LIB, 51 th,  pemeditasi baru.

Romo Sudri yth, 

Setelah sesi bimbingan yang  Romo berikan kemarin, saya mulai mencoba mempraktikkannya pagi ini. Dan saya mengalami, “jauh lebih mudah” untuk masuk ke level seperti kemarin. Biasanya, seperti saya bercerita ke  Romo, pikiran saya selalu mengembara kemana-mana sehingga sulit sekali bagi saya untuk konsentrasi dan bisa “masuk” saat meditasi. Ini pertama kalinya saya merasakan bisa masuk sendiri dan saya merasa lebih bisa mengendalikan sejauh mana saya masuk, karena saya harus segera bangun dan beraktivitas. 

Sebenarnya hal utama yang amat mengganggu saya adalah sering terombang-ambing oleh perasaan senang atau sedih dan sebagainya. Hal itu menjadi amat mengganggu ketika terkait perasaan dengan orang lain. Hal itu kemudian memengaruhi saya secara cukup dalam sehingga seringkali menyeret saya berbuat hal-hal negatif dan tidak perlu, yaitu ngobrol tanpa kesimpulan, alias “ngrumpi” hanya untuk “memuaskan” perasaan yang teraduk-aduk.  

Saya ingin  Romo tahu bahwa “sepanjang hidup” saya—maksud saya adalah sejak mahasiswa ketika saya masih dalam kondisi “marah” kepada ayah saya karena menyerahkan saya diadopsi tanpa sepengetahuan saya– saya mulai sering mempertanyakan eksistensi diri saya. Hampir setiap saat saya mempertanyakan hal itu terus menerus: “Mengapa saya selalu terombang-ambing oleh perasaan?”, “Mengapa saya merasa banyak orang tidak suka pada saya?” Saya tergolong orang yang “brisik” dan sering membuat suasana penuh tawa, padahal jauh di dalam, saya sering merasa sepi sendirian. 

Pertanyaan akan diri itu menjadi lebih parah dan lebih tak terarah ketika saya mulai bekerja. Saya menjadi pribadi–yang baru sekarang saya tahu–tidak matang walau saya sering membantu teman-teman lain mencari jalan keluar saat mereka terkena masalah. Saya sempat merasa saya bisa menjadi “konsultan”, padahal sebenarnya saya lebih parah. Hehe… lucu juga. 

Saya ingin melaporkan tahapannya. 

Setelah bimbingan kemarin, saya terus mencoba untuk bisa masuk ke lapisan kesadaran dengan berbagai cara. Saya terus mencoba sampai saya tidur sekitar jam 00.30.

Saat bangun,  saya tiba-tiba tersadar bahwa masalah utama saya adalah terlalu mudah diombang-ambingkan perasaan, sampai sedemikian parah sehingga muncul banyak masalah, seperti masalah dalam pergaulan di kantor. Mungkin seperti  Romo katakan kemarin “gesture” 

saya menyiratkan bahwa saya “sakit”, yang pasti terbaca oleh orang lain. Saya menyimpulkan bahwa saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Masalah tersebut sudah saya ketahui sejak lama, namun saya tidak pernah sampai pada jalan keluar setidaknya untuk mengurangi dampak yang seringkali negatif terhadap diri saya sendiri.  

Saya lalu mencoba berkonsentrasi pada fisik saya dan secara samar saya mulai “masuk”. Entah dari mana datangnya, yang muncul adalah “saya merasa amat kehilangan Bude saya”–Bude yang membesarkan saya. Kesadaran ini sungguh tidak saya duga. Benar-benar baru “terpikir” atau “terasakan”. Ini pertamakalinya saya menyadari bahwa saya merasakan kehilangan yang amat besar karena Bude saya meninggal. Pada saat-saat terakhir Beliau, saya mengantarnya seorang diri karena hanya saya yang menunggui beliau. Mungkin ini kebenaran yang selama ini tertutupi oleh sosok ibu kandung-yang sebenarnya “tidak saya kenal” karena saya nyaris hanya punya satu buah bayangan tentang ibu saya. 

Saya baru ingat, penyebabnya kemungkinan besar adalah “saya tidak pernah menangis” saat Bude saya meninggal.  Sama sekali tidak pernah. Saat-saat terakhir beliau saya antar dengan amat rasional, karena beliau sudah sakit parah, dan setelahnya pun saya tidak menangis karena ditinggalkan beliau. Padahal saya berinteraksi amat dekat dan berkomunikasi dengan amat intens dengan Bude, tentang banyak hal sepanjang masa pertumbuhan saya dari kecil hingga lulus SMA. Bude meninggal saat saya lulus perguruan tinggi tapi belum wisuda.

Penemuan baru dalam meditasi pagi tadi membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa, dan saya bisa rileks. Selanjutnya saya tidak tahu lagi harus mencari apa….???

Baik  Romo, sekian dulu sharing saya. Saya berterima kasih telah diberi bimbingan kemarin. Kalau  Romo tidak terlalu sibuk saya akan sangat berterima kasih jika  Romo bersedia memberikan bimbingan lagi, juga kalau  Romo berkenan mengirimkan energinya. Suwun sebelumnya. Selamat menikmati sisa hari Minggu.

Maaf  Romo, panjang sekali dan terdengar cengeng-sungguh saya tidak mau cengeng. Saya hanya berpikir mungkin ini perlu untuk proses penemuan diri saya kembali. Matur nuwun  Romo.

Minggu, 28 April 2013

Salam, 
LIB 

 =====

Dear LIB, 

Anda mengatakan, “Penemuan baru dalam meditasi pagi tadi membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa, dan saya bisa rileks. Selanjutnya saya tidak tahu lagi harus mencari apa….???”

Dalam meditasi, janganlah mencari apapun. Tugas kita dalam meditasi “hanya” mengembangkan kesadaran terhadap sensasi fisik dan rasa-perasaan, pikiran dan si aku, tubuh dan batin. Jangan menambah atau mengurangi, ingin mengubah atau mengendalikan.  Biarkan apa saja, objek-objek di luar maupun di dalam batin, muncul dan lenyap seperti “apa adanya”. 

Kalau kita memiliki sikap yang benar dalam meditasi, maka meditasi kita akan berjalan baik. Sedikitnya terdapat lima sikap yang penting diperhatikan: “relaks tapi serius”, “sadar tanpa memilih-millih objek-objek yang diamati”, “mengamati tanpa si pengamat”, “tidak terdapat rasa tidak suka yang menggerakan resistensi atau pengalihan dari fakta yang dihadapi”, dan “tidak terdapat kemelekatan pada objek atau pengalaman yang menyenangkan selama meditasi”. Periksalah setiap kali apakah sikap Anda sudah benar. 

Kalau meditasi Anda berjalan dengan baik, apa saja yang Anda kenal yang Anda sadari dengan sikap yang benar– sensasi fisik dan rasa-perasaan, pikiran dan si aku, tubuh dan batin—akan menjadi pintu yang membawa Anda kepada realitas yang lain. Dengan demikian, kita perlu belajar untuk setiap kali menembus, melampaui, mentransendir apa saja yang kita kenal. Jalan penembusan itu tidak bisa dicapai dengan konsentrasi, melainkan “kesadaran”.

Dalam perjalanan meditasi, Anda bisa menemukan perasaan kelegaan yang luar biasa seperti yang baru saja Anda alami.Tubuh dan batin Anda mengenalnya dan menjadi relaks dan damai.

Rasa kelegaan ini bisa datang tanpa insight atau pemahaman baru. Kelegaan itu datang tanpa bisa dijelaskan mengapa bisa terjadi demikian. Bisa juga muncul disertai insight atau pemahaman baru tentang suatu hal yang khusus atau umum. 

Anda bisa merasakan sesuatu jauh lebih dalam daripada apa yang Anda ketahui sebelumnya, seperti Anda merasakan kehilangan yang besar karena kehilangan Bude Anda yang meninggal. Anda bisa menemukan dengan jelas masalah utama dari berbagai masalah kejiwaan yang mengganggu Anda pada saat ini. 

Intinya, setiap kali meditasi Anda akan dibawa pada sesuatu yang selalu baru, dengan cara tertentu yang sebenarnya Anda tidak tahu. 

Anda bisa melakukannya sendiri sekarang tanpa kehadiran saya. Silahkan melanjutkan meditasi Anda.  

Breathe and smile…

 js