HL, 37 tahun, Jakarta

Kisahnya bermula dari cerita teman baikku yang ikut MTO bulan Agustus 2013. Dia masih ingin ikut lagi di tahun 2014. Saya menjadi penasaran apa yang telah dia temukan di sana. Jadi saya memutuskan untuk ikut MTO di liburan akhir tahun 2013 ini. Semula saya ragu untuk menghabiskan penghujung tahun di tempat meditasi yang nota bene gak boleh ngobrol. Bukankah seharusnya year end itu identik dengan party? Tapi saya sangat bersyukur akhirnya memutuskan ikut MTO. Penghujung tahun 2013 yang lalu merupakan moment terindah yang pernah saya alami. Terima kasih Romo J

Saya termasuk orang yang tidurnya sangat pulas dan tidak bisa bangun tanpa weker. Jadi yang paling saya takutkan adalah suara bel dari panitia tidak sanggup membangunkan saya. Apalagi saya mendapat kamar yang di belakangnya terdapat air terjun buatan yang suaranya bergemuruh karena debit airnya lagi besar. Ditambah teman sekamar saya batal sehingga saya hanya sendirian. Apa yang saya takutkan menjadi kenyataan. Hari pertama saya terlambat bangun, benar-benar tidak mendengar suara bel. Mungkin terlambat 2 jam karena pagi sudah terang. Hari kedua, saya tidur tanpa menutup pintu kamar dengan harapan suara bel terdengar. Meskipun takut tidur tanpa menutup pintu kamar, ternyata saya lebih takut tidak mendengar suara bel. Suara air terjun pun membuat saya susah tidur. Akhirnya pada hari ketiga saya meminta bantuan panitia untuk mematikan air terjun di malam hari. Karena debit air yang besar, maka airnya hanya bisa dikecilin. Pada hari kelima, saya sudah tidak tahan karena susah tidur walau air sudah dikecilin, maka saya minta pindah kamar. Untunglah panitia bisa mengusahakannya sehingga saya bisa tidur nyenyak.

Waktu Romo meminta kami memeriksa batin, saya merasa hatiku berat sekali. Namun tidak ada satu pun kejadian menyakitkan yang muncul. Akhirnya saya menghadirkan kejadian yang menyakitkan yang pernah saya alami dan memandangnya dengan harapan dia lenyap; namun semua itu terasa palsu. Menurut Romo, landasan saya belum kuat. Ibarat mau maju berperang tapi senjata belum cukup. Berpegang pada nasihat Romo, maka pada meditasi berikutnya, saya tidak lagi sengaja menghadirkan pengalaman apa pun. Saya melihat batin saya, melihat hati saya yang masih terasa berat itu apa adanya. Sesaat kemudian, saya berhasil menyelami hati saya. Saya seperti melayang di angkasa. Semakin saya menyelami hatiku, semakin saya masuk ke dalamnya dan tidak ada dasarnya. Hati ini damai sekali dan itu berlangsung cukup lama. Akhirnya saya mencari Romo karena heran dengan kejadian ini. Bukankah seharusnya rasa sakit yang muncul dari hati yang berat ini, kok malah saya menemukan peace di situ. Romo menjelaskan bahwa rasa sakit itu ditransformasikan menjadi rasa damai.

Pada meditasi berikutnya, saya sudah bisa bermeditasi dengan hati yang plong. Namun ternyata muncul semua kejadian yang tidak menyenangkan dari saya kecil sampai sekarang secara acak. Semuanya muncul dan tenggelam. Saya seperti menonton film. Setelah semua peristiwa itu muncul, mereka satu persatu naik ke satu perahu yang sama dan berlayar pergi hingga lenyap dari pandangan saya. Saat semua peristiwa itu muncul, sebenarnya saya sudah siap menghadapi rasa sakit yang amat sangat. Namun yang terjadi adalah perasaan ini biasa-biasa saja dengan rasa sakit yang tidak seberapa. Selain itu, tidak ada rasa sakit apa pun di tubuh saya. Malah saya merasa sangat damai dan bebas dari semua itu. Setelah selesai meditasi, kata pertama yang terucap dari bibir ini adalah “God has mercy” (Tuhan berbelas kasih).

Pada malam puncak yang jatuh pas malam tahun baru, saya merasakan kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Tuhan. Saya sampai berkata dalam hati, “Tuhan…, bawalah jiwaku bertemu dengan-Mu”. Namun saya teringat nasihat Romo bahwa jika kita menggenggam tujuan, maka itu menjadi halangan. Jadi saya buang jauh-jauh keinginan itu. Waktu Romo mengatakan “I am light. God is the Supreme Light” (Aku adalah terang. Tuhan adalah Terang dari segala terang). Tiba-tiba saya melihat Terang yang sangat besar dan banyak sekali terang-terang kecil mengelilinginya. Saya spontan berkata dalam hati, “Saya bertemu Tuhan!”. Saya melihat terang-terang kecil itu sebagai kami yang hadir di meditasi ini. Hati saya sangat damai. Saya mendapat insight bahwa saya berasal dari Sang Terang. Maka saya adalah terang. Karena esensi Sang Terang adalah terang maka esensi saya adalah terang dan saya harus hidup dalam terang. Esensi Sang Terang adalah keindahan; maka esensi saya adalah keindahan. Kejadian ini berlangsung cukup lama.

Esok paginya setelah misa penutup, para peserta memberikan testimoni. Salah satu peserta mengatakan bahwa dia bertemu Sang Terang dan Terang itu mengatakan kepada dia tentang kami satu persatu. Setelah itu, teman tersebut menghampiri saya dan bertanya siapa namaku. Temanku ini bercerita bahwa pada malam dia bertemu Sang Terang, dia melihat ada dua peserta yang bersinar terang dan salah satunya adalah saya. I am so blessed (Saya sangat terberkati).

MTO ini benar-benar telah mengubah pandangan saya tentang hidup dan Tuhan. Terima kasih Romo atas bimbingannya. Gbu