Dialog Ylt dan JS tentang penderitaan, hidup perkawinan, hubungan khusus pria dan wanita, dan pembebasan:

Apa kabar Romo? Saya peserta MTO di Bali pada Maret 2013 lalu. Maaf Romo, ada yang ingin saya tanyakan; semoga tak mengganggu waktu Romo.

Begini Romo, saya sudah tak ada lagi keraguan dan merasakan bahwa hidup itu adalah penderitaan dan menyadari pentingnya membebaskan diri dari penderitaan itu. Saya meyakini ini setelah dalam retreat seminggu bersama Romo diajak untuk menyelemi rasa sakit. Dari meditasi dua hari terakhir saya mengalami perjalanan ke alam bawah sadar, melihat proses masa lampau saya yang saya kenal dari masa dewasa hingga masa kecil, hingga ke masa-masa yang tak saya kenali.

Pengalaman-pengalaman masa lalu yang tak saya kenali itu sungguh menyedihkan dan penuh penderitaan. Saya masuk ke dalam masa silam menjadi korban persembahan, tubuh saya ditombak berkali-kali oleh sekelompok orang yang mengelilingi dengan kostum berjubah, setelah itu saya masuk ke masa di mana saya mati bersama tumpukan mayat korban perang, lalu saya menjadi sesuatu yang tak berbentuk, tak memiliki tubuh, hanya melayang-layang di antara stupa. Setelah itu saya masuk ke alam seperti masa janin dan ini juga menyakitkan. Kemudian saya masuk ke dalam kehidupan seseorang. Di sini saya melihat kebahagiaan, menjalani kehidupan berpasangan dengan seseorang sampai tua. Di situ kami biasa menghabiskan waktu minum teh bersama dan melihat bintang-bintang yang bertaburan di kala malam. Itu bayangan yang sungguh indah, Romo.

Pengalaman masuk ke alam tak dikenal itu membuat saya paham perkataan para tokoh spiritual bahwa penderitaan itu terjadi beribu-ribu tahun. Sebelumnya saya skeptis dengan teori reinkarnasi, seperti halnya konsep surga dan neraka setelah kita mati.

Pemahaman sejak retreat itu mengubah keseharian saya. Saya menjadi lebih peka terhadap perasaan-perasaan, pikiran-pikiran yang timbul dan sensasi-sensasi yang hadir. Saya mengikuti anjuran Romo, “sadar setiap kali tidak sadar.”

Di antara berbagai keseharian ini, hal yang menjadi perhatian adalah kelekatan dalam hubungan dengan lawan jenis yang saya sukai. Sekarang saya berumur 33 tahun. Beberapa tahun lalu pernah ada rencana menikah dengan mantan pacar saya, tapi batal karena ada keraguan yang besar dari saya untuk menjalani pernikahan bersamanya. Selama ini saya belum pernah mengkaji soal pernikahan secara mendalam.

Sejak retreat itu, dalam hubungan saya dengan lawan jenis yang saya sukai, saya melihat begitu banyak motif, ketergantungan emosi dan sensasi-sensasi ketika berhubungan dengannya. Meski saya berniat menjalani hubungan tanpa ekspektasi apapun, tetap saja saya masih larut dalam berbagai macam pikiran dan perasaan. Dan saya tahu, cinta bukanlah emosi-emosi dan sensasi-sensasi.

Bila saya sadari, berbagai sensasi dan motif itu bisa hilang. Namun sesaat kemudian muncul kembali dan terus berulang. Bahkan terkadang emosi berlanjut dan saya terlambat menyadarinya. Ada sensasi-sensasi yang membuat nyaman dan senang, ada yang membuat menangis dan menderita. Saat saya sadari, saya kembali tenang dan di situ saya bisa benar-benar berhubungan tanpa ekspektasi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah hubungan khusus dengan lawan jenis akan terus seperti ini? Atau bisakah ada hubungan yang berbeda yang tak terikat emosi-emosi dan sensasi bila kesadaran makin tumbuh? Perlukah sedari awal kita memilih: untuk menikah atau tidak, atau membiarkan segalanya mengalir saja? Apakah bisa hidup dalam pernikahan tanpa keterikatan dengan pasangan atau anak? Apakah bisa menjalani pembebasan dalam hubungan yang terikat dalam pernikahan?

Saya berupaya memahami konflik-konflik ini dalam meditasi, namun belum ada insight yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya hanya mendapat pemahaman lebih mendalam saja, bahwa dalam hubungan lawan jenis ini terdapat begitu banyak penderitaan. Adakah anjuran yang bisa Romo berikan agar saya memahami konflik ini?

Terimakasih Romo telah membaca curhatan saya ini. Semoga Semesta selalu melindungi dan memberkahi Romo. Amin

Salam,

Ylt

====

Ylt,

“Apakah hubungan khusus dengan lawan jenis akan terus seperti ini? Atau bisakah ada hubungan yang berbeda yang tak terikat emosi-emosi dan sensasi bila kesadaran makin tumbuh?”

Hampir dalam setiap relasi, timbul sensasi dan emosi, termasuk dalam relasi khusus dengan lawan jenis. Persoalannya bukan bisakah kita hidup tanpa sensasi dan emosi, tetapi bisakah kita menyadari dalam-dalam kelekatan-kelekatan kita pada sensasi dan emosi, tanpa keinginan bahkan untuk bebas dari sensasi dan emosi, karena keinginan untuk bebas darinya adalah bentuk kelekatan yang lain.

“Perlukah sedari awal kita memilih: untuk menikah atau tidak, atau membiarkan segalanya mengalir saja?”

Menikah atau tidak menikah adalah pilihan seperti halnya kita memilih untuk bekerja mandiri atau bekerja sebagai karyawan. Bedanya, pilihan menikah atau tidak menikah merupakan pilihan hidup yang lebih fundamental dibanding memilih pekerjaan.

Apakah kecenderungan untuk “membiarkan segalanya mengalir” tidak lain merupakan ekspresi dari ketidakberdayaan menentukan “pilihan arah” atau merupakan suatu “sikap batin” yang terbuka terhadap semua kemungkinan?

Apakah pilihan-pilihan kita lebih ditentukan oleh kelekatan kita (nafsu, kesenangan, ketakutan, dst) atau oleh sikap lepas bebas? Adalah sangat penting untuk mengolah batin hingga kita mencapai sikap lepas bebas. Dalam keadaan lepas bebas, tentukan “pilihan arah” (menikah atau tidak menikah) dan laksanakan pilihan tersebut apapun bayarannya.

“Apakah bisa hidup dalam pernikahan tanpa keterikatan dengan pasangan atau anak? Apakah bisa menjalani pembebasan dalam hubungan yang terikat dalam pernikahan?

Bisa atau tidaknya tergantung dari orang yang menjalani. Faktanya, kebanyakan orang hidup dalam berbagai bentuk kelekatan, entah menikah atau tidak menikah. Sulit atau mudahnya pembebasan diri tidak ditentukan oleh bentuk hidup menikah atau tidak menikah, tetapi pada kualitas batinnya. Kalau sepasang suami isteri punya perhatian dan komitment yang sama sebagai teman spiritual untuk mengalami pembebasan diri bersama-sama, barangkali perkawinan mereka menjadi sangat berarti sebagai rumah pembebasan. Sebaliknya, kalau suami isteri hidup dalam dua dunia yang sama sekali berbeda dan tidak bisa saling memahami, misalnya yang satu sangat menyukai seks dan materi sementara yang lain menyukai meditasi, maka hidup perkawinan mereka bisa sangat menyesakkan seperti hidup di penjara.

js