Testimoni retret Bali 2014, MSW, 39th, Psikolog, Jakarta.

Selama 7 hari mengikuti retret meditasi, yang paling saya temukan adalah bertemu dengan diri saya sendiri, ketakutan saya sendiri, dan ego yang muncul sebagai bentuk reaksi dari objek yang hadir di luar diri saya ataupun pikiran itu sendiri sebagai objek. Beberapa bentuk ego itu sebelumnya sudah saya kenali dengan proses berpikir ataupun analisa saya sendiri. Bedanya sekarang, kesadaran akan ego tsb tidak disertai dengan rasa bersalah, kekecewaan ataupun rasionalisasi alias alasan rasional kemunculannya. Melihat ego itu sebagai sesuatu yang bukan diri saya yang sesungguhnya ataupun identitas yang menempel pada diri saya.

Temuan lain adalah sikap saya dalam menghadapi situasi atau perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan atau pikirkan. Biasanya reaksi yang muncul adalah penilaian kepada orang tsb, yang umumnya menjadi negative ataupun rasa kesal. Namun selama di sana, saya ternyata tidak merasa terganggu dengan situasi –situasi tsb, dan tidak merasakan emosi tertentu, baik positif ataupun negative. Yang ada hanya pemahaman terhadap kondisi orang lain dan itu bukan merupakan hasil dari pemikiran rasional atau pemikiran normative atau pemikiran yang mengharuskan ini atau itu.

Selama retret, saya menemukan ketakutan dan situasi social yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri saya dan itu muncul dalam sensasi ketidaknyamanan dalam tubuh fisik saya. Saat badan ini tidak nyaman, ada ketegangan dan saya hanya menyadari dan berusaha untuk tidak menggunakan pikiran untuk mengetahui konflik apa yang sebetulnya sedang terjadi dalam diri dan batin saya. Kalau dulu saya mencoba mencari-cari penyebab ketakutan atau situasi tidak nyaman tsb, dan mencari-cari kaitan antara kemungkinan penyebab dengan manifestasi ketegangan secara fisik. Namun kali ini saya hanya berusaha menyadari dan diam saja. Ternyata pada saat tertentu, saat sedang bermeditasi, muncul percakapan spontan dari dalam diri saya, entah suara dari mana, dan disertai dengan emosi yang intens. Percakapan dengan alam serta sesuatu yang di luar saya tsb sifatnya singkat, spontan dan seperti jawaban kemungkinan penyebab rasa tidak nyaman ataupun ketakutan tsb.

Entah mengapa saat itu hanya rasa pembebasan yang muncul, suatu kelegaan seperti pembebasan dari rasa yang selama ini sepertinya tanpa disadari menjadi beban. Beban akan suatu keharusan-keharusan atau normatif. Inilah yang saya rasakan sebagai personal insight. Termasuk menjadi lilin dan cahaya yang bukan lagi menjadi suatu keharusan; esensi diri ini adalah cahaya.

Selama 1-2 minggu setelah saya pulang dari meditasi ini, dalam interaksi dengan orang lain, saya merasa ada suatu rasa ringan dan lepas. Saya menjadi lebih spontan, otentik, dan ringan.
Sebagai tambahan ketika pulang dari retret beberapa orang bertanya mengenai ketepatan atau kebenaran konsep-konsep. Untuk saat ini tidak terlalu menjadi fokus buat saya. Entah mengapa saya tidak lagi gamang mengenai kebenaran suatu konsep. Konsep bukanlah kebenaran mutlak. Pengalaman yang saya alami, itu kebenaran untuk saya sendiri dan sifatnya sepertinya juga akan terus bergerak.

Inilah gambaran singkat mengenai apa saja yang terjadi dalam diri saya. Sekali lagi terima kasih untuk para personel panitia (Mba Dewi dan Mbak Mona, serta Ibu Linda dan Mbak Fetria) serta Romo Sudri yang mendampingi proses ini. Juga terima kasih pada kehadiran dan keberadaan semua peserta yang membantu saya mengalami proses-proses tsb.

MSW