“Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12)

Sesering apa Anda hidup dalam Kasih dan saling mengasihi seperti Allah mengasihi Anda? Sesering Anda hidup berlawanan dengan Kasih, sesering itulah Anda hidup dalam Kasih, apabila Anda sadar dan tahu bagaimana mengubahnya.

Apa yang disebut dengan Kasih? Lihatlah tanaman bunga di taman. Anda bisa mencium harumnya bunga dan melihat keindahannya. Anda bisa menyentuh bunganya tetapi tidak bisa memegang keindahannya. Keindahan dari bunga ini adalah jembatan energy yang menghubungkan antara bunga sebagai representasi “dunia bentuk” dan sesuatu yang lain dari “dunia tak-berbentuk”. Dunia berbentuk dan dunia tak-berbentuk terhubung dalam jembatan energy yang disebut keindahan.

Kasih adalah seperti keindahan yang dipancarkan oleh tanaman bunga dan kasih itu adalah Anda yang sesungguhnya melampaui kesadaran bentuk “nama-rupa”. “Nama” yang dimaksud di sini adalah kualitas-kualitas mental seperti pikiran, perasaan, keinginan, kehendak, daya upaya, dst. “Rupa” di sini adalah bentuk fisik Anda sebagai laki-laki atau perempuan, tinggi atau pendek, berkulit putih atau berwarna, kaya atau miskin, dst. Kasih adalah jembatan energy yang menghubungan antara Anda sebagai dunia bentuk “nama-rupa” dan Anda sebagai dunia yang tak-berbentuk melampaui “nama-rupa.”

Kasih yang muncul dari dunia melampaui bentuk “nama-rupa” adalah seperti Keindahan dari bunga yang tak pernah layu, sedangkan kasih yang dikondisikan oleh dunia bentuk “nama-rupa” adalah seperti keindahan dari bunga yang cepat layu.

Hidup kita memiliki dua dimensi: materi dan non-materi, tubuh dan batin, raga dan jiwa. Apabila kita mengidentikkan diri dengan materi, tubuh, raga, status, kekayaan, agama, suku, umur, gelar, maka pada moment itu kita hidup dalam “kesadaran ego”, “kesadaran tubuh” atau “kesadaran bentuk”. Kalau kita tidak melekat pada materi, tubuh, raga, status, kekayaan, agama, suku, umur, gelar dan sadar bahwa kita yang sesungguhnya dalah Jiwa atau Kesadaran Murni, maka pada moment itu kita hidup dalam “kesadaran tanpa-ego”, “kesadaran jiwa” atau “kesadaran tak-berbentuk”.

Dari mana bunga Kasih yang tak pernah layu itu berasal? Kasih sejati bukan berasal dari “kesadaran ego” atau “kesadaran tubuh”, tetapi dari “kesadaran tanpa-ego” atau “kesadaran jiwa”. Cinta yang muncul dari “kesadaran ego” adalah cinta terkondisi; sedangkan Kasih yang muncul dari “kesadaran jiwa” adalah Kasih Sejati.

Cinta terkondisi adalah hasil dari pembelajaran oleh “si aku”. Kita belajar mencintai sesama atau sesuatu karena ia adalah “pasanganku”, “anakku”, “keluargaku”, “pekerjaanku”, “kelompokku”, “agamaku”, “bangsaku”. Kita belajar mencintai menurut pola kebiasaan kolektif yang kita pelajari dari keluarga, agama, sekolah dan masyarakat. Apabila ia bukan “milikku” atau “milik kita”, aku tidak akan mencintai seperti aku mecintai “milikku” atau “milik kita”.

Cinta terkondisi melibatkan daya upaya melalui proses pemupukan. Cinta terkondisi adalah idea yang hendak dicapai oleh “si aku” melalui serangkaian pengorbanan, tanggung-jawab dan pergumulan. Semakin besar orang mencinta, semakin besar dituntut untuk berkorban, bertanggung-jawab atau bergumul.

Cinta terkondisi mengalami evolusi dalam waktu. Sekarang cinta, besok benci, kemudian berubah menjadi cinta lagi pada waktu berikutnya. Sekarang cinta bisa terasa kuat, tetapi bisa melemah atau makin menguat seiring berjalannya waktu. Namun cinta yang masih berubah-ubah, entah menguat atau melemah adalah cinta yang terkondisi.

Berbeda dengan Cinta Tak-Terkondisi atau Kasih Sejati. Ia muncul secara alamiah, bukan hasil pembelajaran, tidak bisa dipupuk, terjadi seketika tanpa mengalami proses evolusi dalam waktu. Ia seperti bunga mekar tak pernah layu. Ia muncul secara alamiah dalam diri setiap orang apabila orang sadar kembali akan hakekat dirinya yang sesungguhnya sebagai “Jiwa”, bukan sebagai “tubuh”.

Bukan kita yang mengasihi, tetapi Kasih itu sendiri yang menggunakan diri kita untuk mewujud dalam dunia bentuk. Kasih itu bervibrasi keluar melalui perbuatan pikiran, perbuatan kata-kata dan perbuatan tubuh kita.

Bagaimana mengenali “kesadaran tubuh” dan mengembangkan praktik “kesadaran jiwa” agar bunga cinta sejati semakin mekar? Berikut ini beberapa latihan praktis.

Pertama, praktik menerima dan memahami seperti apa adanya.

Menerima dan memahami diri sendiri dan orang lain apa adanya—meskipun banyak keburukan dan kelemahan–merupakan bentuk Kasih yang sempurna. “Kesadaran tubuh” hanya membuat kita menerima apa yang kita suka dan menolak apa yang tidak kita suka. “Kesadaran tubuh” juga hanya membuat kita memahami sesuatu menurut keterkondisian kita, sehingga tidak terdapat pemahaman yang menyeluruh sebagai mana adanya.

Semua bentuk keburukan dan kelemahan tidak akan lenyap hanya dengan ditolak atau dibuang, karena apa saja yang kita tolak atau buang justru akan tetap ada. Semakin kuat kita tolak, apa yang kita tolak justru akan semakin kuat.

Semua bentuk keburukan dan kelemahan perlu disentuh secara benar dan diubah menjadi keindahan. Seperti halnya sampah dedaunan yang jatuh ke tanah kita olah menjadi pupuk dan memperkuat tanaman hingga tumbuh dan berbunga, begitu pula sampah keburukan dan kelemahan perlu diubah menjadi pupuk bagi tumbuhnya bunga keindahan. Bagaimana mengubahnya? Hanya dengan menyentuhnya dengan Kesadaran Murni terus-menerus, keburukan dan kelemahan itu akan berubah dengan sendirinya secara alamiah.

Kedua, praktik memberi tanpa mengharapkan balasan.

Bunga mekar dan menebarkan keindahan tanpa mengharapkan imbalan. Keindahan Kasih terletak dalam tindakan memberi dari apa yang dimiliki, tanpa meminta balasan. “Kesadaran tubuh” selalu menggerakkan kita untuk meminta atau menuntut atau menarik keuntungan bagi diri kita sendiri. Kalau pun menggerakkan untuk memberi, tindakan memberi dilakukan hanya demi imbalan yang lebih besar daripada apa yang bisa diberikan.

Spiritualitas mengajarkan kita untuk member dan member, tidak pernah meminta. Apa saja yang kita berikan akan kembali lagi kepada diri kita. Dengan memberi lebih banyak, kita akan menerima lebih banyak. Dengan memberi sedidikit, kita akan menerima sedikit.

Apa yang kita berikan? Pertama-tama apa yang kita berikan bersifat spiritual. Kita memberikan Perhatian, Kasih, Kemurnian, Ketulusan; Damai, Kekuatan, Pencerahan, dan Kebahagiaan.

Sesuatu yang spiritual yang kita bagikan kepada orang lain tersebut membutuhkan medium atau sarana penghantar. Medium tersebut bisa berupa pemikiran, kata-kata dan tubuh kita. Medium itu bisa berupa waktu, tenaga, materi atau benda-benda.

Medium penting sebagai sarana pengantara, tetapi medium bukanlah yang paling utama. Yang paling utama adalah kekuatan spiritual yang hendak Anda bagikan melalui medium pengantara.

Kekuatan kehidupan telah lebih dulu memberi kekuatan spiritual kepada Anda sehingga sesungguhnya tidak ada seorangpun dari Anda yang berkekurangan. Justru sebaliknya, setiap dari Anda sudah memiliki dan memiliki dalam kepenuhan. Kalau Anda tidak merasa kekurangan, tentu Anda tidak akan terobsesi untuk meminta. Sebaliknya, kepenuhan hidup spiritual Anda akan menggerakkan Anda untuk memberi dan memberi, tanpa pernah mau meminta.

Kepenuhan spiritual itulah yang perlu direalisasikan. Begitu terealisasikan, kekuatan spiritual itu akan bermanifestasi keluar lewat pikiran, kata-kata, dan tubuh Anda. Itulah keindahan dan kekuatan Kasih Tak-Terkondisi.

Ketiga, praktik tidak membeda-bedakan.

Keindahan bunga menjadi gambaran Kasih Sejati. Tugas bunga adalah menebarkan keindahan di mana-mana, tidak peduli apakah orang di lingkungannya kaya atau miskin, terpelajar atau tidak terpelajar, seagama atau berbeda agama, satu bangsa atau berbeda bangsa.

Segala perbedaan hanya ada dalam “kesadaran tubuh”, tetapi dalam “kesadaran jiwa” kita semua sesungguhnya tidak berbeda. Kita semua adalah Jiwa dan Kasih adalah siapa diri kita yang sesungguhnya. Kasih adalah salah satu ciri Jiwa.

Kalau kita mengasihi orang lain hanya karena mereka satu keluarga, satu agama, satu bangsa, satu golongan, satu ideology, satu status, dst, maka kasih seperti ini hanyalah manifestasi dari “kesadaran ego”. Apabila kita mengasihi sesama tanpa memandang perbedaan identitas, maka kita mengasihi dari “kesadaran jiwa”.

Keempat, praktik bertindak tanpa pemaksaan.

Seperti halnya tanaman tidak bisa memaksa bunga mekar menurut keinginannya, begitu pula Kasih. Anda tidak bisa memaksa atau sengaja membuat Kasih itu mewujud. Wujud kasih yang Anda paksakan atau sengaja lakukan adalah kasih yang terkondisi. Tetapi Kasih sejati itu akan mekar secara alamiah dan bervibrasi dari jiwa murni Anda kalau Anda melepaskan diri dari identifikasi Anda pada gambaran baik dan buruk, suka dan tidak suka, menerima atau menolak. Belajar untuk tidak melekati apa yang Anda sukai dan tidak menolak apa yang Anda benci bisa menjadi latihan praktis agar benih Kasih itu bisa mekar secara alamiah.

Tanaman bunga juga tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukainya. Bunga mekar dan menebarkan keindahan dalam kebebasan; begitu pula Kasih. Apabila Kasih ada dalam diri Anda, maka Anda tidak bisa memaksakan kehendak, tidak mau menguasai orang lain, tidak melakukan tindakan kekerasan, baik melalui perbuatan pikiran, kata-kata maupun tubuh.

Apabila Kasih ada dalam diri Anda, maka Anda juga tidak akan mau tunduk pada pemaksaan dan berbagai bentuk kekerasan orang lain. Kalau Anda menyerah pada paksaan orang lain dengan harapan Anda akan mendapatkan cinta atau sesuatu dari orang lain, maka Kasih tidak ada dalam diri Anda. Dan Anda pasti akan memperlakukan orang lain seperti Anda membiarkan orang lain memperlakukan Anda.

Kasih hanya mekar dalam moment Kebebasan dan memperkuat Kebebasan. Bukan kebebasan dari paksaan atau kebebasan untuk berkeinginan, melainkan Kebebasan di mana batin secara total tidak berada dalam keterkondisian. Apabila Anda merasa mengasihi seseorang tetapi Anda hidup dalam belenggu ketidak-bebasan, maka Kasih tidak ada. Banyak orang hidup bersama dalam ikatan cinta tetapi menjalani hidup seperti dalam penjara karena Kebebasan tidak ada. Apabila Kebebasan tidak ada, Kasih juga tidak ada.

Kelima, praktik bebas ketakutan dan bebas kelekatan.

Keindahan bunga selalu menarik orang atau serangga di sekitarnya. Ketika orang atau serangga tidak lagi memperhatikan keindahannya, bunga juga tidak menjadi kecewa. Keindahan bunga Cinta juga terletak dalam pemekarannya. Pada saat mekar, ia mekar secara alamiah tanpa takut untuk ditolak atau takut kehilangan sesuatu dari dirinya; ia menebarkan keindahan tanpa melekat demi kesenangan dirinya.

Apabila orang mencintai sesuatu atau seseorang yang lain, maka ia akan cenderung melekati apa yang ia cintai, karena ia takut kehilangan dan terus ingin mendapatkan kesenangan dari apa yang ia lekati. Di mana ada ketakutan dan kelekatan, Cinta yang sesungguhnya tidak ada.

Ketakutan dan kelekatan membuat perhatian kita terpusat pada diri kita sendiri. Kalau kita bebas ketakutan dan kelekatan dalam relasi dengan seseorang yang kita cinta, maka kita dibebaskan dari keterpusatan pada diri kita dan perhatian terarah pada orang yang kita cintai. Maka bebas-kelekatan dan bebas-ketakutan justru membuat Kasih semakin mekar, sedangkan kelekatan dan ketakutan membuat kita jauh dari Kasih.* (JS)