Apakah Anda tahu persis titik kelemahan dalam tubuh Anda? Misalnya, saat cuaca berganti, Anda mudah terserang flu, batuk, atau masuk angin. Bila ada tekanan di tempat kerja, perut terasa mual atau kepala pening. Karena kecelakan, suatu penyakit atau usia tua, Anda memiliki masalah dengan mata, tulang punggung, persendian atau keluhan tertentu. Bila Anda mengetahui secara persis kelemahan tubuh fisik Anda, maka Anda bisa menjaga dan merawat tubuh Anda, agar tubuh fisik Anda tidak dihancurkan oleh bagian-bagian dirinya yang lemah.

Begitu pula dengan jiwa Anda. Apakah Anda tahu persis titik kelemahan dalam jiwa Anda? Apakah kelemahan Anda berkaitan dengan makanan, minuman atau narkoba; seks, uang, harta, kekuasaan, atau kehormatan? Apakah kejatuhan-kejatuhan Anda berkaitan dengan nafsu keinginan, kemarahan, iri hati, dengki, cemburu, cemas, gelisah, takut, malas, ragu-ragu, kelekatan, egoisme, kesombongan, keangkuhan, minder, rendah diri? Dari pengalaman jatuh-bangun, tentu Anda tahu persis apa kelemahan jiwa Anda. Bila Anda mengetahuinya, Anda juga bisa menjaga dan merawat jiwa Anda, sehingga jiwa Anda tidak dirusak tipu muslihat “musuh jiwa”. 

Dalam teologi Kristen, “roh jahat” sering disebut sebagai “musuh jiwa”. Disebut “musuh jiwa” karena karakter “roh jahat” berlawanan dengan karakter jiwa. Karakter jiwa adalah Seimbang, Murni, Damai, Kuat; Kasih, Bahagia, Indah, Baik, Benar. Segala kekuatan yang berlawanan atau menjauhkan kita dari kualitas-kualitas tersebut berasal dari “roh jahat”. Sebaliknya segala kekuatan yang membawa kepada karakter sesungguhnya dari jiwa tersebut berasal dari “roh baik”. 

“Roh jahat” ini bisa disebut dengan nama lain seperti “diri-ilusif”, “pikiran- terdelusi”, “kesadaran dualistic”, atau “batin yang terkondisi”. Semuanya berlawanan dengan karakter jiwa. Jiwa yang dimaksud di sini bukanlah entitas ontologis yang memiliki individualitasnya sebagai kepribadian diri. Selama masih terdapat ilusi “diri”, maka jiwa masih berada dalam keterkondisian dan keterbatasan. Jiwa yang dimaksud disini adalah kualitas “batin yang murni, tak-terbatas, tak-terkondisi” 

Untuk merealisasikan kekuatan jiwa dan mentransformasikan kelemahan, akan menolong mengetahui secara praktis strategi-strategi yang sering dipakai “roh jahat” atau “pikiran terdelusi” untuk mengalahkan jiwa. Ignatius Loyola  menemukan sekurang-kurangnya terdapat empat strategi musuh jiwa (Cfr. Spiritual Exercises, “Spiritual Discernment”, No. 325-327 dan 332-335). Saya akan memodifikasi untuk kepentingan pembaca secara lebih luas, tidak terbatas pada pembaca dari kalangan Kristiani. 

1) Strategi sebagai seorang “Anak Manja” atau “Hantu Lapar”

Musuh jiwa mendorong dan mengobarkan jiwa dengan nafsu keinginan untuk dipuaskan dengan menyodorkan keyakinan palsu bahwa hanya dengan dipenuhinya keinginan, kebahagiaan akan datang. Seperti halnya seorang “Anak Manja” yang menuntut sesuatu yang diinginkan untuk dipenuhi, dan mendesak dipenuhi sekarang juga, begitulah strategi musuh jiwa. Ia akan menggunakan segala cara supaya keinginannya terpenuhi, misalnya dengan meluapkan amarah, mengancam atau memberi tekanan. Kalau Anda sebagai orang tua memenuhi setiap permintaan si “Anak Manja”, maka Anda sedang merusak dirinya dan justru tidak membuatnya bahagia. Si “Anak Manja” dalam diri kita juga seperti “Hantu Lapar”. Ia terus ingin makan, meskipun tidak pernah kenyang. 

Strategi tersebut mudah dipatahkan dengan tidak menuruti kemauannya. Musuh jiwa akan lemah bila dilawan dan kuat bila dibiarkan. Bila kita mulai kasihan, takut atau kehilangan keberanian, maka amarah dan ancaman garang si “Anak Manja” atau “Hantu Lapar” itu menjadi hebat dan tak terhingga. Maka di muka bumi ini tiada binatang yang lebih ganas daripada musuh jiwa dalam mengejar maksud jahat dengan kedurhakaan yang luar biasa. Sebaliknya, bila kita dengan gigih menentang godaan-godaan musuh dan mengadakan perlawanan yang tepat berbalikan, ia menjadi lemah, hilang keberaniannya, lari pergi dengan godaan-godaannya. 

2) Strategi sebagai “Kekasih Palsu” atau “Buaya Darat”.

Musuh jiwa mendorong agar orang merahasiakan atau menyembunyikan segala godaan, keraguan, kesia-siaan, maksud dan perbuatan buruk agar orang makin terpuruk. Seorang suami atau isteri yang serong, misalnya, tentu akan merahasiakan hubungan gelapnya dengan kekasihnya yang lain, supaya maksud serongnya tidak diketahui pasanganya yang resmi. 

Karena strategi musuh jiwa adalah menyembunyikan, maka strategi untuk melawannya adalah membuka apa yang disembunyikan. Ignatius Loyola memberikan nasehat agar orang yang mengalami godaan, membukanya di hadapan bapa pengakuan atau orang lain, yang mengenal akan tipu muslihat musuh jiwa. Ia tahu usaha jahat yang dimulai atau dilangsungkannya tak akan berhasil bila tipu dayanya jelas terbuka. 

Orang yang rajin datang kepada bapa pengakuan bisa jadi masih akan lebih banyak lagi jatuh dalam kelemahan bila motif-motif tersembunyi di balik pikiran, perasaan, kata-kata dan perbuatan tubuh tidak diterangi dengan kesadaran. Maka terbuka di hadapan bapa pengakuan bisa menolong tetapi belum akan memutus kekuatan musuh jiwa bila dirinya sendiri tidak mengembangkan kesadaran untuk menerangi bidang-bidang gelap dalam dirinya. 

3) Strategi sebagai “Komandan Pasukan Perang”

Dalam usaha untuk menundukkan dan merebut apa yang diinginkan, musuh jiwa akan menghitung dan mempelajari titik kelemahan dan kekuatan lawan, baik secara fisik, mental, intelektual, social, dan spiritual. Setelah melakukan persiapan yang memadai, penyerangan barulah dilakukan. Bidang-bidang di mana kita kedapatan paling lemah dan rapuh, itulah yang menjadi sasaran serangan. Saat-saat kita lengah, pada waktu itulah serangan datang. 

Strategi “Komandan Pasukan Perang” ini bisa dipatahkan dengan mengembangkan kesadaran akan titik kelemahan, menyadari godaan, menghindari situasi-situasi yang bisa membuat kita terjatuh, dan tahu bagaimana menghimpun kekuatan. Mengenal kelemahan punya arti tahu mengapa, bagaimana, kapan, dan di mana kelemahan itu bermanifest. Saat godaan datang, kita tahu apakah kita cukup kuat atau sedang lemah. Kalau tahu bahwa kita lemah, kita perlu mundur atau menghindar dari situasi-situasi yang menggoda. Menyepi, bermeditasi, retret, atau melakukan studi untuk lebih mengenal diri akan menolong untuk menghimpun kembali kekuatan jiwa. 

4) Strategi sebagai “Malaikat Terang”

Musuh jiwa menyaru sebagai malaikat terang dengan mengikuti suasana jiwa yang saleh dan akhirnya menggiring ke arah maksud sendiri. Ia menyodorkan pikiran-pikiran yang baik-baik dan suci-suci, yang luhur dan mulia, mengikuti jalan pikiran dari jiwa yang baik dan saleh; lalu sedikit demi sedikit menyeret jiwa ke arah tipu muslihat tersembunyi dan maksud-maksud durhaka. 

Strategi “Malaikat Terang” bisa dipatahkan dengan melihat jalan pikiran pada awal, tengah dan akhir. Setiap jalan pikiran yang membawa kepada kualitas jiwa seperti Keseimbangan, Kemurnian, Kedamaian, Kekuatan; Kasih, Kebahagiaan, Keindahan, Kebaikan, Kebenaran pastilah bukan berasal dari musuh jiwa. Sedangkan jalan pikiran yang berakhir pada kebalikannya—kekacauan, kekotoran, konflik, kelemahan; kebencian, kepedihan, keburukan, kejahatan, kepalsuan pastilah datang dari musuh jiwa. Meskipun awalnya baik, tengahnya baik, tetapi bila akhirnya buruk pastilah dari musuh jiwa. 

Strategi #1, #2 dan #3 sering digunakan untuk menyerang jiwa-jiwa yang jatuh dari keburukan yang satu ke keburukan yang lain. Sedangkan strategi #4 sering dipakai untuk menyerang jiwa-jiwa yang berkembang dari kebaikan yang satu ke yang lebih baik lagi. 

Pada orang yang jatuh dari keburukan yang satu ke keburukan yang lain, musuh menyodorkan kesenangan semu atau kenikmatan palsu; seringkali berkaitan dengan kesenangan inderawi. Roh baik memakai cara sebaliknya, menyesakkan hati dengan teguran pada budi.

Pada orang yang meningkat dari taraf yang baik ke yang lebih baik, ciri khas musuh jiwa  menyesakkan dan menghalangi dengan menyodorkan alasan-alasan palsu, kepercayaan keliru atau pikiran keliru, supaya orang tidak maju lebih lanjut. Musuh juga sering menyodorkan kenikmatan palsu, terutama berkaitan dengan hiburan rohani. Ciri khas roh baik ialah memberi kejernihan, semangat dan kekuatan, hiburan, air mata, inspirasi, ketenangan, membuat semuanya mudah, dan menyingkirkan segala rintangan.

Pada orang yang meningkat dari taraf yang baik ke yang lebih baik, roh baik menjamah jiwa dengan halus, lembut dan manis, seperti air meresap masuk spon. Sebaliknya roh jahat menjamah jiwa dengan kasar, keras, kacau, dan meninggalkan kepahitan dan kegetiran, seperti air jatuh di atas batu.

Bila Anda kadang-kadang merasa tidak berdaya berhadapan dengan kelemahan Anda, sesungguhnya perasaan lemah itu sendiri adalah hasil tipuan musuh jiwa. Sesungguhnya hakekat jiwa adalah Kuat. Maka menyadari kelemahan saja tidak cukup; perlu kemudian merealisasikan Kekuatan itu sekarang dan di sini, dari saat ke saat. Ketika “pikiran-terdelusi”, “diri-ilusif”, atau “kesadaran dualistic” berakhir setiap kali disadari, Kekuatan itu timbul dengan sendirinya. Kekuatan yang adalah esensi jiwa atau “batin yang murni, tak-terbatas, tak-terkondisi” ini tak bisa ditundukkan oleh kekuatan apapun dari musuh jiwa.

Kekuatan datang bukan ketika Anda bebas dari kelemahan, tetapi ketika Anda merealisasikan Kekuatan itu sekarang dan dengan Kekuatan itu kelemahan ditransformasikan. (js)