Sudah dua tahun sejak intensif melakukan meditasi, saya sudah tidak melakukan masturbasi lagi; dan semalam ternyata saya kebobolan lagi. Hasrat masturbasi begitu menguat disertai rasa penasaran seperti apa rasanya melakukan hubungan seks. Awalnya paling-paling saya sebatas “meraba” saja seputar payudara dan puting susu. Lalu timbul keinginan “memainkan klitoris” dengan jari. Itu terjadi begitu cepat. Kacau sekali rasanya. Masak saya kembali seperti dulu lagi? Bagaimana ya cara mengatasinya?

Terdapat beberapa pandangan yang keliru tentang hasrat seks yang perlu dijernihkan.

Pertama, hasrat seks muncul dari siklus hormonal sehingga timbul hasrat seks yang berulang-ulang. Pandangan tersebut tidak sesuai dengan fakta korelasi antara batin dan tubuh, pikiran dan dorongan seks. Kalau Anda sama sekali tidak berpikir seputar seks, maka hasrat atau dorongan seks juga tidak muncul. Pikiran seputar seks itulah yang pertama-tama mengaktivasi indung telur untuk memproduksi hormon estrogen dan progesteron untuk perempuan dan mengaktivasi testis untuk memproduksi hormon testosteron bagi laki-laki. Pikiran itulah yang pertama-tama membangkitkan gairah seks; bukan sebaliknya. Jadi, hasrat seks bukanlah gejala hormonal semata dan bukan bersifat mandiri atau bukannya tidak dipengaruhi pikiran.

Kedua, “kebobolan” terjadi karena begitu menguatnya hasrat seks sehingga sulit untuk dihentikan. Pandangan itu lagi-lagi meyakini bahwa hasrat seks timbul secara independence dari pikiran. Tingkat kekuatan hasrat seks bukan disebabkan pertama-tama oleh tingkat kekuatan hormonal, tetapi oleh intensitas pikiran. Intensitas pikiran itulah yang pertama-tama memperkuat hasrat seks dan sebaliknya intensitas hasrat seks memperkuat intensitas pikiran. Keduanya muncul hampir bersamaan dan saling mempengaruhi.

Ketiga, tekanan dari energy seksual hanya bisa diselesaikan lewat pemuasan seksual atau sublimasi. Pemuasan kebutuhan seks melalui masturbasi atau hubungan seksual dalam kenyataan tidak mengakhiri tekanan dari energy seksual, tetapi justru akan memperkuat nafsu-nafsu seksual. Dalam beberapa menit, energy seksual memang segera lenyap setelah masturbasi atau hubungan seksual dilakukan. Tetapi pada kesempatan lain berikutnya, dorongan seksual tersebut akan justru semakin meningkat. Maka kalau Anda dulu sudah terbiasa dalam waktu yang lama berulang-ulang melakukan masturbasi, energy seksual Anda sekarang menjadi kuat. Dan kalau Anda sekarang memulai masturbasi lagi, tindakan Anda akan memperkuat lagi nafsu-nafsu seks Anda yang akan bermanifest lebih kuat di masa depan.

Cara sublimasi atau pengalihan energy seks dengan menyalurkannya dalam kegiatan olah raga seperti renang, atau dengan bekerja lebih giat, atau dengan melakukan pelayanan yang bermanfaat bagi orang lain adalah baik. Sublimasi seksual bisa membantu menguras energy seksual, tetapi tanpa menyadari pikiran-pikiran seksual bisa jadi cara sublimasi hanya mengganti objek-objek seksual dengan objek-objek lain yang mendatangkan kenikmatan atau pemuasan diri. Selain itu, cara sublimasi tidak serta-merta menyelesaikan problem-problem kejiwaan yang seringkali justru tertutupi oleh hasrat-hasrat seksual, seperti problem kesepian, keterasingan, dan kekosongan.

Terhadap dorongan-dorongan seks dan keinginan masturbasi, sekurang-kurangnya enam moment krusial perlu dicermati.

Pertama, saat awal terjadi goncangan batin oleh nafsu seksual. Lihatlah apa yang terjadi dengan batin ketika muncul nafsu seksual? Bukankah batin tergoncang? Apakah muncul dorongan atau tekanan untuk melakukan sesuatu? Saat terasa ada goncangan oleh nafsu seksual, saat itu tepat untuk berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan. Jangan mengobarkan rasa suka atau tidak suka dengan pemikiran-pemikiran. Kalau batin diam, energy seks yang bergerak ini akan lewat tanpa menciptakan gangguan.

Kedua, saat pemikiran sudah berjalan tapi belum mencapai momentumnya yang membuat gairah seks menyala atau meledak. Dengan menyadari gerak pikiran, bukankah pikiran berhenti? Pikiran yang terhenti menimbulkan jeda sebelum pikiran yang lain muncul. Jeda pikiran ini memecah kekuatan energy seks yang nyaris terbangkitkan. Tidak ada gairah seks yang bergerak sendiri tanpa pengaruh pikiran. Dengan menyadari pikiran dan membiarkannya berhenti secara alamiah, gerak nafsu seks dengan sendirinya juga berhenti.

Ketiga, saat pikiran bergerak dan mulai memenjara batin dengan pikiran, gambaran, dan imaginasi seksual dan mengobarkan hasrat seks. Kalau pikiran yang bergerak tidak disadari, maka pikiran memberikan pasokan energy bagi dorongan seks dan kekuatan seks menjadi meningkat, menyala atau meledak. Biarkan saja energy seks mekar, tanpa reaksi-reaksi batin. Pada saat yang sama, cobalah menyadari  pikiran-pikiran halus yang sudah bergerak dan yang memberi pasokan energy pada dorongan seks. Sadari dalam-dalam keterbelengguan batin oleh pikiran dan dorongan seks hingga kekuatan pikiran dan dorongan seks memudar dengan sendirinya. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari pikiran dan dorongan seks dan membiarkan kekuatan pikiran dan dorongan seks melemah dan berhenti secara alamiah.

Keempat, saat sudah muncul keinginan, niat atau kehendak untuk melakukan tindakan seksual, seperti “meraba” seputar payudara dan puting susu atau “memainkan klitoris” dengan jari. Sebelum jari-jari dan tangan Anda bergerak, sadarilah keinginan, niat atau kehendak. Janganlah berbuat sebelum keinginan, niat atau kehendak tertangkap kesadaran. Dengan menyadari keinginan, niat atau kehendak dan membiarkannya berhenti, tindakan masturbasi atau perbuatan hubungan seksual bisa dihindari atau berkurang intensitasnya.

Kelima, saat tindakan masturbasi sedang berlangsung dan Anda tersadar bahwa tindakan tersebut membuat diri Anda makin menderita. Rasakan kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, dan keletihan.  Menyadari dan memahami seluruh gerak kekacauan ini memungkinkan tindakan seksual tersebut seketika berhenti.

Keenam, cermatilah munculnya “ego” atau “keakuan” dalam setiap moment pada kelima moment di atas. Adakah si aku yang terpisah dari dorongan seks; “Nafsu seksual-ku (objek kepemilikan) sedang meningkat dan menggoncang batin.” Adakah si aku yang terpisah dari pikiran; “Aku (si pemikir) berpikir-pikir tentang seks.” Adakah si aku yang terpisah dari kenikmatan seks yang dikobarkan oleh imaginasi-imaginasi seks; “Aku (si penikmat) menikmati kenikmatan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari keinginan dan kehendak untuk melakuan perbuatan seksual; “Aku (si pendamba) mengingini dan menghendaki pemuasan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari perbuatan seks; “Aku (pelaku) melakukan perbuatan seks.” Lihatlah bahwa si aku/ego tak terpisah dari kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, keletihan, dan penderitaan; “Si aku/ego tak terpisah dari penderitaan; penderitaan itulah si aku/ego”.

Kalau pada moment pertama Anda kelolosan, Anda masih memiliki kesempatan pada moment kedua. Begitu seterusnya sampai moment kelima. Kalau aspek keenam, yaitu timbulnya “keakuan”, tidak tertangkap dalam setiap praktik penyadaran, maka Anda akan masih menghadapi pergulatan yang keras. Selain itu, akan lebih mudah belajar membiarkan api nafsu seks berhakhir ketika dayanya masih kecil daripada ketika apinya sudah membesar.

Kalau Anda seringkali melakukan masturbasi pada saat-saat tertentu, misalnya saat menjelang tidur, saat-saat tersebut adalah saat yang paling baik untuk meditasi secara intensif sampai Anda jatuh tertidur.