Testimoni Retret Bali 2014
AF, 48 tahun, karyawan bank, Jakarta.

Tuhan teramat baik. Dia telah mengatur segalanya, termasuk membuatku tetap bisa ikut retret. Beberapa minggu sebelumnya, kakakku masuk ICU, gagal ginjal kronik. Selama 12 hari aku mendampinginya; konsentrasiku pada dia. Aku sempat ragu, “Tegakah aku meninggalkan dia dan tetap ikut retret?” Semua seperti berjalan begitu saja. Aku tersadar akan kemurahanNya pada Kamis malam itu, saat berada di Bandara Sokarno Hatta untuk menuju Bali, lokasi retret. Semua disiapkanNya bagiku begitu baik.

Hari-hari pertama meditasi diwarnai oleh kelelahan fisik, beragam pikiran, perasaan, dan kenangan, muncul lenyap menjadi obyek. Sekalipun bisa bertahan lama duduk bersila, aku tidak menemukan makna apa-apa. Penjelasan Romo Sudri mengenai “Obyek”, “Reaksi dari batin terkondisi” dan “Kesadaran Murni dari Batin Tak-Terkondisi”, menjadi “gong” yang membuat aku sadar. Tulisan “You are Peace. Find Peace in every step.” pada selembar kartu dari Romo, menguatkan aku, bahwa Damai telah dikaruniakan Allah dalam diriku.

Dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga, kujalani meditasiku. Semua peristiwa, suka duka, kelelahan, harapan, kenangan, kusadari saja, muncul dan lenyap sebagai bentuk-bentuk pikiran yang terus bergerak. Dalam kesadaran, aku merasakan damai melampaui segalanya, lewat semua peristiwa, keheningan, pun saat meditasi di teras luar menghadap danau dan gunung. Kala kegelapan subuh bergerak menuju rembang pagi, perlahan wajah dan tubuhku disinari matahari pagi. Tabir subuh perlahan dibuka dan terus bergerak, hingga terasa aku terangkat, bersatu dengan semesta. Hanya Dia yang memampukan segalanya. Kicauan burung bagai konser menambah takjubku, kemeriahan ceriapnya melampaui komposisi lagu-lagu koor sulit yang pernah diajarkan. Begitu hidup, menyapa dari segenap penjuru, sangat merdu dan alami; kicauan yang keras, bertambah keras, tiba-tiba menjadi sangat lembut. Bukan hanya komposisi 8 atau 12 suara, namun tak terbilang lagi berapa jumlahnya. Pepohonan, udara, lembah, dan semuanya adalah bagian yang mengantarku terkoneksi pada Sang Maha Semesta.

Saat berdiam, menyadari “obyek”, “reaksi terkondisi”, “batin tak terkondisi”, kesadaran membuat pikiran berhenti. Kutemukan sesuatu yang luar biasa pada subuh itu. Hanya syukur yang tak terhingga. Ada rasa yang mengalir dari bagian kanan tubuh bawah. Kedamaian ini jauh melampaui semua peristiwa yang kualami. “Ting..”. Bel tanda usai meditasi. Saat katup mata perlahan kubuka, benar-benar sajian ketakjuban. Danau, gunung, terang, hangat, udara, nyanyian burung, dan semua unsur yang melingkupiku.

Meditasi siang, sore hingga malam hari memberikan suka cita luar biasa, terlebih saat mengalami pergantian waktu demi waktu, perubahan irama, ceriap burung menyambut malam. Kedamaian mengalami peralihan terang menuju rembang petang, hingga kegelapan malam. Ada tabir kehangatan, sekalipun gelap. Aku sadar, ada obyek, ada reaksi, namun ada juga sesuatu yang tak-berbentuk yang muncul di antara segala yang berbentuk, sesuatu yang tak-terdefinisi. Dia muncul dan tiba-tiba lenyap. Batin tak-terkondisi, bukan sekedar rasa, muncul seketika dan lenyap.

Saat Hari Raya Nyepi, meditasi malam di luar menyuguhkan ketakjuban tiada tara. Pikiranku menamai pesta pora semesta di malam pati geni, teater maha luas. Taburan bintang di langit, ceracap burung, kecipak ikan. Kesunyian dan keheningan menjadi latar belakang (background) dari dunia suara sebagai latar depan (foreground). Tiada tempat untuk tubuh yang lelah dan pikiran yang mengembara. Serasa semua jiwa bersuka cita. Semua bintang ciptaanNya bernyanyi ria. Serasa semua mahluk di bumi dan di surga memujiNya, beria-ria di malam pati geni.

Ada kehidupan, ada kematian; setiap awal memiliki akhir; ada malam, ada siang; tubuh bisa rapuh atau hancur, namun jiwa atau batin tak-terkondisi tidak (hancur). Batin bebas yang tak terkondisi tetap Hidup. Sesering aku berpikir dan menemukan celah keheningan di antara dua pikiran, sesering itu pulalah aku berkesempatan menemukan ruang batin. Ini yang sering tidak kusadari. Diri hampir selalu dikendalikan pikiran, dan nyaris tidak sadar bahwa pada kesempatan yang sama terdapat ruang batin yang maha luas.

Malam terakhir retret, saat meditasi di luar, secara bergiliran, kami mengambil lilin, dan dalam kondisi apapun diminta untuk menjaga agar cahayanya tetap menyala. Hembusan angin atau apapun dapat memadamkan apinya, namun kami bisa menuju pusat sumber cahaya untuk menyalakannya kembali. Begitulah kehidupan. Kami sendirilah yang harus menjaga agar lilin kami masing-masing tetap bernyala.

Permenungan malam itu memecahkan tangisku karena berbagai peristiwa muncul dan lenyap, juga ingatan berpulangnya teman baik, setahun lalu, tepat di tanggal berakhirnya retret. Kami diberi kesempatan untuk melakukan walking meditation sambil membawa lilin masing-masing. Berjalan perlahan, kehangatan terasa, sekalipun badan ini hancur lelah, letih, pilu. Semakin kusadari, bahwa Kedamaian dan Terang telah ada dalam diri ini. Itulah Kekuatan Batin yang Tak-Terkondisi. Lilin itu bukan hanya menyala untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain. Kami saling bertukar lilin, sambil menatap atau memberi salam kepada sesama retretan, sambil berucap: “Anda adalah Terang bagi diri Anda sendiri dan dunia.”

Berlanjut dengan meditasi di dalam, permenungan bahwa setiap pribadi dikaruniai Keindahan yang unik, berbeda satu dengan lain. Melalui bunga, wujud Keindahan ciptaanNya, yang unik, tidak pernah sama satu sama lain. Kamipun berbagi, bertukar bunga yang kami genggam. Tiada bunga yang hanya digenggam erat seorang diri. Tiap diri memberikan Keindahan bagi yang lain, hingga semuanya menjadi sangat indah dan terang. Malam retret pungkas sudah.

Hari ini, sudah hampir seminggu sejak retret berakhir. Aku kembali pada aktivitas kantor, berbagai kuliah yang sedang kuikuti, bermacam kegiatan, dan rutinitas lain sehari-hari. Dalam gerak pikiran dan kelelahan yang datang dan pergi, aku mencoba hadir sepenuhnya pada saat kini, hadir secara fisik dan dengan kesadaran Batin Tak-Terkondisi. Sesering berpikir atau bertindak, sesering itu pulalah aku memiliki ruang batin. Kedamaian sudah ada dalam diri ini. Cahaya Terang telah terbit dalam diri ini dan diharapkan aku dapat menjaga nyalanya.

Kehidupan di dunia tidak pernah kuketahui kapan berakhir. Menjalani kehidupan dengan mengandalkan pada Sang Empunya Kehidupan, Sang Maha Semesta. Setiap peristiwa, datang dan pergi. Dengan menyadari saja, aku tersenyum menjalaninya, karena Dia telah menganugerahi Damai untuk kehidupan ini. Damai itu sudah ada di dalam diri ini. Sesering apa kutemukan dia? Sejalan dengan pesan yang kuterima dari Romo, “You are Peace. Find Peace in every step.” (Anda adalah Kedamaian. Temukan Kedamaian dalam setiap langkah). Itulah kado terindah retretku kali ini. Terima kasih teramat dalam kepada Romo Sudrijanta, SJ untuk bimbingannya.

AF