LK, 53 tahun, Bekasi

Saya terbangun dan membaca berita sms, bahwa Romo Alfons Sebatu meninggal dunia kemarin sore jam 17.30. Sungguh berita yang sangat mengejutkan! Seminggu sebelum retret bersama Romo, saya mengikuti seminar beliau di aula gereja Kota Wisata, Cibubur.

Seharusnya seminggu sebelumnya, saya mengikuti seminarnya di keuskupan Bogor tentang penyembuhan luka batin; sayangnya saya tidak bisa hadir karena sakit. Ada rasa kehilangan dan sedih, saya masih ingin mengikuti seminar-seminar beliau. Tapi kehidupan adalah fana, begitu cepat berlalu. . . . Saya seperti diingatkan Romo dalam walking meditation: “Nafas pertama adalah nafas terakhir”, “langkah pertama adalah langkah terakhir. . . . ” Jadi saya memaksakan diri untuk menulis email ini. Siapa tahu kapan nafas kehidupan ini berakhir, saya akan mempunyai hutang email kepada Romo kalau saya mendadak meninggal sebelum sempat mengirim email ini. Kata Djohan Suami saya, “Life is too short. . . “ (Hidup begitu pendek) untuk menyelesaikan semua yang harus dikerjakan dan tak akan ada habisnya dalam satu kehidupan ini.

Apa yang saya alami selama seminggu retret meditasi sangat mengesankan dan kaya dengan pengalaman baru, sehingga sulit untuk menceritakannya secara rinci. Memori memang semakin memudar dengan berjalannya waktu. Romo benar.

Malam pertama, saya masih merasa berat menjalani retret ini. Seperti yang saya jelaskan kepada Romo, saya galau dan cemas mengikuti retret ini, takut tidak tahan harus bermeditasi seharian selama 7 hari, apalagi kondisi saya sedang tidak fit. Rasanya pas kalau Djohan bilang, saya nekad. Saat terakhir, saya masih menyesali mengapa tidak ikut yang 3 hari saja seperti Stevanus Gunawan. Apalagi Poppy Melati, teman SMA saya bilang, “Kok rajin amat sih ikut retretnya Romo Sudri, kan dia antik orangnya. ” Saya tidak risau tentang Romo, tetapi saya takut dengan kemampuan saya apa bisa tahan mengikuti retret? Tiga hari ikut Vipassana dr. Hudoyo rasanya sudah berat banget. Tapi saya yakin retret ini bagus.

Saya mendengar pertama kali tentang Romo tahun 2008, waktu Romo masih di St Anna, Duren Sawit, dari rekan sekantor. Dia termasuk umat yang anti dengan meditasi yang Romo ajarkan. Waktu itu saya berpikir, saya ingin kenal dengan Romo yang wawasannya luas dan lintas agama ini.

Selang beberapa tahun kemudian, lupa kapannya, Stevanus Gunawan cerita tentang pengalamannya ikut meditasi dengan Romo. “Menyenangkan dan bagus”, komentarnya. Dia malah mengirimi saya VCD-VCD kotbah Romo di St Anna. Saya baru mengenal Romo dari jauh.

Terakhir Susy sharing mengenai pengalamannya mengikuti retret Romo di Kintamani, Bali. Menurut pengakuannya, dia mengalami penyembuhan luka batin semasa kecil dan sewaktu di SMA dan bisa memaafkan suaminya dengan tulus. Rasanya saya terdorong untuk ikut, tapi saya takut tidak tahan retret 7 hari. Maunya ikut yang 3 hari, tapi ternyata belum ada saat itu. Saya kan bukan praktisi meditasi, gila apa ikut retret 7 hari! Guru taichi saya yang selalu support saya secara mental menyemangati, “Kamu pasti bisa!” Kakak ipar saya ikut mendukung supaya ikut retret ini; dia umat di paroki Romo. Dia bilang , “Ikut aja, Romonya bagus !”

Beruntung ada teman lingkungan, Ibu Cypriana, yang secara ajaib juga ikut; jadilah saya punya teman retret. Tetap hari-hari terakhir akan berangkat makin stress, apalagi membaca Tata Tertibnya, total silence selama seminggu, makan cuma 2 kali sehari. Terpikir, “Nanti kalau maagnya kambuh bagaimana ya? Masa sakit waktu retret? Kalau dalam keheningan meditasi, perut keroncongan, bukannya bikin ketawa?” Saat-saat terakhir akan pergi, rasanya kacau dan terburu-buru; akibatnya vertigo dan insomnia saya makin parah. Baru pagi keberangkatan, saya beresin koper dalam keadaan sakit kepala parah. Tidak tahu apa yang harus dibawa; saya mengikuti naluri saja. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa kondisi saya waktu malam pertama.

Hari Kedua

Dalam walking meditation di taman, untuk pertama kalinya saya merasakan kehadiran “Yang Maha Kuasa” di alam sekitar. Ini yang selalu dirasakan suami saya setiap berjalan pagi; yang tidak pernah saya rasakan, saya sadari saat itu. Mengapa saya tidak bisa merasakannya? Karena pikiran dan ego menguasai diri saya selalu. Saya ingat Djohan selalu mengatakan, “Keluar dari lingkup diri, jangan selalu berpikir dalam penjara ego, tapi keluar!” Saya sampai terharu mengalami kesadaran untuk pertama kalinya. Selama ini saya sudah bersikap egois dan sibuk dengan pikiran-pikiran liar saya sendiri. Saya paksa diri saya untuk bicara dengan Romo dan menjelaskan situasi saya; rasanya lebih melegakan.

Hari Ketiga

Setelah konsultasi dengan Romo lagi pada pagi harinya, siangnya saya merasa vertigo saya makin memburuk. Saya sampai menulis ke Wilian untuk minta apakah saya bisa pindah ke kamar bawah , karena kalau turun tangga, kepala saya kliyengan. Rupanya Mona, panitia, bilang tidak bisa. Tidak apa-apa juga sih, karena saya juga malas menata koper lagi untuk terus pindah ke bawah; kepala saya tambah sakit jika melihat ke bawah.

Seperti dalam setiap sesi meditasi, pada meditasi malam saya selalu ketiduran. Tapi kali ini saya terbangun dan kaget luar biasa, karena tubuh saya lumpuh, dada dan isi tubuh saya seperti terbagi dalam kotak-kotak hitam besar. Sakitnya luar biasa! Saking sakit dan kagetnya, spontan di dalam hati saya menjerit, “Romo! Romo. . . . ” Saya sadar, Romo ada di sebelah saya, tapi saya serasa lumpuh tidak bisa bergerak; hanya rasa sakit hebat yang mendera. Kemudian saya ingat Romo bilang, “Kalau merasakan sakit, sadari, amati dan rasakan sampai titik puncak; nanti akan mereda dan akhirnya hilang.” Jadi saya duduk diam, mengamati, menyadari, merasakan sakitnya memuncak, kemudian sedikit demi sedikit mereda. Yang terlihat pada penglihatan saya, kotak-kotak hitam itu perlahan-lahan luluh sebagian-sebagian ke bawah, sampai akhirnya luluh semua, meninggalkan dada dan perut saya serasa kosong yang melegakan. Saya merasa Romo telah membantu saya entah bagaimana. Dalam hati saya mengucap syukur dan terima kasih kepada Romo atas bantuannya.

Hari Keempat

Pada sesi meditasi malam, tiba-tiba saya merasa sakit kepala luar biasa terutama pada sisi kiri,, lengan kiri sampai dada dan perut sakit luar biasa; tidak bisa dilukiskan sakitnya. Karena kemarin sudah mengalami hal yang mirip, saya cuma bisa diam pasrah, merasakan, menyadari rasa sakitnya yang pelan dan pasti memuncak. Dalam penglihatan saya, sakitnya kelihatan seperti gumpalan hitam yang menempel di kepala, lengan, dada dan perut. Kemudian seperti kemarin pelan-pelan gumpalan hitam itu luluh keluar. Dalam prosesnya badan saya seperti ditekan paksa ke bawah, sampai saya terbungkuk dengan sendirinya, tidak kuasa melawan kekuatan besar yg mendorong tubuh saya ke depan. Rasanya seperti ada yang mengatakan, “Be humble !” (Jadilah rendah hati!) Ego harus dikeluarkan atau dilepaskan. Selama proses pelepasan gumpalan-gumpalan hitam, saya merasakan seolah di alam yang gelap ini penuh dengan getaran dan suara gaduh seperti bunyi ribuan jangkrik. Apa ini yg suka disebut Djohan, suara alam? Tubuh saya masih membungkuk, waktu Romo memberi tanda meditasi selesai dan mengatakan sesuatu tentang penderitaan. Jasinta waktu itu heran, “Kok saya meditasi sampai membungkuk?” Sesudah Romo selesai mengatakan sesuatu, tubuh saya pelan-pelan baru bisa saya tegakkan. Rasanya lega tapi sekaligus melelahkan sekali; rasanya semua energi saya terkuras keluar. Saya sampai harus duduk di kursi dan kemudian ke toilet untuk cuci muka. Sesudahnya walking meditation berjalan lama sekali. Saking tubuh terasa lelah dan tenaga terkuras, rasanya jadi lapar sekali dan sakit maag saya kambuh. Di akhir sesi, saya yakin Romo kembali sudah membantu saya mengalami pelepasan luka batin. Terima kasih sekali lagi Romo!

Hari Kelima

Pada sesi meditasi siang, bahu saya sakit seperti orang yang sedang memanggul beban berat, lengan kanan sakit dan sisi kanan tubuh saya seperti dicambuk dengan kilatan-kilatan listrik. Saya pikir, apalagi sih yang mau dilepaskan? Sepertinya kemarin semuanya sudah keluar. Jangan-jangan sakitnya Ibu Cypri yang duduk di sebelah saya pindah ke tempat saya? Kepala saya mulai sakit lagi, makin memuncak; semakin diamati dan disadari, sakitnya memuncak tapi tidak mereda. Akhirnya saya tidak tahan. Saya tidak tahu, mengapa ini terjadi.

Selama sesi meditasi malam, saya hanya duduk di kursi pinggir, meditasi, tertidur, bangun, meditasi dan tertidur lagi. Badan rasanya tidak karuan, demam dan sakit kepala sampai meditasi malam berakhir. Malamnya sewaktu tidur, saya terbangun dengan menggigil kedinginan. Biasanya ini terjadi setiap saya sedang haid; jadi bukan hal yang aneh. Kemudian saya merasakan ada hawa hangat; jadi saya bisa tertidur kembali.

Hari Keenam

Pada sesi pagi hari saya merasa seperti terbang melayang di angkasa dan melihat bumi di bawah, kadang berupa pepohonan yang rimbun yang maha luas, perlahan-lahan saya bisa turun dan saya melihat semakin dekat dengan bumi/dataran. Rasanya seperti nonton film 3 D di theater Imax. Walau saya seolah-olah jatuh dari langit pelan-pelan, saya tidak takut; hanya rasanya agak gamang seperti vertigo ringan. Kadang berupa daratan merah luas sekali, tapi lebih seringnya seperti pepohonan pekat di hutan yang maha luas.

Pada sesi malam saya mengalami masuk ke dalam tunnel yang gelap seperti masuk ke dalam lorong kegelapan yang tak ada habis-habisnya. Saya tidak takut. Saya berjalan terus mengikuti terowongan gelap sampai terlihat ada satu titik terang. Saya ikuti terus dan akhirnya malah sampai di kegelapan total.

Hari Ketujuh

Pada sesi meditasi terakhir pagi, seperti kemarin-kemarin saya mula-mula seperti melayang di udara dan melihat dataran pepohonan luas di bawah. Tiba-tiba saya seperti berjalan di jalan yang gelap gulita, seperti waktu masuk tunnel. Bedanya ini bukan terowongan, tapi jalan luas yang gelap hitam. Tidak seperti ketika masuk tunnel, kali ini ada rasa takut. Saya melihat ada orang-orang lewat beriringan melewati saya. Rasanya saya tidak mengenal mereka, tapi saya ketakutan. Tiba-tiba timbul pikiran, jangan-jangan saya dibawa melihat dunia orang mati, kok perasaan saya takut? Kemudian lewat sesosok tubuh. Saya yakin ini bukan tubuh orang hidup, tapi arwah. Ketakutan saya menjadi-jadi. Saya dengan sadar seolah menarik tangan Romo yang duduk di sebelah saya seraya berkata dalam hati, “Romo, temani saya, saya takut!” Dalam bayangan, seolah saya memegang tangan Romo dan berjalan terus entah kemana, jalannya gelap menurun. Tiba-tiba seolah dari perut dan dada muncul cairan hitam pekat, naik ke atas kepala dan tumpah keluar, sampai saya tertunduk. Semua cairan hitam pekat akhirnya keluar dari kepala saya. Sesaat kemudian Romo mengakhiri sesi meditasi dan mulai mempersiapkan misa penutupan yang berjalan khidmat dan indah. Terima kasih Romo, saya bisa mengalami misanya yang indah dan unik!

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi, apa saya dilepaskan. Apakah itu ketakutan yang sering mendera saya setiap kali mengalami depresi? Semoga !

Dalam meditasi saya juga mendapat penglihatan ada semacam getaran energi yang kuat berbentuk segi empat yang mengalir berputar mengelilingi tempat kita melakukan meditasi, energinya konstan dan stabil bergerak mengelilingi  dalam ruangan.

Setelah Retret

Sampai sekarang, sakit kepala dan vertigo masih saya rasakan, tapi tidak seperti dulu. Saya tidak terlalu merisaukannya sekarang. Merasa tidak nyaman, pastilah! Anehnya, saya tidak terlalu menderita lagi, cuma berusaha menyadari terus adanya sakit dan itu tidaklah terlalu mengganggu lagi.

Rasanya saya sedikit lebih sabar sekarang, tidak terlalu tergesa-gesa dan lebih bisa menahan diri dalam mendengarkan orang lain berbicara untuk tidak berkomentar yang tidak perlu.

Relasi dengan Djohan lebih baik. Saya rasa Djohan bahagia melihat perubahan dalam sikap saya sesudah retret ini. Mungkin masih suka egois dan kekanak-kanakan, tapi pastinya ada perubahan positif. Dia senang sekarang saya mengerti tentang keluar dari lingkup diri, keluar dari perangkap pikiran-pikiran tentang diri/ego.

Penutup

Demikian yang saya alami selama retret ini. Terima kasih Romo sudah dengan baik hati dan sabar menemani perjalanan rohani saya dan membantu saya melaluinya. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan rasa syukur saya. Romo seperti seorang guru spiritual yang membimbing muridnya menjalani pelepasan menuju ke pencerahan. Saya merasa seperti anak kecil yang belajar mengenali kesadaran dan Romo adalah gurunya dengan kematangan spiritualnya. Dari segi usia, Romo seperti seorang adik yang baik hati yang tidak pernah saya punya, yang akan saya kasihi sepenuh hati dan secara spiritual Romo adalah seorang guru yang saya hormati.

Terima kasih untuk semuanya. Romo sudah membuat saya menangis terharu dan tertawa terbahak-bahak silih berganti selama dan sesudah retret. Ini semua menjadi bekal untuk melanjutkan kehidupan dengan dijiwai kesadaran.

Peluk hangat dari jauh,

-LK-