POV, 35 tahun, Akuntan, Surabaya.
Terima kasih atas bimbingan retret 7 hari (3-10 agustus) yang lalu. Terima kasih dan salam untuk panitia yang telah mengorganisir retret dari awal hingga akhir. Terima kasih saya diijinkan untuk mengikuti retret hanya hingga tanggal 8, dan saya sangat menghargai kesempatan yang diberikan kepada saya.

Awalnya sebelum mendaftar retret MTO, saya memang sedang mencari retret yang lebih fokus ke pribadi. Dalam bentuk apa atau untuk mencari apa saya tidak punya gambaran pasti, tapi hati saya cuman mengarah untuk memilih retret yang beda dari retret yang pernah saya ikuti. Karena MTO dipimpin seorang Romo, maka saya merasa lebih aman secara spiritual dan berharap sekali untuk diijinkan ikut dengan keterbatasan schedule yang ada. Saya juga mencoba untuk mendaftar retret di Girisonta, tapi ternyata sudah full hingga Desember. Saya ikut retret MTO pun tanpa pengharapan akan hasil, tapi entah kenapa hati saya mantap and was looking forward to it.

Ketika tiba di tempat retret, saya merasa bersyukur sekali, karena perjalanan dari Surabaya hingga Puncak berjalan dengan sangat lancar tanpa acara delay atau macet seperti yang dikhawatirkan; malahan saya dapat teman perjalanan dari Ngawi sesama peserta retret. Tempat retret pun memiliki view yang sangat indah, pertama kali dalam seumur hidup saya ke puncak, and it was worth it. Teman sekamar saya baik. Dan peraturan retret untuk tidak berkomunikasi selama retret sangat membantu keseluruhan proses meditasi.
Selama retret, karena baru pertama kali ikut MTO, saya masih dalam tahap pemahaman intelektual dan seringkali ini membingungkan. Ketika seharusnya tidak boleh menggunakan pikiran, saya malah asyik berpikir untuk memahami prosesnya. Ketika saya mengira saya hampir sampai di titik yang dituju, saya malah kembali ke garis awal. Akhirnya saya berhenti mencoba, dan membiarkan pikiran menari-nari, dan saya hanya menonton.

 

Pemahaman akan apa yang terjadi selama retret, malah saya rasakan setelah saya berinteraksi lagi dengan realitas setelah retret. Entah darimana datangnya, saya menyadari bahwa ada emosi yang sangat besar dalam diri. Semula saya kira saya sudah mengontrolnya selama ini, tapi sekarang saya sadar ternyata emosi itu tidak terkontrol. Ketika muncul bahkan saya merasa itu hal yang wajar dan saya berhak marah.

Setelah retret, saya bahkan bisa menyadari gerak emosi itu ketika akan datang, saat memuncak dan merasakannya memudar dengan sendirinya. Padahal secara fisik, saya sedang berinteraksi dengan orang lain; bicara tapi intonasi nada saya tidak meninggi, di mana biasanya suara saya pasti sudah marah di oktavo tertinggi. Yang saya heran nih, ketika belajar dan berlatih selama retret saya tidak bisa melakukannya, tetapi justru di kehidupan sehari-hari secara otomatis kesadaran bekerja, terjadi begitu saja tanpa upaya untuk melakukannya.

Saya juga menyadari kalau saya mempunyai rasa takut. Takut untuk merasakan rasa perasaan yang ada. Mungkin ini jawaban kenapa saya tau kalau ada rasa dari kejadian masa lalu, tapi saya tidak bisa merasakan rasa-rasa itu. Untuk saat ini, saya masih tidak berani mengutak-atik rasa takut ini. Bisa dibilang karena kelekatan akan kenyamanan daripada harus merasakan lagi rasa-rasa itu, atau karena saya memilih untuk terus maju dengan keterkondisian batin seperti itu. Saya tidak merasakan kedamaian atau kenyamanan dengan hal yang saya sadari di atas ketika terjadi, tetapi saya juga tidak merasakan kelelahan atau kejenuhan batin seperti sebelumnya. Pikiran juga seakan menemukan tempatnya tersendiri, dan saya bisa hanya diam secara sadar tanpa berpikir dan menyadari kalau saya sedang melakukan itu di tengah keramaian orang, meskipun timing-nya hanya dalam hitungan menit.

Demikian pengalaman saya dengan MTO sebelum dan sesudahnya. Saya dalam tahap belajar dan mencari. Saya tahu kemana tujuan saya harus tiba dan saya ada di jalur yang tepat untuk sampai. Terima kasih Romo.

Best regards,
-POV-