, kekuatan Belas Kasih mewujud tanpa objek particular ketika kita memasuki “keheningan tanpa diri” yang dalam. Di sana Belas Kasih terlahir dalam Kesadaran Murni dan mewujud tanpa melalui perbuatan pikiran, perbuatan kata-kata dan perbuatan tubuh. Ia bervibrasi ke luar secara langsung dan mempengaruhi keadaan segala ciptaan lain tanpa medium pengantara. Apabila dua atau tiga orang berkumpul dan menjaga “keheningan tanpa diri” dalam meditasi, kekuatan spiritual termasuk Belas Kasih akan bervibrasi secara alamiah dan saling mempengaruhi.

Sesering apa Anda berjumpa dengan penderitaan di luar ataupun di dalam batin Anda? Secepat apa Anda mengubah sungai penderitaan menjadi lautan kedamaian dan membiarkan kekuatan Belas Kasih bekerja?* (JS)