Oleh J.Sudrijanta

“Sekali peristiwa Yesus mengatakan suatu per­um­pamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” (Lukas 8:1)

Sudahkah Anda menemukan suatu bentuk doa yang tidak membuat Anda jemu atau bosan, suatu bentuk doa yang bisa dilakukan bukan hanya setiap hari tetapi setiap saat, secara terus-menerus, sepanjang waktu?

Ignatius Loyola bermaksud membantu orang untuk menemukan Tuhan dalam segala hal ketika berbicara tentang Examen of Consciousness—yang saya alih bahasakan menjadi Doa Kesadaran. Ignatius mewajibkan para Jesuit untuk menghabiskan waktu 1 jam setiap hari dalam keheningan doa. Namun demikian, seorang Jesuit dibenarkan untuk meninggalkan waktu 1 jam doa karena alasan tugas pelayanan yang mendesak untuk dilakukan, tetapi tidak disarankan untuk meninggalkan praktik Examen. Secara formal Examen dilakukan selama 15 menit 2 kali sehari, siang dan malam. Secara informal Examen dilakukan setiap saat, terus-menerus, sepanjang waktu. Bagi Ignatius Loyola, Examen adalah olah kerohanian yang sangat penting untuk menemukan Tuhan dalam segala hal sepanjang waktu.

Apa yang disebut dengan Examen atau Doa Kesadaran?

Examen of Consciousness (Doa Kesadaran) berbeda dengan Examination of Conscience (Pemeriksaan Kesadaran). Pemeriksaan Kesadaran sudah biasa dipraktikkan oleh orang Katolik sebagai persiapan Pengakuan Dosa. Orang memeriksa kesalahan dan kedosaannya sebelum masuk ke ruang pengakuan. Doa Kesadaran bukan Pemeriksaan Kesadaran. Juga bukan introspeksi untuk melihat kelemahan dan kekuatan diri, bukan pula refleksi untuk melihat pengalaman dengan mencocokkan dengan ideal moral atau spiritual tertentu. Examen atau Doa Kesadaran secara formal adalah praktik menyadari segala pengalaman dari hari yang telah lewat untuk menemukan Tuhan yang hadir dan berkarya dalam setiap peristiwa. Secara informal, Doa kesaadaran adalah praktik menyadari segala pengalaman pada saat kemunculannya sepanjang waktu.

Doa Kesadaran bukanlah doa dalam pengertian kebanyakan, bukan doa liturgis, bukan doa devosional, bukan doa permohonan, bukan doa dengan Kitab Suci, bukan kontemplasi dengan menggunakan daya visualisasi atau imaginasi, bukan doa pada umumnya yang kita kenal; melainkan doa yang membawa hati terarah kepada Tuhan dengan melihat pengalaman kita dalam perjumpaan dengan peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari.

Terdapat beberapa perbedaan antara doa pada umumnya dan Doa Kesadaran.

1.Dalam doa pada umumnya, orang menempatkan Tuhan jauh dan berjarak. Dalam Doa Kesadaran Tuhan terasa begitu dekat. Ia terlibat dalam setiap pengalaman kita—segala pengalaman inderawi dan pengalaman batin sejauh terkait dengan kesadaran.

2.Dalam doa orang bisa dipusingkan dengan bahan doa, rumus doa, apa yang harus didoakan, apa yang harus dilakukan, untuk siapa atau apa doa dilakukan.Dalam Doa Kesadaran, bahan doa tidak perlu dicari-cari; segala sesuatu yang dialami hari itu adalah bahan doa. Dalam segala hal–setiap perasaan suka atau duka, setiap masalah atau tantangan, penghiburan atau kekeringan, pikiran jahat atau pikiran luhur–Tuhan ditemukan.

3.Dalam doa kita sering berfokus pada apa yang kurang, apa yang tidak kita miliki, dan membuat kita kurang bersyukur. Doa Kesadaran berfokus pada apa yang kita miliki, apa yang kita alami, dan membuat kita berkembang dalam rasa syukur secara alamiah. Tuhan memberikan begitu banyak anugerah—kehidupan, keluarga, teman, kegiatan atau karya, segala pengalaman, segala kemampuan yang kita miliki, termasuk kemampuan untuk berterimakasih dan bersyukur itu sendiri.

4.Kita sering berpusat pada diri sendiri, mengandalkan diri sendiri, sehingga mudah membuat kita tertekan atau depresi, juga selama doa. Doa Kesadaran membantu kita untuk mengarahkan perhatian bukan terpusat pada diri kita tetapi terpusat pada Tuhan. Kunci seluruh Doa Kesadaran adalah menghargai setiap pengalaman karena Tuhan terlibat dalam setiap peristiwa.

5.Dalam doa, kita cenderung mau menjadi apa yang seharusnya—menjadi lebih sabar, lebih baik, lebih suci, lebih sempurna, dan seterusnya. Itu tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar, karena kita lalu tidak jujur dalam menghadapi fakta kita apa adanya.  Melihat fakta apa adanya lebih penting dari pada membangun niat apa yang seharusnya. Doa Kesadaran membantu kita jujur dengan diri kita sendiri, belajar melihat dengan penuh perhatian fakta apa adanya bersama Tuhan.

6.Dalam doa pada umumnya, kita seringkali menekan perasaan yang tidak menyenangkan dan melekati perasaan yang menyenangkan. Dalam Doa Kesadaran, rasa-perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan—takut, gelisah, bosan, sedih, galau, damai, cinta, berkobar–dibiarkan muncul ke permukaan. Itu semua menjadi wahana untuk mengenal Tuhan dan rahmatNya, bukan membuat kita menjadi tertekan atau terseret oleh perasaan.

7.Doa pada umumnya masih terpisah dari hidup. Dalam Doa Kesadaran kita belajar menyadari dan menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, sepanjang waktu, sehingga tidak ada lagi pemisahan antara “berdoa” dan “hidup”.

Apa tahap-tahap Doa Kesadaran formal?

Doa Kesadaran yang dilakukan secara formal terdiri dari lima tahap–atau lebih tepat dinamakan dimensi (Ignatius Loyola, Latihan Rohani, No. 43). Kelima dimensi itu adalah “Light”(Terang), “Thanksgiving” (Syukur), “Feeling” (Perasaan), “Focus” (Fokus), “Future” (Saat Berikutnya); supaya mudah diingat semuanya bisa disingkat LT3F.

Pertama, mohon terang rahmat untuk belajar melihat keseluruhan hari dari cara Tuhan melihat, bukan cara kita melihat. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengetahui cara Tuhan melihat? Kita tidak tahu. Yang kita ketahui adalah cara kita melihat dan cara kita melihat bukanlah cara Tuhan melihat. Kalau kita melihat, maka kita cenderung membenarkan atau menyalahkan, menilai baik atau buruk, melihat menurut kerangka pemikiran dan pengalaman kita sendiri. Kalau kita menyadari cara kita melihat dan cara kita melihat tersebut mengotori persepsi dalam melihat, maka ada kemungkinan cara kita melihat runtuh dengan sendirinya; ketika runtuh timbullah tindakan melihat apa adanya. Melihat apa adanya paling mendekati kebenaran bagaimana Tuhan melihat. Dan untuk melihat apa adanya seperti Tuhan melihat dibutuhkan rahmat—bukan hasil dari kekuatan kita.

Kedua, bersyukur atas segala pengalaman dari hari yang baru saja dilalui sebagai anugerah Tuhan. Batin yang mampu melihat apa adanya akan menemukan rasa syukur sebagai suatu gerak yang spontan dan alamiah.

Ketiga, melihat seluruh pengalaman sebagai hasil dari kontak dengan objek-objek inderawi maupun objek-objek dalam batin; melihat pikiran, perasaan, kata-kata dan tindakan.

Keempat, melihat secara lebih khusus apa yang palsu sebagai palsu atau apa yang benar sebagai benar. Kita mohon pengampunan atas segala kekeliruan dan mohon Tuhan menunjukkan jalan untuk lebih maju.

Kelima, kita bertanya apa yang perlu lebih khusus diperhatikan, dimana Tuhan diharapkan hadir pada saat-saat selanjutnya.

Praktik “Melihat” sebagai Inti Doa Kesadaran

Inti Examen atau Doa Kesadaran adalah “melihat”. Dalam praktik “melihat apa adanya” kelima tahap atau dimensi di atas sudah tercakup di dalamnya. Dalam Doa Kesadaran formal, kita belajar melihat seluruh pengalaman sehari yang telah lewat untuk menemukan Tuhan yang hadir dan berkarya dalam setiap peristiwa; dalam Doa Kesadaran informal, kita belajar melihat pengalaman-pengalaman saat kemunculannya sepanjang waktu.

Jiddu Krishnamurti memperkaya kita dengan insight tentang “melihat” (Krishnamurti in India 1970-71, pg. 50). Langkah pertama adalah langkah terakhir. Langkah pertama adalah melihat, melihat apa yang kita pikirkan, melihat keinginan atau hasrat kita, melihat kecemasan kita, melihat ketakutan kita, melihat kesepian kita, melihat kepedihan-kepedihan kita; melihatnya, tanpa menyalahkan, tanpa membenarkan, tanpa menginginkannya menjadi lain. Hanya sekadar melihatnya, seperti apa adanya—itulah cara Tuhan melihat.

Kita belajar melihat pengalaman kita dengan Mata yang dipakai Tuhan untuk melihat pengalaman yang sama. Kita belajar melihat segala sesuatu dengan Mata yang dipakai oleh Tuhan untuk melihat segala sesuatu. Kita belajar melihat Tuhan dengan Mata yang dipakai Tuhan untuk melihat diri ini.

Bila Anda melihatnya seperti apa adanya, maka terjadilah tindakan yang sama sekali lain, dan tindakan itu adalah tindakan terakhir. Jadi, bila Anda melihat apa yang palsu sebagai palsu dan apa yang benar sebagai benar, maka persepsi itu adalah tindakan terakhir, yang adalah langkah terakhir. Maka melihat apa adanya adalah langkah pertama sekaligus langkah terakhir.

Melihat apa adanya–seperti Tuhan melihat–hanya mungkin bila ada pengamatan penuh kesadaran. Bila batin dapat mengamati dengan sangat intens—dimana pengamatan terjadi tanpa si pengamat–maka pengamatan itu sendiri adalah tindakan yang mengakhiri kepedihan. Tindakan langsung-seketika pada saat melihat apa adanya, bukan apa yang seharusnya, adalah tindakan benar—itulah tindakan Tuhan.

Doa Kesadaran yang dipraktikkan secara formal maupun informal dari saat ke saat sepanjang waktu akan meruntuhkan jurang antara “melihat” dan “bertindak”, karena “melihat adalah bertindak”; juga meruntuhkan jurang antara “doa” dan “hidup”, karena “doa adalah hidup” dan “hidup adalah doa”.

Kisah berikut ini—yang saya adaptasi dari Anthony de Mello, Burung Berkicau (CLC 2009, hal. 23-24)– menunjukkan pentingnya “sadar” dan “melihat”.

“Maaf, kawan,” kata seekor ikan laut kepada seekor ikan yang lain. “Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Di manakah saya dapat menemukan samudera? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja.”

“Samudera adalah tempat dimana engkau berada sekarang,” jawab ikan yang lebih tua.

“Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah samudera,” sangkal ikan yang muda.

Dengan perasaan kecewa, ia pergi mencarinya di tempat lain.

Bertahun-tahun lamanya ia mencari dan sia-sia. Maka ketika ia bertemu dengan ikan yang lebih tua yang kedua, ia menanyakan hal yang sama; tetapi juga mendapat jawaban yang tidak berbeda.

Ia berjalan lebih jauh dan lebih lama. Akhirnya ia bertemu dengan ikan yang lebih tua yang ketiga. Ia mengajukan pertanyaan yang sama.

“Di manakah samudera? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia?”

 “Samudera adalah tempat dimana engkau berada sekarang,” jawab ikan yang lebih tua yang ketiga.

Ikan yang lebih muda itu heran mengapa ia mendapat jawaban yang sama, bahwa samudera adalah tempat di mana sekarang ia berada. Maka ia bertanya, “Mengapa engkau melihat, sedangkan aku tidak bisa melihat? Tunjukkan mengapa aku tidak melihat?”

“Engkau tidak melihat, ikan kecil,” kata ikan yang lebih tua, “karena engkau tidak memiliki cahaya.”

“Tunjukkan cahaya itu sehingga aku bisa melihat,” pinta ikan yang lebih muda.

“Cahaya itu adalah ‘kesadaran,” jawab ikan yang lebih tua. “Kalau engkau memiliki ‘kesadaran’, maka engkau akan bisa ‘melihat’. Maka berhentilah mencari; belajarlah untuk ‘sadar’ dan ‘melihat.’” (JS)