Oleh J. Sudrijanta

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13)

Cinta Kasih yang sesungguhnya bukanlah rasa-perasaan emosi, tetapi pertama-tama adalah tindakan yang membawa kebaikan kepada orang yang dikasihi. Kasih tidak datang mendadak, melainkan hasil dari latihan yang panjang, menuntut ketekunan dan ketabahan, diuji oleh berbagai pengalaman penderitaan. Meskipun merupakan hasil dari latihan yang panjang, Kasih bukanlah hasil dari penguatan diri, melainkan buah dari pelepasan diri.

Benih kasih seperti ini sudah ada dalam diri setiap orang. Adalah tugas kita untuk membuatnya tumbuh, berkembang dan mekar seperti bunga. Untuk membuat benih kasih tumbuh, berkembang dan mekar, kita perlu memberi perhatian pada setiap elemen pembentuknya.

Elemen pertama adalah Kebaikan-hati (Loving-kindness). Kebaikan hati pertama-tama bukan hanya keinginan untuk membuat orang lain bahagia, melainkan kemampuan dalam melakukan sesuatu yang membuat orang lain mengalami sukacita. Keinginan untuk membuat orang lain bahagia belum tentu membuat orang lain betul-betul bahagia, selama tindakan seseorang hanya berpusat pada keinginannya sendiri dan bukan pada kebutuhan orang lain.

Apa yang tampak sebagai perbuatan baik bukanlah sungguh-sungguh kebaikan selama masih ada kepentingan diri. Hampir selalu kepentingan diri masih bercokol dalam setiap perbuatan baik. Oleh karena itu, kita perlu menyadari dan menguji kemurnian niat dari setiap perbuatan baik yang kita lakukan.

Supaya kebaikan-hati tumbuh, elemen kedua, Pemahaman yang Dalam (Deep Understanding) diandakan ada. Pemahaman yang dalam akan memampukan orang untuk mengasihi. Kalau seorang suami, misalnya, tidak memahami aspirasi atau kepedihan terdalam pasangannya, maka ia tidak akan bisa mengasihi pasangannya dengan cara yang benar. Kalau para pemimpin suatu negeri, misalnya, tidak mampu memahami aspirasi dan penderitaan rakyatnya, maka mereka tidak akan mampu melayani kepentingan rakyatnya dan Kasih tidak ada dalam diri mereka.

Bagaimana muncul pemahaman yang dalam? Kita musti berlatih untuk mengembangkan kejernihan dalam melihat. Melihat secara dalam atau melihat dengan kejernihan akan membawa pemahaman yang mendalam. Tidak ada Kasih yang lahir tanpa pemahaman yang dalam.

Elemen ketiga adalah Welas Asih atau Bela Rasa (Compassion).  Kasih yang menyentuh penderitaan orang lain dan membuat orang lain terhibur atau terbebas dari penderitaannya disebut dengan Welas Asih. Seperti halnya Kasih, Welas Asih merupakan buah yang muncul dari pemahaman yang dalam tentang penderitaan orang lain dan pemahaman yang dalam datang dari praktik melihat penderitaan secara dalam.

Elemen keempat adalah Sukacita (Joy). Kalau tidak ada sukacita dalam kasih, maka Kasih tidak ada. Kalau Anda mengasihi tetapi hampir setiap waktu Anda menderita, maka  Kasih tidak ada dalam diri Anda. Begitu pula, kalau Anda membuat orang lain menderita, maka itu persis berlawanan dengan Kasih. Sebaliknya, kalau Anda mampu mengubah penderitaan menjadi Sukacita dan mampu merasakan Sukacita yang sama yang dialami orang lain, itu adalah buah dari Kasih.

Elemen kelima adalah kebebasan (freedom). Dalam kasih, ada kebebasan dan dalam kebebasan tidak ada ketakutan. Kebebasan harus menjadi langkah pertama sekaligus langkah terakhir dalam setiap tindakan kita. Kasih hanya mekar dalam batin yang tidak terbelenggu oleh berbagai bentuk ketakutan.

Kita perlu belajar untuk mengasihi orang lain hingga orang lain merasakan kebebasan dari dalam dan bebas dari segala ketakutan, seperti yang kita alami. Kalau Anda mengasihi tetapi membuat orang lain merasa terbelenggu atau takut, bahkan Anda justru menikmati kondisi keterbelengguan yang dialami orang lain, maka Kasih tidak ada dalam diri Anda.

Bisakah kita merawat benih Kasih dengan setiap elemennya ini sehingga setiap orang dan setiap makhluk menjadi bahagia?*