By J. Sudrijanta  

Tidak ada hidup tanpa hubungan. Kita selalu berada dalam keadaan terhubung satu dengan yang lain. Ada hubungan-hubungan yang membuat tidak nyaman dan tidak memuaskan;  ada yang membuat nyaman dan memuaskan. Namun kedalaman spiritual dalam hubungan tidak bisa dicapai sebatas nyaman atau tidak nyaman, memuaskan atau tidak memuaskan. 

Ada hubungan-hubungan yang menciptakan kondisi-kondisi yang seharusnya membuat kita bahagia, namun kita tidak merasakan kebahagiaan itu. Sekalipun kita memiliki hubungan yang baik dan intim dalam persahabatan, perkawinan atau keluarga, mengapa kita tidak bebas dari kesepian dan keterisolasian? Meskipun kita memiliki taraf hidup yang baik, sehat badan dan jiwa, mengapa kita merasa hampa dan tak memiliki makna? Sekalipun kita memiliki cita rasa untuk menangkap keindahan seni dan alam semesta, mengapa kita merasa kering dan gersang? Sekalipun kita memiliki filosofi dan pandangan religius yang memberi makna dan kepastian atas hidup, mengapa kita tidak bebas dari goncangan-goncangan batin? 

Mengapa kita merasakan kesepian dan masalah-masalah eksistensial yang lain meskipun kita tidak pernah keluar dari jalinan keterhubungan, termasuk dalam hubungan yang paling intim sekalipun? 

Kita tidak akan terbebas dari keterisolasian dan masalah-masalah eksistensial yang lain tanpa membebaskan diri dari adanya paham “diri”, “si aku”, atau “ego” yang terpisah dari pikiran dan perasaan, jiwa dan raga, tubuh dan batin. Tidak ada “diri” di luar itu semua; “diri” adalah itu semua. Selama ada “diri” yang terpisah dan berhubungan dengan segala sesuatu di dalam atau di luar batin, maka muncullah jarak, sekalipun hubungan sangat intim. Jarak ini menjadi ruang timbulnya keterisolasian dan masalah-masalah eksistensial. 

Menyadari diri adalah membebaskan diri. Ketika pusat “diri” tidak ada lagi dalam setiap proses “sadar-diri”, maka kita berada dalam “jalinan bersama yang lain, tak-terpisahkan, tanpa diri”, atau kita singkat dengan sebutan “Inter-Being”. Dalam keadaan “Inter-Being” seperti ini, barulah ada kemungkinan batin dibebaskan secara total dari masalah-masalah eksistensial. 

Inilah yang disebut “kenosis”, “sunyata”, “suwung”; batin bebas dari ego atau kepentingan diri sebagai pusat keberadaannya. Dalam “kenosis”, kita terhubung satu dengan yang lain, tak terpisahkan, tanpa diri. Hanya dalam “kenosis, terdapat “Inter-Being”. Dalam “Inter-Being” ini, kita dan segala makhluk dimungkinkan saling berhubungan, bergerak bebas, tanpa kemelekatan. 

Keberadaan “Inter-Being” inilah esensi dari “misteri Trinitas” dalam paham Kristiani. Allah Trinitas adalah tiga Pribadi Ilahi (Bapa/sistence, Putera/ex-sistence, dan Roh Kudus/in-sistence) yang masing-masing berbeda tetapi ada-bersama-tak-terpisahkan dengan dua yang lain. Tidak ada satupun bisa ada dari dalam dirinya sendiri.  Bapa seluruhnya ada dalam Putera dan Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa dan Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya dalam Bapa dan Putera. Ketika satu Pribadi bertindak, dua Pribadi yang lain sepenuhnya hadir dan bertindak juga. 

Trinitas bukan menunjuk pada angka 3 Pribadi numerik 1+1+1, tetapi merupakan bahasa simbolik dari Jalinan Bersama Tanpa Batas. Bagi kita, berada dalam jalinan bersama dengan yang lain tanpa batas hanya mungkin kalau kita tidak memiliki inti diri, tanpa pusat dan tanpa tepian. 

Manusia diciptakan segambar dengan Allah (Kejadian 1). Kalau Inti Keallahan (the Godhead) adalah “Primal Inter-Being” (Jalinan Bersama Awali), maka manusia juga berada dalam—dan hanya ada dalam–“Inter-Being” dengan sesama dan seluruh isi jagad raya. Kita tercipta untuk—dan hanya untuk—“Inter-Being”. Itulah makna simbolik dari Trinitas, yang adalah “Inter-Being”. Dari sanalah segala sesuatu berasal, bergerak, dan akan kembali. 

Kita tidak dapat hidup, bergerak dan ada dari diri kita sendiri, melainkan selalu dalam proses jalinan dengan yang lain. Trinitas adalah Dasar dari Keberadaan Jalinan Bersama (the Ground of Inter-Being), bukan sekedar dasar keberadaan dari suatu makhluk (the Ground of Being). 

Pengalaman “Inter-Being” paling nyata kita alami saat kita berada dalam Kasih. Dalam Kasih, kita digerakkan, dimampukan, dihubungkan dengan sesama dan dunia sekitar kita secara mendalam. Dalam Kasih, tampaknya hanya dua pihak yang terlibat, yaitu pihak yang mengasihi dan pihak yang dikasihi. Sesungguhnya, dalam Kasih terdapat pihak ketiga yang adalah Sesuatu Yang Lain yang adalah Kasih itu sendiri. Pihak ketiga ini berada di luar apa yang dikenal dalam relasi “subjek-objek”. 

Allah adalah Kasih dan Kasih adalah “Inter-Being”. Ketika kita mengasihi, kita mengenal Allah, kita merasakan kehadiran Allah, kita membiarkan Allah bertindak. Tanggalnya “ego” atau “si aku” sebagai pusat membuat kita terbuka tanpa batas pada kehadiran yang lain, baik yang lain sebagai yang dikenal maupun Yang Tak-Dikenal. 

Seseorang yang sadar akan hakekat dirinya sebagai “Inter-Being” akan menjalani kehidupan nyata secara berbeda. Paulus mengungkapkan pengalamannya dengan mengatakan, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup dalam diriku.” (Galatia 2:20). 

Tujuan akhir dari setiap hubungan kita adalah memahami dan mengenal Kasih sebagai “Inter-Being”, sehingga “dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya Kasih itu, dan dapat mengenal Kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.” (Cfr. Efesus 3:18-19)*