Oleh J. Sudrijanta

Konflik antara kebaikan dan kejahatan sudah berusia tua, tetapi wajah peradaban manusia tidak lebih baik dibanding generasi-generasi sebelumnya. Meluasnya berbagai bentuk kejahatan disebabkan oleh banyak factor. Salah satunya adalah cara-cara manusia dalam “melenyapkan kejahatan demi kebaikan”– atau lebih tepat “melenyapkan apa yang dipersepsikan sebagai kejahatan demi kebaikan”. Cara-cara yang dipakai dan dibenarkan untuk melenyapkan kejahatan untuk mencapai kebaikan justru menciptakan kejahatan yang lebih banyak

Ada banyak konsep tentang kebaikan dan kejahatan, dan konsep-konsep tersebut sangat dipengaruhi oleh system nilai yang dianut. Semua konflik antara kebaikan dan kejahatan berakar pada konflik system nilai.

Dari system nilai yang kita anut, kita mempersepsikan apa yang kita pandang baik dan apa yang kita pandang jahat. Persepsi pikiran kita tentang apa yang baik dan apa yang jahat dengan merujuk pada system nilai yang kita anut sering kali keliru. Apa yang dipersepsikan sebagai kebaikan seringkali adalah wajah kejahatan yang lain. Kita tidak akan melihat apa yang sungguh baik hanya dengan merujuk pada system nilai, tanpa melihat apa yang jahat sebagai yang jahat melampaui nilai-nilai.

Selain itu, apa yang kita persepsikan sebagai kejahatan di luar sesungguhnya tidak berbeda dengan fakta yang kita temukan dalam diri kita sendiri. Kita seringkali mengritik perilaku korupsi dari para pemimpin negeri ini. Tetapi selama kita sendiri tidak bebas keserakahan, sesungguhnya kita tidak berbeda dari mereka yang kita kritik. Bedanya, mereka memiliki kesempatan untuk korupsi, sedangkan kita tidak. Tetapi akar kejahatan dari mereka yang kita kritik tidak berbeda dengan kita. Kalau kita memiliki kesempatan yang sama, barangkali kita akan senasib seperti mereka. Maka jauh lebih penting pertama-tama menyelami apa esensi kejahatan dengan menilik batin kita masing-masing dan bukan mengumpulkan segala kekuatan untuk melenyapkan kejahatan demi kebaikan tanpa memahami esensinya.

Ada banyak bentuk kejahatan tetapi semua kejahatan berakar pada ketiga hal ini: keserakahan, kebencian, dan delusi. Marilah kita melihat esensi dari kejahatan dengan melihat akar dari setiap kejahatan.

Keserakahan

Keserakahan adalah keinginan untuk selalu mendapatkan apa yang kita suka bagi kepentingan diri sendiri lebih dari apa yang kita butuhkan untuk kelangsungan hidup dasariah. Apa yang kita sukai? Apa saja yang sama dengan keinginan, harapan, impian, minat, kepentingan kita, itulah objek-objek yang kita sukai. Bentuknya bisa beragam, misalnya uang, kekayaan, status, kekuasaan, dst.

Mengapa timbul keserakahan? Keserakahan timbul karena batin selalu merasa kurang dan tidak bisa mengatakan cukup. Batin yang serakah selalu mencari apa yang lebih, meskipun apa yang didapatkan tidak pernah bisa menutup apa yang kurang.

Keserakahan memiliki kontradiksi dalam dirinya; ia menipu dirinya sendiri. Keserakahan mau mendapatkan yang serba lebih, tetapi justru membuat kita lebih banyak merasa kurang. Jadi, mana lebih penting: mencari yang lebih untuk mengisi yang kurang dan tetap kurang atau menyelesaikan problem merasa selalu kurang dan tidak pernah cukup?

Kebencian

Kebencian adalah penolakan, permusuhan, kemarahan terhadap apa saja yang tidak kita suka. Apa yang tidak kita sukai? Apa saja yang berbeda dengan keinginan, harapan, impian, minat, kepentingan kita, itulah objek-objek yang kita benci.

Mengapa timbul kebencian? Kebencian timbul karena batin tidak suka dengan apa yang berbeda dengan pendiriannya. Setiap perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman.  Kalau setiap perbedaan kita persepsikan sebagai ancaman, maka kita akan selalu hidup dengan kebencian karena keberbedaan itu akan selalu ada bersama kita.

Seperti halnya keserakahan, kebencian memiliki kontradiksi dalam dirinya; ia menipu dirinya sendiri. Kebencian mau membuang apa yang tidak disukai, tetapi justru menciptakan lebih banyak hal yang tidak disukai. Jadi, mana lebih penting: mengenyahkan apa saja yang berbeda dengan pendiriannya dan pergulatan itu tidak akan pernah berakhir atau menyelesaikan problem merasa selalu terancam terhadap apa saja yang berbeda?

Delusi

Delusi atau waham adalah keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai dengan fakta. Misalnya ungkapan berikut ini: “Perdamaian harus ditegakkan dengan perang.”; “Kemajuan hanya bisa dicapai dengan konflik.”; “Lebih banyak memiliki membuat kita lebih bahagia.” Dalam setiap bentuk keserakahan dan kebencian, sudah terdapat delusi.

Banyak sekali delusi yang kita bawa dan mempengaruhi cara kita berelasi. Anda bisa menambah daftar panjang delusi ini.

Delusi yang paling halus dan paling tidak mudah dibongkar adalah adanya konsep ego atau si aku yang secara aktuil mempengaruhi cara kita hidup. Ego inilah pusat konflik dan pusat keterpecahan.

Batin yang Seimbang

Tidak ada kekuatan jahat yang bisa menyentuh kita tanpa membangkitkan keserakahan, kebencian, dan delusi. Keserakahan menciptakan teman-teman dengan sifat yang sama dengan pendirianya. Kebencian menciptakan musuh-musuh dengan sifat yang berbeda dengan pendiriannya. Delusi menciptakan liyan sebagai sesuatu yang asing dari kita. Dari tiga akar kejahatan ini berkembang semua kedurhakaan lainnya.

Kualitas batin seperti apa yang membuat kekuatan kejahatan tidak mampu menyentuh kita? Kualitas ini disebut dengan keseimbangan batin (equanimous mind). Batin yang seimbang adalah batin yang tidak tergoyahkan oleh objek-objek di luar atau di dalam batin, entah objek yang menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dengan kata lain, batin yang seimbang adalah batin yang bebas keserakahan, bebas kebencian, dan bebas delusi.

Tiga akar kejahatan ini begitu dalam tersembunyi dalam diri kita, bermanifestasi dalam banyak bentuk, dari yang kasar sampai yang paling halus dan kompleks. Ia bisa mengenai siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kalau pada moment sekarang kita bisa berdiri tegak, lain waktu bisa jadi kita terjatuh. Maka akar kekuatan jahat ini perlu dikenali, diselami, disadari, diawasi, dibersihkan dari moment ke moment

Kebaikan Tidak Memiliki Lawan

Akar kejahatan ini seperti benih yang bisa tumbuh dan membesar. Ia tumbuh karena kita memberi makanan kepadanya untuk tetap hidup dan makanan itu adalah pikiran dan keinginan kita sendiri.

Ada seorang anak yang tinggal bersama kakeknya di pinggir hutan. Hampir setiap hari ia melihat dua serigala datang mendekati rumahnya. Yang satu tampak baik, sopan dan penurut; yang lain tampak agresif, penuh keserakahan dan kebencian. Anak ini bertanya, “Di antara dua serigala ini, siapa yang  akan menang saat mereka berkelahi?” Kakeknya menjawab, “Yang menang adalah serigala yang saya beri makan.”

Kebaikan dan kejahatan itu juga seperti dua serigala yang berkelahi. Siapa yang menang tergantung kepada siapa Anda memberi makan.

Tetapi kalau kita mau menyaksikan berakhirnya secara total konflik antara kebaikan dan kejahatan, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah, kita perlu belajar untuk berhenti dari kebiasaan memberi makan.

Kejahatan selalu memiliki lawan. Tetapi Kebaikan yang sesungguhnya tidak memiliki lawan. Apa yang kita persepsikan sebagai kebaikan adalah wajah lain dari kejahatan selama kita masih memiliki permusuhan. Kebaikan yang sesungguhnya hanya terlahir ketika kejahatan dan sisi lawannya berakhir.*