By J. Sudrijanta

Praktik spiritual dan keterlibatan social seringkali dimaknai sebagai dua praksis yang terpisah. Segala bentuk kegiatan seperti berdoa, meditasi, upacara ritual dan kegiatan rohani lainnya dipandang bukan bagian dari praktik perubahan sosial; sementara terlibat aktif dalam karya-karya pemberdayaan dan pembelaan kaum lemah, penyembuhan orang sakit, pemulihan lingkungan yang rusak, pendidikan dan penyadaran public dipandang bukan bagian dari praktik spiritual. 

Bagi mereka yang berpandangan demikian, sekalipun gemar dengan hal-hal spiritual, transformasi batin dan dampak perubahan social di tengah lingkungannya sangatlah kecil. Sementara mereka yang aktif mendorong perubahan social dengan langsung terlibat dalam karya-karya perubahan structural tidak pernah menyaksikan perubahan social yang fundamental, dan perjuangan mereka tidak memperkaya perjalanan spiritual mereka sendiri. 

Transformasi spiritual dan perubahan social yang mendasar bukan hanya penting, tetapi juga sangat mendesak. Di satu pihak, kita melihat fakta, masyarakat dan dunia makin hari makin sakit dan rusak. Di lain pihak, hidup spiritual kebanyakan dari kita belum cukup menggerakkan kita untuk terlibat aktif dalam mengubah dunia. 

Baru sedikit orang yang sungguh-sungguh terbakar untuk menyembuhkan dan memperbaiki masyarakat dan dunia, dengan suatu kedalaman spiritual. Yang enggan untuk terjun di tengah masyarakat dan dunia dan tidak tergerak melakukan perjalanan spiritual yang lebih dalam meskipun rajin ke Masjid, Gereja, atau tempat-tempat ibadah lainnya, jumlahnya tentu jauh lebih banyak. 

Inilah yang seringkali dialami bagi mereka yang mencoba belajar menghubungkan transformasi spiritual dan transformasi sosial. Di satu pihak, karya demi perubahan social dirasakan tidak membawa hasil sama sekali atau hanya membawa perubahan sangat kecil yang tidak signifikan, tidak menyentuh akar permasalahan yang paling dalam dan tidak menyentuh esensi karya spiritual sejati. Di lain pihak, pengolahan batin dan pencarian spiritual membuat orang seringkali terserap dengan pergulatan dengan masalah-masalah individual atau terlalu asyik dengan dunia batinnya sendiri, sehingga tidak cukup memiliki perhatian pada masalah-masalah social di luar. Tidak ada jalan yang bebas resiko. Tetapi orang tidak akan pernah melihat perubahan apapun kalau tidak berani melangkah. 

Sesungguhnya adalah fakta, bahwa tidak ada transformasi pribadi yang fundamental yang tidak membawa kepada transformasi social; dan tidak ada transformasi social yang fundamental tanpa transformasi pribadi. Dengan demikian terdapat kaitan yang tak terpisahkan antara transformasi di dalam (batin) dan transformasi di luar (lahir). Kedua gerak ke dalam dan keluar ini bukan hanya saling melengkapi, tatapi sesungguhnya adalah satu gerak yang sama. 

Ada banyak tantangan menghadang, seperti pemiskinan, intoleransi, perusakan lingkungan hidup, ketidakadilan, korupsi, kekerasan, dst. Sumber dari kerusakan dan kejahatan social ini ada dalam batin manusia; itu semua berakar pada nafsu keserakahan, kebencian dan egoisme. Masalah-masalah yang menghadang di depan mata ini menantang komitment spiritual dan social yang lebih dalam. 

Tanpa kualitas spiritual, upaya-upaya para aktivis yang dilandasi niat baik untuk mengubah dunia  bisa membuat cepat frustrasi atau akan menciptakan problem yang sama, seperti yang jelas kita saksikan dalam catatan-catatan sejarah revolusi. Regim penguasa berganti regim penguasa; si tertindas berganti sebagai penindas. 

Tanpa mendesakkan pentingnya transformasi social, terdapat resiko orang-orang beragama dan para pejalan spiritual akan mudah terjebak dalam upaya mencari ketenangan dan pemuasan kepentingan diri, dan pada saat yang sama mengabaikan jeritan dunia. 

Bagaimana menghubungkan transformasi spiritual dan social? 

Kita perlu belajar mencari dan menemukan sendiri jalan-jalan spiritual yang membawa kepada perubahan pribadi secara fundamental dan yang menggerakkan kita menyentuh wilayah-wilayah yang lebih luas. Beragama tidaklah cukup. Kita membutuhkan suatu praktik spiritual yang tidak memisah-misahkan atau mengkotak-kotakan manusia dari agama yang satu dengan agama yang lain, urusan religius dengan urusan social, masalah pribadi dan masalah dunia. 

Ada banyak jalan spiritual dan tidak ada satu jalan yang cocok bagi semua orang. Tetapi jalan spiritual apapun yang hanya membuat orang merasa menemukan ketenangan, kepastian dan kepuasan batin, tetapi tidak membawa dampak perubahan pribadi secara fundamental, sekaligus tidak menggerakkan keterlibatan pada karya perubahan social, bukanlah jalan spiritual yang membebaskan. 

Disebut praktik spiritual yang membebaskan, setiap cara mengolah batin agar bebas dari kelekatan dalam berbagai bentuk kebencian, keserakahan, dan egoism; dan kemudian menemukan Yang Tak-Dikenal—atau apapun namanya—dalam segala sesuatu. Menyadari terus-menerus kelekatan-kelekatan dan menyelesaikanya, dari moment ke moment, hingga orang bersentuhan secara aktuil dengan Yang Tak-Dikenal adalah praktik spiritual yang membebaskan. 

Praktik spiritual yang membebaskan musti diterapkan secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari hidup pribadi, hubungan antar pribadi, hidup dalam keluarga dan di tengah masyarakat, hingga menyentuh struktur-struktur yang lebih luas, seperti struktur social, ekonomi, politik, budaya, dan hukum. 

Bisakah praktik spiritual dijalankan dalam relasi antara suami-isteri, hubungan orang tua dan anak, atau saat mengurus keluarga? Bisakah melakukan pekerjaan sebagai praktik spiritual? Bisakah terlibat dalam karya-karya social sebagai praktik spiritual? Bisakah bertindak sebagai politisi atau pebisnis sebagai praktik spiritual? Singkatnya, bisakah tindakan dan hidup kita setiap hari menjadi praktik spiritual? 

Praktik spiritual seperti ini dengan sendirinya akan meruntuhkan hambatan-hambatan dalam diri, mendobrak sekat-sekat social, dan merajut secara harmonis hidup spiritual dan social yang pada hakekatnya tidak berbeda. 

Mengolah kelekatan-kelekatan dan menuntaskannya adalah tindakan yang paling spiritual karena membuat kita bersentuhan secara actual dengan Yang Tak-Dikenal; sekaligus paling social karena praktik spiritual yang membawa transformasi batin secara fundamental pasti berdampak pada perubahan social di lingkungannya. 

Ada banyak kisah yang memperlihatkan kaitan antara transformasi pribadi dan transformasi social. Cerita seorang Sufi tentang dirinya berikut ini adalah salah satunya. 

“Waktu masih muda, aku revolusioner. Begini aku berdoa: Tuhan, beri aku kekuatan untuk mengubah dunia!

Ketika aku sudah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah seorang pun, aku mengubah doaku begini: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah orang-orang dekatku, kelurga dan sahabat-sahabatku!

Ketika aku sudah menjadi tua dan mendekati ajal, aku melihat betapa bodohnya diriku. Doaku sekarang begini: Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri!

Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku.”