C3y, 40 tahun, Jakarta

Semuanya diawali dari kekacauan rumah tanggaku. Masalah rumah tanggaku mengantar aku ke titik 0. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Batinku labil dan kacau, sampai Tuhan mendengar doaku. Timbullah pencerahan dan kekuatan baru. Pencerahan tersebut aku temukan di sebuah retret yang diadakan oleh salah satu gereja kristen. Di tengah kekacauan rumah tanggaku yang masih berlanjut, aku menemukan kekuatan baru, ketenangan dan kedamaian luar biasa. Aku bisa menghadapi masalahku dengan ikhlas. Sampai kurang lebih setahun ketenangan tersebut aku rasakan. Sayang kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Batinku kembali drop sampai akhirnya rumah tanggaku tidak bisa diselamatkan.

Dari sinilah pencarian spiritualku mulai berjalan. Kerinduan dan kehausan untuk kembali ke moment di mana aku sempat merasa damai dan tenang di tengah masalah-masalah beratku, terus berlangsung selama bertahun-tahun. Dari gereja yang satu ke gereja yang lainnya aku masuki, sampai akhirnya aku memilih satu gereja untuk belajar berkomitment dengan harapan aku bisa kembali dijamah dan kembali ke titik tersebut.

Hasil dari usahaku tersebut sia-sia. Betapa sulitnya untuk kembali ke moment tersebut. Pencarian tersebut terus berlangsung sampai aku menemukan nama Reza Gunawan, salah seorang meditator. Dari beliau saya tahu mengenai meditasi. Pencarianku terus berlanjut sampai aku ketemu dengan Romo Hudoyo. Sempat bicara dengan beliau dan beliau menyarankan aku untuk ikut dengan Romo sudri. Romo Hudoyo memberi kata kunci untuk aku cari di internet, Gereja Santa Anna.

Retret meditasi pertama aku ikuti selama 10 hari 3 tahun lalu pada libur Idul Fitri 2010. Benang merah aku temukan dari ketiga meditator handal tersebut. Aku sadar keinginan-keinginan untuk kembali ke titik dimana aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa itu adalah pelarian dari kekacauan rumah tanggaku, kekacauan kondisi keuanganku, pekerjaanku, hubunganku dengan kedua orang tuaku beserta adik-adikku. Semua itu merupakan kotoran-kotoran batin yang harus aku lepaskan.

Pada retret kali ini, aku seperti menemukan rumah. Aku seperti baru melakukan perjalanan jauh dengan membawa rasa capek dan penat. Ketika pulang kerumah disambut dan diterima dengan senyuman hangat. Lega sekali. Kembali aku sadari bahwa rasa lega itu juga sudah merupakan kotoran batin. Pelan tapi pasti aku belajar untuk tetap sadar. Ini adalah awal aku mulai memahami pentingnya kesadaran.

Langkah kesadaran sudah mulai terayun. Aku merasakan ini adalah jalan yang benar untuk aku lalui. Perjalanan untuk kembali ke titik 0 terus berlanjut. Yang berbeda sekarang adalah perjalanan ini aku lakukan dengan kesadaran penuh.

Terima kasih untuk semua orang yang hadir dan pernah hadir dalam hidupku, yang membentuk aku seperti sekarang ini, karena dengan cara seperti ini lah aku berada ditempat aku berada sekarang, ditempat dimana aku berlatih berjalan dengan kesadaran. From Hero to Zero…

Breathe & Smile

– C3y-