Pagi ini, ketika saya membuka pintu teras, saya merasakan angin sejuk yang menerpa kulit saya. Saya melihat langit yang mendung berwarna peach karena semburat sinar matahari yang tertutup awan putih tebal. Ujung daun-daun bergerak terkena hembusan angin. Saya merasa berbeda pagi ini, dan senang dengan sambutan pagi ini. 

Saya pun melangkahkan kaki keluar pintu, dan meluangkan 1 menit memejamkan mata dan masuk ke keheningan. Hanya semenit. Kemudian saya masuk kedalam kamar kembali. Masih terpesona kesan di teras, saya pun melanjutkan masuk ke dalam keheningan di kamar, bukan dengan posisi meditasi, hanya duduk bersandar dan mata terpejam. Tiba-tiba saya ingat kata-kata pak Hudoyo ketika retret MMD. “Dengan meditasi, hal yang paling akhir adalah untuk menjadi pelita bagi orang disekitar kita.” 

Pada moment itu, sampai dengan tadi pagi, saya memahami bahwa kita adalah pembawa pelita bagi orang di sekitar kita. Tapi entah bagaimana, pemahaman itu dalam diri saya bergeser menjadi, pelita itu adalah kita sendiri, dimana saya atau kita–hanya menunjuk ke pengertian subyek, bukan si aku–seandainya adalah sebuah pelita, saya adalah sinar yang ada di bagian tengah yang paling terang kemudian cahayanya barulah berpendar di sekelilingnya. Saya menjadi tersadar kalau selama ini saya merasa diri buta dan berada dalam kegelapan, dan berusaha mencari cahaya untuk menerangi. Ternyata kita dari awal mula adalah sinar terang di tengah pelita dan memperterang kegelapan dalam hidup ini. Hanya saja kita tidak sadar, termasuk saya. 

Pemahaman ini kemudian membawa saya flashback ke beberapa kejadian akhir-akhir ini, dimana saya bertemu banyak orang yang baru saya kenal. Dalam setiap pertemuan, saya merasa diperlakukan dengan baik, diperhatikan, dibantu bahkan sebelum saya meminta bantuan. Saya sampai terheran heran, karena nothing has never ever been going this well previously. Saat itu focus saya adalah bagaimana orang lain memperlakukan saya dengan baiknya, tapi saya lupa satu hal. Hal itu akhirnya saya sadari saat ini. Saya lupa menyadari bahwa orang-orang tersebut adalah pelita hidup entah mereka sadari atau tidak; tapi cahaya mereka telah menerangi saya dengan perbuatan dan kata-kata mereka ke saya. Saya seperti terhempas angin, o wow, betapa sederhana cara kerja pelita itu, tapi efeknya tidak pernah kita sadari, kecuali kita sadar. Di titik ini, saya merasa ada yang kurang atau kurang tepat dalam pemahaman ini. Mungkin Romo Sudri dapat membantu saya untuk dapat memberi penjelasan lebih lanjut?

PS

Dear PS,

Anda adalah Pelita atau Terang bagi diri Anda sendiri dan dunia. “You are a Light to yourself and the world.” Jangan katakan, “I have a Light”; tetapi katakan, “I am a Light.” Terang itulah Anda. Terang itulah “JIWA” Anda yang sesungguhnya. Yang saya maksudkan “Jiwa” di sini adalah “KESADARAN MURNI” (Awareness), bukan “pikiran” atau “kesadaran yang terkondisi”. Maka Anda yang sesungguhnya adalah “a Conscience Light” atau “a Light of Awareness” (Pelita Kesadaran). 

Pelita Kesadaran ini bekerja lewat pintu persepsi yang menghasilkan tindakan yang benar. Kalau Pelita Kesadaran ini tidak ada, maka terdapat kegelapan dalam persepsi dan tindakan kita seringkali keliru. Kalau Pelita Kesadaran ini ada, maka persepsi kita terang, jernih, utuh dan tindakan kita bebas kesalahan. 

Kegelapan jiwa kita tidak bisa dihalau oleh Pelita orang lain. Kita sendirilah Pelita atau Terangnya yang bisa menghalau kegelapan jiwa kita sendiri. Tetapi Pelita orang lain bisa menolong kita untuk menyadarkan kembali bahwa Jiwa kita yang sesungguhnya adalah Pelita atau Terang Kesadaran itu. Begitu pula kita bisa menolong orang lain untuk menyadari esensi Jiwanya sendiri sebagai Pelita Kesadaran dengan membiarkan Pelita Kesadaran ini bernyala dan menerangi perbuatan kita. 

Pelita atau Terang itu sesunggunya bukan milik kita, bukan milik orang lain. Terang adalah Terang; bukan milikku, bukan milikmu. Maka Terang itu bisa terkoneksi satu dengan yang lain dalam hubungan-hubungan kita satu dengan yang lain, karena pada hakekatnya Terang itu tidak berbeda. Jadi Terang orang lain bisa membangkitkan Terang Jiwa kita sendiri; begitu pula sebaliknya. Tetapi Terang orang lain tidak serta-merta membebaskan kegelapan jiwa kita kalau Terang itu tidak ada dalam diri kita sendiri. Anda adalah Terang bagi Anda sendiri. Ketika Terang itu terbit, kegelapan jiwa ditransformasikan. Orang lain tidak bisa melakukannya untuk Anda, meskipun bisa menstimulir terbitnya Terang itu dalam diri Anda.

JS