Apa bahan bakar bagi mesin kebiasaan? 

Mesin kebiasaan batin Anda tidak berbeda dengan mesin mobil Anda. Seperti halnya mesin mobil Anda tidak akan menyala atau bekerja bila tidak ada pasokan bahan bakarnya, begitu pula mesin kebiasaan batin Anda. Bahan bakar dari mesin kebiasaan batin Anda adalah “pikiran yang terdelusi”. Ia berfungsi sebagai “energy kebiasaan”. 

Apa yang disebut “pikiran yang terdelusi”? Pikiran yang menciptakan ego, menyukai keburukan dan mendatangkan penderitaan kita sebut “pikiran yang terdelusi. 

Pertama, “pikiran yang terdelusi” menciptakan ego dan selalu menghasilkan pemahaman yang keliru. Ego yang menciptakan “pikiran yang terdelusi” nampak dalam tiga wajah, yaitu sebagai “korban”, “pelaku”, dan “pemilik”. Kalau Anda mendapat perlakuan buruk dari orang lain, misalnya, dan Anda menderita dan merasa menjadi korban, maka sekaligus Anda adalah pelaku tindakan buruk dan pemilik dari tindakan buruk tersebut. Jadi orang lain dan Anda sama-sama buruknya. 

Ada seorang bapak meledak amarahnya saat pulang ke rumah. Ia melihat anaknya yang berumur 5 tahun mengotori lantai dengan cat air. Ia mau menampar anaknya yang masih kecil itu tapi ia tahan karena isterinya ada di rumah. Ia berjanji dengan dirinya sendiri, “Besok pagi bila isteriku sudah pergi bekerja, saya akan hajar kamu.” Betul, paginya anak itu dihajar ayahnya sampai jari kelingkingnya putus. Belakangan ia baru menyadari bahwa tindakan tersebut ia lakukan karena dulu ketika kecil ia sering mendapat perlakuan kekerasan dari ibunya. Bapak ini tidak menyadari bahwa tindakan kekerasan yang ia lakukan adalah karena ia menyimpan memori sebagai korban kekerasan yang terus ia pelihara dan tidak ia selesaikan. 

Kebiasaan untuk melakukan hal-hal yang buruk membuat Anda merasa “ada”; kalau tidak melakukannya, Anda merasa “tidak ada”. Seorang bapak yang menyiksa anaknya tadi merasa “ada” ketika bisa melampiaskan amarahnya. Bila tidak, ia merasa “tidak ada”. Berikut ini adalah contoh lain yang lebih umum. Ada orang-orang ketika mengalami stress atau kesepian suka pergi ke mall untuk berbelanja (shopping), meskipun apa yang dibeli tidak sungguh dibutuhkan. Bila berbelanja, ia merasa “ada”; kalau tidak berbelanja, ia merasa “tidak ada”. Di situlah ego berperan dan mempertahankan eksistensinya. 

Kedua, ego memanipulasi realitas untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Ego percaya bahwa melalui hal itu ia dapat menarik kondisi yang diinginkan atau melenyapkan yang tidak diinginkan. Tetapi kenyataannya, semakin ego bergulat untuk mencapai apa yang diinginkan atau melenyapkan apa yang tidak diinginkan, keburukan semakin diperkuat. 

Ada seorang anak yang pandai dan senang melucu. Dimana ada kerumunan, ia gampang masuk dalam kerumunan itu dan membuat lelucon. Semua orang tentu saja senang dengan lelucon yang ia sampaikan. Tetapi apa yang sesungguhnya terjadi dengan anak tersebut? Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa orang tuanya tidak menerima dan mencintainya. Sebagai kompensasi, ia akan selalu mencari perhatian dari setiap orang dengan membuat lelucon. Orang lain dibuatnya tertawa, tetapi dirinya sendiri getir dan menderita. 

Ada kebiasaan-kebiasaan buruk yang sudah lama Anda lakukan. Karena Anda menderita oleh kebiasaan buruk tersebut, Anda ingin mengubahnya. Kebiasaan yang Anda lakukan untuk melenyapkan kebiasaan buruk adalah sama buruknya dengan kebiasaan buruk yang mau Anda lenyapkan, selama upaya-upaya tersebut masih berpusat pada ego. 

Ketiga, setiap kali kita menderita karena ditimpa kemalangan, ego gampang menyalahkan hal-hal di luar diri kita. Padahal kita—“pikiran yang terdelusi”–sendirilah yang menciptakan penderitaan itu. Situasi baru akan selalu datang kepada kita dan kita tidak bisa mengontrolnya; tetapi reaksi atas situasi tersebut sepenuhnya berada dalam kendali kita. Reaksi-reaksi kebiasaan itulah yang menciptakan penderitaan. 

Apa yang terjadi ketika kita mempertahankan “energy kebiasaan” untuk mengulang-ulang perbuatan buruk?

Pertama, bila kita mempertahankan hal-hal yang buruk sepanjang waktu, substansi keburukan akan semakin diperkuat. 

Ketika benih-benih keburukan atau kebaikan bermanifest dalam tindakan, benih-benih tersebut direkam kembali dalam kesadaran terpendam. Semakin intensif dan semakin sering suatu perbuatan buruk atau baik diulang-ulang, maka benih-benih tersebut semakin diperkuat dalam kesadaran terpendam. Ada teknik-teknik khusus untuk menyembuhkan kemarahan atau emosi negatif, misalnya dengan cara memukul bantal atau merusak barang-barang. Cara-cara seperti itu melegakan, tetapi tidak menyembuhkan akarnya. Sebaliknya benih kebencian, kemarahan dan kekerasan justru diperkuat. 

Kedua, hal-hal yang buruk yang dipertahankan akan berkembang biak menjadi bentuk-bentuk substansi keburukan yang lain. 

Kalau Anda mempertahankan rasa cemas dari waktu ke waktu, misalnya, maka Anda akan kehilangan rasa damai, membuat Anda tidak maksimal dalam bekerja, cenderung mencari kompensasi yang merugikan kesehatan tubuh dan batin Anda. Sebaliknya kalau Anda berlatih menjaga keseimbangan batin, Anda akan mudah menemukan kedamaian, konsentrasi, dan banyak hal-hal positif yang lain. (Bersambung ke #3)–JS