Oleh J. Sudrijanta

“Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4)

Bagaimana kita bisa bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari secara dalam? Duduk diam, berdiri atau berjalan adalah bertindak. Makan atau minum adalah bertindak. Berbicara atau mendengarkan adalah bertindak. Bekerja mengurus rumah tangga, misalnya memasak atau membersihkan rumah, adalah bertindak. Bekerja dengan pikiran sebagai karyawan atau usahawan, sebagai politisi atau selebriti, apapun profesi dan  peran di tengah masyarakat adalah bertindak. Bagaimana bisa kita bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari bukan secara dangkal?

Bertindak dan menjalani kehidupan secara dangkal adalah bertindak dan menjalani kehidupan sehari-hari semata-mata untuk mengejar hasil yang kita dambakan, entah hasilnya bersifat materiil atau non-materiil. Sebaliknya, bertindak dan menjalani kehidupan secara dalam adalah bertindak bukan pertama-tama karena hasil dari tindakan itu, melainkan karena kita menemukan makna dari suatu tindakan di dalam tindakan itu sendiri.

Kapan kita bergairah dalam bertindak? Kalau kita diminta untuk melakukan sesuatu dengan iming-iming imbalan, maka kita menjadi bergairah, bukan? Kalau tidak ada iming-iming imbalan, kita tidak akan bergairah. Kita menjadi lebih bergairah atau kurang bergairah dalam melakukan suatu kegiatan bergantung pada hasil yang ingin dicapai. Itulah yang terjadi pada kebanyakan dari kita.

Hampir sebagian besar kegiatan kita sehari-hari berorientasi pada pencapaian hasil. Nilai dari sebuah tindakan pertama-tama diukur apakah tindakan tersebut mendatangkan hasil di masa datang, entah jangka pendek atau jangka panjang. Inilah yang disebut nilai pragmatis. Nilai pragmatis ini telah menggerus nilai atau makna yang lebih dalam dari suatu tindakan.

Apakah Anda melihat bahwa suatu tindakan yang dimaknai semata-mata dari hasilnya justru membuat kita tidak bertindak secara dalam? Makna dari suatu tindakan yang dalam bukan dinilai dari hasil di luar tindakan itu sendiri, tetapi pada tindakan itu sendiri.

Bertindak dengan melekat pada hasil yang kita inginkan membuat kita bertindak secara dangkal. Akibatnya, kita akan terus diombang-ambingkan oleh hasrat pada kesenangan dan kebencian pada kesakitan, hasrat pada keuntungan dan kebencian pada kerugian, hasrat pada kemasyuran dan kebencian pada kehinaan, hasrat pada pujian dan kebencian pada celaan. Untuk bertindak secara dalam, kita perlu belajar mengatasi kecenderungan mengingini aspek pertama dan membenci aspek kedua.

Bagaimana kita bisa bertindak dengan penuh semangat dan perhatian, namun tidak melekat pada hasil yang kita inginkan? Praktik sadar penuh dari saat ke saat adalah latihan praktis yang membawa manfaat luar biasa untuk bisa bertindak tanpa melekat pada hasil yang hendak dicapai.

Sedikitnya terdapat tiga bentuk kemelekatan terhadap hasil yang kita inginkan: 1) Melekat pada hasil-hasil tertentu; 2) Berupaya mengendalikan hasilnya; 3) Menganggap hasilnya sebagai semata-mata “milikku”.

Pertama, kita perlu menyadari bahwa kita sudah terbiasa untuk menetapkan hasil dari tindakan kita. Adalah wajar kita memiliki target atau tujuan dalam setiap tindakan. Tetapi melekati hasil yang kita inginkan justru membuat tindakan kita tidak dalam. Ketika kita melekat pada hasil tertentu, maka kita sudah membenci sesuatu yang lain. Kelekatan dan kebencian adalah dua sisi dari satu wajah yang sama.

Kemelekatan adalah kondisi kompulsif untuk menyenangi atau membenci yang kerap tidak kita sadari. Dari pengalaman kita tahu bahwa hasil yang kita harapkan ternyata bisa gagal dan apa yang tidak kita harapkan justru terjadi. Kemelekatan pada hasil akan membuat kita lebih menderita ketika kita bertemu dengan kegagalan dan kebencian pada sesuatu membuat kita tidak terbuka terhadap kemungkinan baru yang akan membawa kepada keberhasilan yang lain.

Kedua, kemelekatan pada hasilnya kemudian mendorong kita untuk mengendalikan situasi, orang lain, dan diri sendiri. Kita barangkali menjadi gemar memanfaatkan orang lain, kesempatan, dan prasarana dan mencari siasat untuk kepentingan diri sendiri. Kita perlu menguji melalui praktik kesadaran penuh, kecenderungan memusatkan diri sendiri dan dorongan mengendalikan orang lain, entah dalam situasi-situasi biasa atau situasi-situasi sulit.

Ketiga, kemelekatan pada hasilnya juga membuat kita mudah mengklaim bahwa hasil-hasil tertentu merupakan jasa kita, “Itu adalah jasaku, itu adalah milikku.”  Anggapan kitalah kunci pencapaian-pencapaian tingkat tinggi, membuat kita cenderung mengagungkan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Di sini muncul problem entah rasa rendah diri atau rasa tinggi hati.

Tiga pertanyaan berikut sekedar contoh pertanyaan untuk mengenal kedalaman Anda dalam bertindak. Silahkan memeriksa batin Anda ke arah mana kecenderungan Anda dalam kenyataannya.

  • Apakah Anda tetap melakukan pekerjaan dengan gaji besar tetapi Anda tidak menyukai pekerjaan tersebut atau Anda melakukan pekerjaan dengan gaji standard tetapi Anda sangat menyukai pekerjaan tersebut?
  • Apakah Anda terus melakukan pekerjaan yang Anda suka tanpa kenal waktu karena mendatangkan banyak uang tetapi sesungguhnya Anda tidak merasakan kedamaian dalam diri Anda dan keluarga atau melakukan pekerjaan secara optimal dengan tetap memberikan waktu dan perhatian untuk keluarga meskipun gaji standard?
  • Apakah Anda menghargai pasangan Anda karena ia berpenghasilan besar tanpa peduli cara mendapatkan penghasilan tersebut atau Anda menghargai pasangan Anda karena ia memiliki komitment yang dalam pada apa yang ia lakukan meskipun gajinya standard?

Kalau Anda memilih yang pertama dari setiap pertanyaan di atas, maka pilihan Anda menunjukkan bahwa Anda bukan orang yang dalam secara spiritual, paling tidak pada masa sekarang, tidak memiliki kedalaman komitment dalam tindakan dan Anda masih akan banyak menderita karena diombang-ambingkan oleh berbagai bentuk kemelekatan dan kebencian.

Kalau Anda memilih yang kedua dari setiap pertanyaan di atas, maka pilihan Anda menunjukkan bahwa Anda memiliki benih spiritual yang bisa dikembangkan agar Anda bisa bertindak dan menjalani kehidupan secara dalam.

Kalau kita mengembangkan perhatian penuh pada setiap tindakan yang kita lakukan, maka muncullah buah keutamaan seperti berikut:

Pertama, ketika kemelekatan pada hasil semakin berkurang, maka kita dapat menghargai dan menikmati proses-proses dalam bertindak. Dengan memberikan perhatian dari moment ke moment, kita menemukan bahwa makna dari suatu tindakan tidak terpisah dari tindakan itu sendiri. Sukacita dan keasyikan sudah kita temukan dalam proses bertindak, bukan pada hasil di akhir tindakan.

Kedua, kedalaman komitment dalam bertindak membuat kita tidak mudah menilai suatu tindakan dari bingkai keberhasilan atau kegagalan. Sukacita karena mendapatkan keberhasilan dari sebuah karya hanyalah bonus tambahan dari kedalaman makna yang sudah kita rasakan saat menggeluti proses-proses karya. Sedangkan kegagalan sesungguhnya bukanlah kegagalan karena menjadi moment pertumbuhan pribadi dan awal dari suatu keberhasilan yang lain.

Ketiga, bertindak dengan penuh kesadaran membuat kita lebih memahami jalinan sebab musabab yang lebih luas dan kondisi-kondisi tertentu sebagai factor-faktor penentu keberhasilan dan kegagalan. Ada banyak persoalan yang memiliki jalinan sebab-musabab dalam rentang sejarah yang panjang. Tanpa memahaminya, kita bisa terjebak untuk memaksakan perubahan menurut keinginan dan kesempitan cara berpikir kita sendiri. Dengan memahami jalinan sebab musabab yang luas ini dan bertindak secara dalam, kita bisa belajar bertindak dengan kearifan, bukan mementingkan keinginan dan dambaan sendiri.

Banyak orang hafal ungkapan berikut ini, “We do our best and let God do the rest.” (Kita melakukan yang terbaik dan selebihnya adalah urusan Tuhan.) Dalam ungkapan tersebut, masih terdapat pemisahan antara “urusanku dan urusan Tuhan”, “tindakanku dan tindakan Tuhan”.

Kalau kita bertindak secara dalam, tidak melekat pada hasil yang kita inginkan, sesungguhnya tidak ada pemisahan. Tindakan adalah tindakan. Tidak ada “tindakanku”, “jasaku”, “keberhasilanku”, “kegagalanku”; juga tidak ada “tindakan Tuhan”, “keberhasilan Tuhan”, “kegagalan Tuhan”.

Ungkapan berikut ini pada hemat saya lebih mendekati kebenaran, “Berjuanglah sekuat tenaga bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah; dan beri kesempatan sepenuhnya kepada Allah untuk bertindak bahwa segala sesuatu ditentukan oleh upaya Anda.”

Ada banyak kisah yang menjelaskan pentingnya komitment dalam bertindak karena nilai atau makna di dalam tindakan itu sendiri. Kisah seorang Sufi berikut ini adalah salah satu contohnya.

Pagi-pagi buta ketika hari masih gelap, ada seorang Sufi berjalan dengan kendi berisi air di tangan kiri dan obor bernyala di tangan kanan. Orang-orang yang berpapasan berpikir bahwa ia sedang pulang dari sumber mata air untuk mengambil air. Pada siang hari ketika hari sudah panas terik, ia berjalan dengan kendi berisi air di tangan kiri dan obor bernyala di tangan kanan. Orang-orang mulai heran dan bertanya dalam hati mengapa ia melakukannya, karena biasanya orang-orang pergi ke sumber mata air untuk mengambil air di pagi dini hari. Setelah matahari terbenam, ia melakukan hal yang sama, berjalan dengan kendi berisi air di tangan kiri dan obor bernyala di tangan kanan. Orang-orang kemudian bertanya, “Apa maksudnya Anda berjalan dengan kendi berisi air di tangan kiri dan obor bernyala di tangan kanan?”. Sufi ini menjawab, “Saya membawa obor api di tangan kanan untuk membakar surga, agar orang bertindak, bekerja dan menjalani kehidupan bukan supaya masuk surga; saya membawa kendi berisi air di tangan kiri untuk memadamkan api neraka, agar orang bertindak, bekerja dan menjalani kehidupan bukan karena takut masuk neraka; melainkan agar orang bisa belajar bertindak, bekerja dan menjalani kehidupan secara dalam, karena Cinta.”*