Saya mengalami problem psikosomatis. Sering panic, merasa cemas, sedih, takut; semuanya bercampur aduk. Akibatnya, saya terkena asam lambung dan gejala serangan jantung. Saya coba berbagai macam teknik menenangkan diri tapi masih belum kelihatan hasilnya. Saya juga bermeditasi tapi perasaan itu malah semakin besar; semakin diamati semakin sesak. Bagaimana membedakan “mengamati batin” dan “terseret batin yang kacau”. Apa yang musti saya lakukan? Mohon saran. Terima kasih atas bantuan Romo. (NN) 

Ketidakseimbangan batin, kepedihan atau penderitaan tidak diciptakan oleh kondisi badan, seseorang, sesuatu, atau situasi-situasi di luar; “aku adalah pencipta penderitaanku”. “Aku” adalah pikiran delusive, si ego, si diri ilusif. Kondisi pekerjaan, perlakuan orang lain, situasi-situasi di luar atau rasa sakit fisik hanyalah stimuli, tetapi bukan pencipta penderitaanku. “Aku” sendirilah penciptanya. “Aku” sendirilah yang membiarkan diri ini menderita yang dipicu oleh kondisi badan atau factor-faktor di luar itu. 

Ketika timbul kecemasan, belief system sudah bekerja, yaitu “Aku tidak bahagia bila seseorang, sesuatu, situasi di luar, atau kondisi badan ini berjalan tidak sesuai dengan keinginanku; Aku akan bahagia kalau dan hanya kalau seseorang, sesuatu atau situasi di luar atau kondisi badan ini berjalan sesuai keinginanku.” Itu adalah belief system yang keliru. 

Kita perlu belajar untuk merealisasikan bahwa ketika pikiran delusive berakhir saat disadari, Anda adalah Stabilitas, Kedamaian, dan Kebahagiaan. Itu semua sudah ada di dalam sebagai benih dalam kesadaran terpendam. Jadi Kestabilan tidak tergantung pada kondisi tubuh atau situasi-situasi di luar. Kestabilan itu sendiri perlu ditemukan atau direalisasikan dari saat ke saat, justru ketika moment-moment ketidakstablian batin datang.

Stabilitas, Kedamaian dan Kebahagiaan itu ada dan hanya ada di Saat Sekarang, bukan suatu saat nanti kalau situasi berubah. Semua pikiran delusive menjauhkan kita dari Saat Sekarang, sibuk dengan masa lampau dan masa depan. Pikiran sibuk mempersoalkan hal yang sudah terjadi, “Mengapa ini atau itu terjadi”; “Mengapa ini atau itu terjadi dengan cara seperti demikian.” Pikiran sibuk dengan masa depan imaginer yang belum terjadi, “Bagaimana kalau ini atau itu terjadi? Bagaimana kalau ini atau itu tidak terjadi?” Pikiran-pikiran yang sia-sia, tidak bermanfaat dan negative ini menciptakan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan. 

Energi negative tidak bisa menyeret batin kalau tidak ada reaksi. Jadi kembali lihatlah reaksi-reaksi dalam batin dan biarkan reaksi-reaksi itu berhenti secara alamiah. Sadari kekacaun batin setiap kali muncul tanpa reaksi; kalau ada reaksi-reaksi, sadari reaksi-reaksi itu juga tanpa reaksi. Menyadari reaksi di sini jauh lebih penting daripada menyadari kekacauan batin itu sendiri. Kalau setiap reaksi yang disadari berhenti, kekacauan itu luruh atau lenyap dengan sendirinya.

Kalau energy negative itu sangat kuat menyeret pikiran Anda, coba masukilah Saat Sekarang dengan pertolongan nafas Anda. Beradalah sepenuhnya bersama nafas Anda, maka Anda akan keluar dari jebakan pikiran dan masuk ke Saat Sekarang. Banyak moment bisa menolong Anda masuk ke Saat Sekarang, misalnya setiap langkah saat Anda berjalan, setiap tegukan air saat Anda minum, setiap dering bunyi telpon, dst. Anda bisa berhenti dari kegiatan Anda selama 2-5 menit setiap 30 menit atau 60 menit  hanya menyadari apa yang terjadi dengan tubuh dan batin. Sadari energy-energi negative; tangkaplah pikiran-pikiran delusive dan belief system keliru yang sangat halus; dan biarkan Stability, Peace, Happiness mekar menguat.

Situasi atau kondisi terus berubah-ubah, tetapi Stable Mind tidak bisa digoncang oleh perubahan situasi apapun yang terjadi. (js)