Oleh J Sudrijanta

Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Lukas 10:2a)

Tidak jarang orang yang bertanya, “Apa tujuan hidupku?”, “Apa kehendak Tuhan bagiku?”, “Apa sesungguhnya yang menjadi panggilanku?”

Selama Anda bingung, kacau, tidak jernih, maka Anda tidak akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Maka lebih penting pertama-tama menyelesaikan kebingungan, kekacauan, ketidakjernihan batin. Kalau batin jernih, indah, hening, maka pertanyaan tersebut terterangi dengan sendirinya.

Pertanyaan seperti di atas sesungguhnya tidak berbeda dengan pertanyaan ini, “Apa yang membuat hidup ini sungguh bergairah, bersemangat, bermakna, betul-betul hidup?”  Kalau Anda menemukan apa yang membuat Anda bisa menjalani kehidupan secara penuh, bahagia, dan damai, maka Anda pasti tahu apa artinya kehendak Tuhan bagi Anda, apa tujuan hidup bagi Anda, apa yang menjadi panggilan hidup Anda.

Panggilan kita, Anda dan saya, di tengah dunia adalah unik. Ada banyak profesi seperti akademisi, guru, dokter, wartawan, politisi, pebisnis, tukang ini dan itu. Ada beragam kegiatan kita lakukan, misalnya, sebagai ibu rumah tangga, anggota sebuah keluarga, komunitas atau organisasi. Ada yang menikah dan tidak menikah. Tetapi cara orang menjalankan kegiatan, profesi dan panggilannya tidak ada yang persis sama satu dengan yang lain.

Kita bukanlah manusia-manusia dari dunia yang memiliki pengalaman spiritual, tetapi kita adalah  makhluk-makhluk spiritual yang terjun aktif di tengah dunia. Kita masing-masing membawa misi spiritual di tengah dunia.

Misi spiritual kita di tengah dunia tidak lain adalah menolong jiwa-jiwa dan segala makhluk untuk mencapai kebaikan dan kesejatian, kesucian dan kedamaian, kebahagiaan dan kekuatan, keindahan dan kepenuhan hidup. Itu berlaku pula untuk diri sendiri. Dengan menolong orang lain dan segala makhluk, kita menolong diri sendiri; begitu pula sebaliknya.

Apa yang dibutuhkan dunia adalah sumbangsih unik kita dalam menjalani kehidupan spiritual yang terjun aktif. Maka jangan tanyakan diri Anda apa yang dibutuhkan keluarga, komunitas, dan dunia. Tetapi tanyakan pada diri Anda, apa yang sekiranya membuat diri Anda merasa hidup, dan lakukanlah, karena apa yang dibutuhkan dunia ini adalah orang-orang yang sungguh-sungguh hidup.

Dalam pengolahan hidup yang bertujuan menghubungkan praktik spiritual dengan tindakan di muka bumi, kerap terdengar pengakuan seperti ini, “Saya belum cukup melakukan sesuatu”; “Saya merasa terlalu kecil dan lemah di hadapan begitu banyak masalah”; “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan”.

Sesungguhnya, ada banyak cara kita terlibat di tengah dunia. Sedikitnya terdapat lima pendekatan.

Pertama, melakukan apapun kegiatan dan pekerjaan kita dengan cinta dan belas kasih yang besar. Nilai dari sebuah kegiatan atau pekerjaan bukan ditentukan oleh rumit tidaknya pekerjaan tersebut, melainkan pada besar kecilnya landasan cinta dalam melakukan pekerjaan tersebut. Semangat ini hendaknya menjadi landasan bagi semua tindakan yang lain di bawah ini.

Kedua, pelayanan karitatif, seperti pemberian bantuan emergency bagi para korban kerusuhan, bencana alam, penyakit, dan kemiskinan. Cara kita menolong akan menentukan perubahan yang kita harapkan dari mereka yang ditolong.

Ketiga, pelayanan pemberdayaan, seperti pengembangan kesadaran, kegiatan dan lembaga alternative untuk memecahkan akar masalah di bidang social, financial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, politik, dst.

Keempat, mendorong perubahan kebijakan public entah di luar atau di dalam system politik, ekonomi, hukum, dst.

Kelima, penyelaman pada ranah-ranah baru yang belum terselami melalui penelitian, seni, praktik meditasi, sehingga terdapat pemahaman baru terhadap diri kita, sesama dan dunia.

Kita tidak bisa melakukan segalanya. Tetapi kita dapat bertindak sesuai dengan panggilan dan bakat kita, serta menyesuaikan dengan siklus karya batiniah dan karya fisik di luar.

Pada kesempatan tertentu, kita membutuhkan waktu diam, doa, refleksi, evaluasi, dan pembaharuan. Pada kesempatan lain, kita perlu pergi keluar, menjalankan secara nyata karya-karya dalam menyembuhkan dan mengubah dunia ini ke arah yang lebih baik, apapun cara kita.

Pekerjaan (occupation) dan panggilan (vocation) adalah dua hal yang berbeda, tetapi bisa saling berhubungan. Pekerjaan pertama-tama adalah kegiatan yang hampir menghabiskan sebagian besar dari waktu kita setiap hari; sementara panggilan adalah cara kita menjalani hidup dan kegiatan kita secara unik berlandaskan cinta dan belas kasih.

Ada pribadi-pribadi yang giat melakukan pekerjaannya dengan gembira, tetapi bukan panggilannya; ada pribadi-pribadi lain yang giat melakukan pekerjaannya sekaligus sebagai panggilannya. Kalau ada orang-orang yang mengalami transformasi diri dalam kegiatan, pekerjaan dan hidup yang dijalani—betapapun sederhana pekerjaan tersebut–sekaligus kehadirannya membawa transformasi social di luar, pastilah mereka adalah orang-orang yang sudah menemukan panggilan uniknya.

Selain menemukan apa yang sungguh bermakna bagi hidup kita dan apa yang membuat kita menyaksikan perubahan hidup di dalam batin maupun di luar, kita juga menyadari adanya kesalingterkaitan antara aspek-aspek individual, relasional, dan kolektif. Kebanyakan dari kita barangkali bukan berada di garis depan, namun kita mengetahui bahwa kita merupakan bagian mendasar yang sama, bahwa seluruh sumbangsih kita dibutuhkan dan seluruhnya saling terjalin satu dengan yang lain.

Menemukan pekerjaan sejati adalah menemukan panggilan unik bagi setiap pribadi. Dan untuk menemukan panggilan unik, terdapat kaitan erat dengan talenta atau bakat dan minat yang membuat orang memiliki semangat dan komitment jangka panjang. Tidak cukup sekedar belajar ketrampilan atau keahlian khusus yang diperlukan untuk dapat bekerja mendapatkan nafkah, tetapi lebih jauh perlu menemukan apa yang sesungguhnya menjadi minat dan bakat kita. Menjelajahi dan mengembangkan minat dan talenta yang belum sepenuhnya terwujud akan menolong menemukan apa yang membuat diri kita betul-betul hidup.

Kita barangkali sudah sibuk dengan banyak kegiatan atau pekerjaan, tetapi belum tentu menemukan panggilan unik dan karya spiritual sejati yang musti kita lakukan di tengah dunia. Yesus pernah berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Lukas 10:2a) Yang dimaksud pekerja di sini adalah pekerja sejati yang adalah orang-orang yang menemukan panggilan uniknya dalam kegiatan dan pekerjaannya setiap hari berlandaskan cinta dan belas kasih.

Kedamaian, keindahan dan kepenuhan hidup perlu ditemukan di tengah dunia dalam setiap kegiatan dan pekerjaan kita. Sama halnya dengan memetik buah di kebun buah. Buah-buah itu sudah ada. Tetapi harus ada orang yang memetiknya. Buah-buah itu tidak bisa langsung masuk ke mulut Anda atau Anda bagikan kepada orang lain, kalau tidak ada orang yang memetiknya.

“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Lukas 10:2b) Di antara pekerja itu, salah satunya tentu adalah Anda.*