Mengapa kekuatan intelek tidak bisa mengubah kebiasaan buruk? 

Kalau substansi kebiasaan buruk belum intens dan kompkles, intelek masih bisa dipakai untuk mengubahnya. Tetapi ketika subtansi keburukan sudah sangat kuat dan sudah menyebar menjadi bentuk-bentuk keburukan yang lain, maka kekuatan intelek tidak banyak menolong. Dalam kenyataan, desakan-desakan kesadaran terpendam jauh lebih kuat dari intelek. 

Mengapa kontrol atau pengendalian oleh intelek kecil artinya bagi perubahan yang mendasar? Karena intelek atau pikiran adalah pecahan energy dari memori dan memori adalah pecahan dari kesadaran terpendam. Substansi keburukan adalah pecahan; intelek adalah juga pecahan. Maka perubahan yang mendasar tidak mungkin datang dari pecahan untuk mengatasi suatu pecahan yang lain. 

Mengapa disiplin tubuh tidak bisa mengubah kebiasaan buruk? 

Disiplin tubuh hanya akan menghasilkan disiplin fisikal. Kalau Anda tertib dalam hal makan, misalnya Anda makan selalu pada jam makan, maka tubuh Anda tidak akan terkena sakit maag karena makan tidak teratur. Ketertiban dalam hal makan membawa ketertiban dalam mekanisme tubuh. Tetapi menjaga makan teratur saja tidak akan membuat batin Anda tertib. 

Kalau batin tertib, tubuh akan mengikuti; kalau batin kacau, tubuh akan mengikuti. Jadi kuncinya ada pada batin. Kalau Anda mendisiplinkan tubuh, menghukum atau menyiksa tubuh untuk mengubah batin, maka upaya Anda akan sia-sia belaka. 

Dalam Injil, terdapat kata-kata keras seperti ini, “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota tubuhhmu binasa, daripada tubuhmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka.” (Mateus 5:29) 

Kalau kita mengikuti begitu saja nasehat tersebut, maka kita sudah lama seharusnya hidup dengan mata buta, tangan buntung atau tubuh yang tidak lengkap. Tentu itu bukan yang dimaksudkan. Yang dimaksudkan dari kata-kata yang keras tersebut adalah kebiasaan buruk selalu membawa dampak yang merusak; semakin lama dipertahankan semakin intens dan kompleks. 

Lalu dari mana perubahan yang mendasar bisa terjadi? Perubahan yang mendasar hanya mungkin melalui “kesadaran” (awareness) dan itu sudah ada dalam kesadaran terpendam. “Kesadaran” ini diperlukan untuk memahami seluruh proses mesin kebiasaan, terutama untuk memahami “pikiran-pikiran yang terdelusi” sebagai pemasok energy bagi mesin kebiasaan. 

Beberapa hal yang perlu diterangi oleh kesadaran supaya proses transformasi bisa berjalan efektif. 

Pertama, bertanyalah pertama-tama mengapa Anda ingin berubah, bukan bagaimana berubah. Apakah Anda ingin berubah karena orang lain atau situasi menuntut Anda berubah atau karena Anda menyadari bahwa perbuatan-perbuatan buruk tersebut membuat Anda sungguh-sungguh menderita dan perbuatan-perbuatan tersebut pada saat yang sama juga membuat orang lain menderita? Bila Anda ingin berubah hanya untuk menyenangkan orang lain, Anda tidak akan mengalami perbuahan mendasar. Bila Anda menyadari kebiasaan buruk betul-betul menciptakan penderitaan, maka Anda telah membuat langkah awal yang benar.                                                                                     

Kedua, berhentilah dari kesibukan Anda satu atau dua menit setiap saat dan periksalah apa yang terjadi dengan batin Anda. Adakah hal-hal yang negative atau hal-hal yang buruk dalam batin Anda? Sadarilah “pikiran yang delusive” dan biarkan berhenti. Kebiasaan buruk yang sudah berlangsung lama bermula dari satu atau dua menit. Untuk memutusnya, juga hanya diperlukan satu atau dua menit. Ketika “pikiran yang terdelusi” tertangkap kesadaran dan berhenti, seluruh mesin kebiasaan berhenti. 

Ketiga, temukanlah “pikiran yang bermanfaat” yang sudah diilhami oleh pemahaman dari “kesadaran”, bukan sekedar mengembangkan pikiran positif yang masih berpusat pada penguatan atau perluasan ego atau diri. Pastikan bahwa Anda telah menemukan “pikiran yang bermanfaat” atau “pikiran yang sudah tercerahkan” dan gunakan dalam setiap tindakan sejauh dibutuhkan. (Habis)–JS