ISD, 42 tahun, Tangerang

Saya mau sharing sedikit tentang pengalaman saya mengikuti  retret MTO.

Selama retret saya tidak pernah bertanya dan tidak pernah konseling dengan romo. Tujuan saya ikut retret adalah untuk belajar melepas “ego” atau “keakuan”. Saya mau belajar untuk melepas segala pikiran yang ada dan saya tidak mau sibuk berpikir untuk bertanya ini dan itu. Romo tiap kali mengatakan untuk melupakan apa yang romo ajarkan saat itu dan saya lupakan saat itu pula. Alhasil saya tidak mengingat lagi apa yang romo ajarkan.  Bahkan saya juga banyak yang lupa tentang hal-hal lainnya.

Jadi seperti orang “oon”, karena banyak yang lupa.  Hehehe… Ketika retret saya cukup mengerti apa yang romo ajarkan. Saya sangat menikmati prakteknya, terutama ketika “walking meditation”.

Pada hari Jumat pagi ketika retret, saya mengalami kesembuhan pada kedua paha bagian atas. Sudah 4 tahun paha saya nyeri kalau sedikit ditekan; kemungkinan peredaran darah yang tidak lancar. Setelah sarapan hari Jumat pagi itu, karena kedinginan, saya berjemur di taman dengan menghadap ke Matahari. Tidak lama kemudian saya merasakan sensasi seperti kesemutan di paha saya, seperti semut berkeliaran. Hanya pada bagian yang terasa sakit saja saya merasakan itu. Saya merasakan hangat pada bagian itu dan lama-kelamaan saya merasakan panas dari sinar matahari yang cukup terik.

Saya mencoba untuk bertahan sampai ke titik puncak, seperti yang romo ajarkan. Dan rasa panas itu semakin lama semakin panas dan panas sekali. Rasanya saya ingin menyerah, tapi saya tetap berusaha bertahan, hingga keluar keringat dingin. Karena rasa panas yang luar biasa itu, panasnya jadi terasa dingin. Saya bertahan pada titik itu hingga beberapa saat, dan akhirnya saya merasa tidak kuat lagi. Anehnya, yang terasa panas itu hanya pada bagian yang terasa sakit saja.

Satu jam kemudian ketika saya mandi, saya melihat kedua paha saya di bagian itu berwarna merah sekali dan cukup lebar. Warna merah itu baru hilang setelah beberapa jam. Ketika saya menaiki tangga, kaki saya terasa ringan dan paha saya sudah tidak terasa nyeri ketika ditekan. Saya tahu bahwa saya telah sembuh dari rasa sakit itu. Lalu saya sengaja pijit-pijit dan memang sudah tidak terasa nyeri lagi. Saya merasakan manfaat dari praktik kesadaran ini. Trimakasih banyak saya ucapkan.

Saya juga mohon maaf, karena ketika hari Jumat itu saya ikut terlibat dalam obrolan. Sore harinya ketika meditasi, saya merasakan ada sesuatu yang kurang enak di hati saya. Terasa seperti ada yang berkurang.

Sehari sebelum hari terakhir pada acara dialog, ada kata-kata romo yang sangat menyentuh saya. “Mendekati hari terakhir, biasanya ada godaan untuk ngobrol atau lengah. Kalau kita tidak menjaga keheningan sampai akhir, maka kita telah merusak apa yang kita bangun sejak awal retret dan kesadaran kita tidak menjadi matang. Itu seperti menanak nasi. Untuk menanak nasi, dibutuhkan panas yang konstan sampai titik klimaks. Kalau belum klimaks dan kita turunkan panasnya, maka nasi tidak tanak atau tidak matang.”

Pada Jumat malam semangat saya berkurang. Ketika saya mendengar apa yang romo katakan  itu, saya sangat menyesal. Pada hari Sabtu itu saya rasanya bête. Pokoknya saya menyesal sekali karena saya ikut mengobrol di hari  Jumat. Seketika itu saya berniat untuk ikut retret lagi. Kalau bisa panitia atau pesertanya tidak ada satupun yang saya kenal. Kalau boleh, saya mau minta jadwal retret romo di sisa akhir tahun ini.

Sekian sharing dari saya.

Salam,

-ISD-