Bagaimana kita bisa memutus kebiasaan buruk yang sudah berlangsung lama? Penguatan intelek dan disiplin tubuh rasanya tetap tidak menolong.

Pertama-tama mari kita memahami apa yang disebut dengan “kebiasaan”. Segala perbuatan pikiran, perbuatan kata-kata, dan perbuatan tubuh yang dilakukan berulang-ulang disebut dengan kebiasaan. Kalau perbuatan yang diulang-ulang itu baik, kita menyebut kebiasaan baik; kalau perbuatan yang diulang-ulang itu buruk, kita menyebut kebiasaan buruk. Entah baik atau buruk, suatu perbuatan yang diualng-ulang menjadi mesin kebiasaan. 

Bagaimana mesin kebiasaan itu berjalan?            

Mesin kebiasaan memiliki empat komponen: batin yang disadari, kesadaran terpendam, intelek, dan tubuh. Mari kita lihat satu per satu. 

Apakah Anda bisa membaca sesuatu di layar batin Anda sekarang? Pernahkah ada seseorang yang tidak mau berdamai dengan Anda atau sebaliknya Anda tidak mau berdamai dengan seseorang? Masih ingat namanya? Apa perasaan Anda terhadap orang tersebut? Apa yang sering Anda pikirkan tentang orang tersebut? Seperti apa suasana batin Anda setiap kali sosok orang tersebut muncul dalam benak Anda? Nah, semua yang Anda baca tersebut adalah fenomena pada layar batin. Batin yang kita kenal atau kita sadari dalah seperti layar dengan banyak fenomena. Di sana terdapat pikiran, penilaian, imaginasi, perasaan dan formasi-formasi mental. 

Dari mana fenomena pada layar batin itu berasal? Semua fenomena yang muncul dan lenyap pada layar batin timbul dari kesadaran terpendam. Semua benih ingatan, nilai-nilai, bentuk-bentuk kepercayaan, insting, kecenderungan, kebiasaan, termasuk benih kesadaran tersimpan dalam kesadaran terpendam. Ketika terdapat perbuatan yang baik, benih kebaikan telah bermanifest; ketika terdapat perbuatan yang buruk, benih keburukan telah bermanifest. Kita bisa mengenali benih-benih kebaikan dan keburukan sebelum, selama dan sesudah bermanifest. 

Siapa yang mengendalikan atau mengontrol benih-benih itu untuk bermanifest atau tidak bermanifest? Intelek adalah si pengendali atau si pengontrolnya. Intelek berfungsi untuk mengingat, mengetahui, memahami, menalar, menilai, mendiskriminasi, mempertimbangkan, menyimpulkan, dan membuat keputusan. Benih-benih seperti apa—baik atau buruk—kapan, dimana, dengan cara apa akan bermanifest atau tidak akan bermanifest, semuanya ditentukan oleh intelek. 

Isi kesadaran terekspresikan dalam tubuh sekaligus tubuh berfungsi sebagai medium tindakan. Kalau Anda galau, kegaluan itu terlihat dari tubuh Anda. Kalau Anda suka berbohong atau tidak jujur, itu terlihat dari mata Anda. Kalau hati Anda murni, damai dan bahagia, maka itu semua akan bervibrasi ke luar melalui sel-sel tubuh Anda. Jadi tubuh mengikuti batin, bukan batin mengikuti tubuh. 

Hubungan intelek dan kesadaran terpendam 

Pada mulanya, untuk bermanifest setiap benih akan disaring terlebih dahulu oleh intelek. Misalnya, ketika benih kemarahan hendak bermanifest, intelek terlebih dahulu melakukan pertimbangan. Setelah intelek mengevaluasi, mempertimbangkan, menyetujui atau mendukung dengan persepsi pikirannya, barulah suatu benih bermanifest dalam tindakan. 

Ketika perbuatan amarah sudah menjadi kebiasaan, tidak diperlukan banyak pertimbangan intelek. Begitu terdapat situasi-situasi atau hal-hal yang mengganggu, meskipun halnya remeh, kemarahan bisa meledak tiba-tiba. Perbuatan amarah seperti ini Anda sebut sebagai “reaksi otomatis” atau “reaksi mekanis”; dan karena perbuatan amarah itu dilakukan berulang-ulang, Anda menyebutnya sebagai tindakan yang “normal”. (Bersambung ke #2) –JS