SM, 25 tahun, Graphic Designer, Buddhist, Jakarta.

Tulisan sudah lama saya tulis, namun hanya saya save di komputer lalu lupa setelah sekian lama. Kemarin habis menuliskan kisah jurnal saya yang baru, saya baru ingat pernah menuliskan ini dan belum saya bagikan kepada Romo. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini adalah testimonial saya setelah mengikuti Retret Akhir Tahun pada tahun 2012 di Cibulan.

https://www.facebook.com/#!/notes/sherly-maria/sharing-meditasi-kehidupan/10152365126090120
—–
Melalui perjalanan batin yang panjang ini, saya ingin berbagi kisah tentang pentingnya menyadari batin dari saat ke saat. Penutupan tahun 2012 sekaligus awal dari tahun 2013 ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang, terutama menyangkut tentang ramalan suku Maya Inca yang kerap menghebohkan dunia.

Pada retret ini saya cukup banyak terbersit tentang kematian. Pikiran saya masih cukup segar teringat kejadian meninggalnya almarhum ayah saya yang baru saja meninggal belum lama ini secara tiba-tiba. Saya masih bisa mengingat keadaan saat itu dengan cukup jelas, perasaan yang menggemparkan keluarga dan teman-teman dekat kami.

Saya masih ingat dengan jelas wajah ayah saya yang berada dalam peti mati, begitu tenang, seperti sedang tidur. Saya masih ingat dengan jelas kehidupan kami sewaktu ayah saya masih hidup. Saya masih ingat dengan jelas saat terakhir sebelum ayah saya meninggal, beliau masih mengantar saya berobat ke rumah sakit dalam keadaan sehat walafiat. Saya mengamati batin saya pada saat itu, dimana semua anggota keluarga kalut, ibu saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurus pemakaman ayah saya karena kondisinya yang berada dalam depresi berat, kakak saya masih berada di luar negeri dan belum pulang, sedangkan adik saya juga tidak mengerti harus berbuat apa. Saya yang pada saat itu tidak tahu menahu tentang mengurus pemakaman, tergerak oleh sesuatu yang saya heran darimana asalnya, mungkin inilah yang seringkali dimaksud oleh Romo mengenai kekuatan tindakan langsung. Sambil menunggu kepulangan kakak saya untuk memberikan keputusan akhir, sayalah yang mengurus pemakaman tersebut. Pada saat itu entah darimana saya memiliki kekuatan lebih, saya dapat mengurus semuanya. Saya terus mengamati batin saya yang tanpa reaksi melihat jasad almarhum ayah saya. Saya lalu duduk di samping ayah saya sendirian, mendaraskan doa untuk beliau.

Kematian yang dialami oleh almarhum ayah saya merupakan kematian fisik. Dalam momen ini, saya cukup menyadari bahwa kematian dapat dialami oleh setiap orang, kapan saja. Kematian ini juga dapat saya artikan, kematian yang sesungguhnya, kematian ‘diri’ sebagai pusat psikologis. Pertanyaan yang selalu diulang-ulang oleh Romo mengenai, “Bisakah penderitaan ini berakhir, sekarang?” merupakan pertanyaan yang perlu dialami langsung oleh setiap orang.

Saya terlahir dalam keluarga Buddhis. Saat kecil, saya suka sekali belajar Buddhis, hingga menghafal semua teori-teori Buddhis dengan begitu mudahnya. Hingga saya semakin beranjak dewasa, saya mulai menyadari, bahwa semua teori-teori yang saya pelajari dari sejak kecil itu hanyalah sekedar teori yang indah, tanpa saya sentuh dalam kehidupan nyata, seperti sebuah buku bagus yang telah saya baca, lalu saya letakkan di rak begitu saja. Saya sadar bahwa Kebenaran yang nyata, bukanlah seperti itu. Saya sadar saat saya kehilangan kendali atas kesadaran saya, dan berbuat 180 derajat terbalik dengan semua teori-teori yang telah tertanam dalam otak saya. Semua yang telah saya pelajari sia-sia belaka tanpa membuahkan hasil. Bertahun-tahun saya bergulat dengan iman saya, mengapa penderitaan ini terus terjadi dalam hidup saya? Apakah yang salah dengan hidup saya sehingga saya harus mengalami penderitaan seperti ini? Bahkan bukan hanya satu dua kali saya berharap agar hidup saya segera berakhir dan melarikan diri dari kenyataan hidup yang pahit.

Saat saya masuk SMA, saya mempelajari teori Katolik, dan saat saya kuliah saya mempelajari Kristen, karena kurikulum agama sekolah pada saat itu. Batin saya cukup terguncang saat menyadari ada realita lain yang ditawarkan tentang keberadaan Tuhan yang menyelamatkan, Tuhan yang begitu baik, dan segala kesaksian-kesaksian yang tengah saya dengar dari teman-teman saya. Tentu saja, semua orang ingin diselamatkan dan dibangunkan dari tidur panjang yang penuh penderitaan.

Namun, saya cukup lama mengamati, realita ini pun tidak ubahnya dengan realita kepercayaan lain. Tidak ada perubahan batin dan berakhirnya penderitaan total bagi saya. Penderitaan itu tetap ada, dan sumber masalahnya sama sekali belum terpecahkan. Melawan pikiran dengan pikiran, melawan perasaan dengan perasaan, melawan belief dengan belief, melawan ego dengan ego yang lain. Semua ini membuat saya lelah dan muak.

Bahkan saya cukup banyak bertemu dengan orang-orang yang cukup keras menyatakan bahwa hanya ajarannyalah yang benar, sedangkan yang lain salah. Hati kecil saya pada saat itu mengatakan bahwa: saya percaya, ada sebuah jalan kebenaran, yang tidak memperdulikan label kepercayaan apapun, yang terus berjalan, dialami oleh setiap orang, dengan akhir yang sama. Saya terus mencari pada saat itu. Saya memilih untuk tidak memihak kepada ajaran siapapun.

Hingga pada suatu saat, ada sebuah kekuatan yang mendorong saya untuk mempelajari meditasi Vipassana, yang pada saat itu saya tidak mengenal Vipassana sama sekali. Saya membaca teori Vipassana tradisional, dan mulai mempraktekkannya sendiri. Selama saya mempraktekkannya, saya merasakan belum ada kebenaran sejati dalam hidup saya. Saya lalu memutuskan untuk mencari metode lain, hingga saya menemukan ulasan yang ditulis oleh Pak Hudoyo Hupudio di Facebook mengenai pemahaman batin lewat Meditasi Mengenal Diri. Saya kerap mengikuti ulasan-ulasan tersebut setiap harinya dan mulai memahami proses batin. Itulah yang membawa saya kepada meditasi secara lebih dalam. Pelan-pelan saya mencoba mempraktekkannya sendiri di rumah dan kemudian memutuskan ikut retret bersama kedua orang tua saya di akhir tahun 2009.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai merasakan efek dari meditasi ini. Saya dapat memahami gerak batin dari saat ke saat tanpa perlu membuat penilaian. Saya mempelajari bahwa pikiran ini selalu mendominasi sebagian besar hidup saya. Saya mempelajari bahwa banyak sekali masalah yang muncul karena ego sebagai pusat diri. Saya melihat bahwa apabila ego ini berhenti dengan sendirinya, maka ada sesuatu yang mentransformasi diri, ada sebuah keindahan lain disana, dimana tidak ada siapapun yang dapat menyentuhnya.

Dalam retret ini, saya mengamati batin saya yang lelah dalam pencarian. Batin yang telah mengalami berbagai persoalan ini hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak, dari kesibukan sehari-hari yang menyita waktu dan energi. Berhari-hari saya cukup banyak bergulat dengan berbagai ledakan emosi, baik datang melalui memori, maupun muncul secara langsung. Proses batin tersebut berjalan begitu alamiah, muncul secara tiba-tiba tanpa bisa saya kendalikan. Kemunculan dan kepergiannya terus datang silih berganti. Ledakan emosi paling besar saya rasakan ketika muncul sebuah perasaan tentang kemarahan. Saya menyadari bahwa saya tengah menyalahkan orang-orang dalam hidup saya atas semua penderitaan yang saya alami. Saat saya tersadar, kemarahan itu pun membawa saya pada memori kemarahan lain. Saya teringat kejadian beberapa hari belakangan ini dimana saya harus menyetir sepulang saya dari kantor sendirian selama 3 jam, pada larut malam, setiap hari dalam keadaan macet, sehingga saya pulang hampir pada jam 12 malam setiap harinya. Kemarahan ini terbawa hingga saya menjadi tidak sabar dalam menghadapi lalu lintas yang begitu padat, dengan segala tingkah pengemudi lain yang menyetir seenaknya. Rasa ini membuat fisik saya lelah, hingga membawa kemarahan-kemarahan lain dalam hidup saya yang muncul begitu mudahnya.

Memori kemarahan ini belum selesai. Memori ini membawa saya kembali teringat tentang perasaan kemarahan yang saya bawa sejak kecil, menghadapi kerasnya sikap orang tua saya yang selalu mendominasi kebebasan saya. Perasaan kemarahan ini lalu membawa saya kepada memori pada saat saya dilahirkan. Saat itu saya merasakan sebuah kesedihan yang sangat dalam. Saya tidak ingin dilahirkan.

Saya terus mengamati perasaan tersebut hingga berakhir. Perasaan yang sangat menyesakkan dada itu kemudian reda dengan sendirinya. Saat itu saya telah memaafkan diri saya sendiri dan orang lain atas kemarahan tersebut, termasuk keadaan yang harus saya hadapi. Inilah kematian bagi saya, dan setiap saat kita bisa mengalaminya. Inilah kematian yang membebaskan.

Berhari-hari saya cukup banyak bergulat dengan berbagai ledakan emosi. Ledakan-ledakan emosi ini kadang muncul secara tiba-tiba, tanpa saya kenali bagaimana bentuknya dan dari mana asal-muasalnya. Saya terus mengamati sensasi tersebut yang semakin lama semakin besar, menyesakkan dada. Ledakan yang kemudian diikuti oleh rasa kepedihan yang dalam ini datang berulang kali. Saya menyadari bahwa tidak ada memori apapun yang menjadi penyebab dari rasa ini. Ini sama sekali bukanlah reaksi. Saat itu saya tengah bermeditasi sambil membuka mata, mengamati gunung dan pohon di hadapan saya.

Selesai saya mengamati rasa itu saya melanjutkan meditasi berjalan. Ada kekuatan yang mendorong saya untuk berhenti. Saat itu pula, ada sesuatu yang datang tanpa saya kenali. Rasa kepedihan yang dalam saya rasakan kembali, berlangsung beberapa saat, kemudian diikuti oleh rasa ketenangan yang begitu dalam. Selama beberapa saat, rasa itu berhenti. Saya melangkahkan kembali kaki saya. Namun, saya merasakan bahwa langkah saya saat itu berbeda. Rasanya seperti tubuh dan otak saya bergerak bersatu tanpa saya kendalikan dengan keinginan saya, ego atau pikiran saya, Selama beberapa detik saya memandang pepohonan dan bunga-bunga di taman dengan begitu jernih. Segala sesuatunya terlihat seperti apa adanya. Sejak saat itu, saya mengamati bahwa batin saya cukup sering mengalami ledakan perasaan sedih yang amat dalam yang bukan berasal dari diri si pusat psikologis ini, muncul secara tiba-tiba. Di sisi lain rasa kepedihan itu, ada kasih lain yang juga begitu dalam, sama sekali berbeda dengan rasa kasih yang biasa saya latih melalui meditasi cinta kasih.

Selepas itu hingga sekarang kesadaran saya berlangsung alamiah dan otomatis, menyatu dalam kehidupan. Terus terang saya tidak punya cukup banyak waktu untuk meditasi duduk karena kesibukan saya sehari-hari. Namun segala hal yang saya alami, reaksi batin dan berbagai pikiran kerap saya sadari, meski tidak seintens ketika saya berada dalam keadaan hening. Saya sadar bahwa duduk diam dalam batin yang hening sangat dibutuhkan, untuk lebih dapat melihat secara lebih jelas dan memperkuat kesadaran kita sehari-hari.

Hormat saya,
SM