Oleh KRT. Kusuma Wijaya*)

Umumnya, orang secara naluriah menggunakan kesadaran pikiran (consciouness) dalam relasi antar pribadi, sehingga kadang ia tidak mudah menerima ucapan lawan bicaranya secara “apa adanya” sebagai objek pembicaraan yang netral. Mengapa? Karena setiap diajak bicara, ia sudah beropini (suka, setuju, baik, cocok, positif, negative, dan sebagainya). Naluri inilah yang seringkali menjadikan dialog tidak fokus.

Kesadaran pikiran (consciousness) berbeda dengan kesadaran melampaui pikiran (awareness). Awareness adalah kesadaran yang tidak lagi melibatkan pikiran analitis. Dalam bahasa Jawa ini disebut eling, atau menggunakan batin atau hati.  Meski demikian, suara hati tidak selamanya benar, karena hati cenderung dicemari oleh pikiran yang mencari rasionalisasi dan mementingkan diri sendiri. Di sinilah perlunya senantiasa menjaga hati.

Di dalam consciousness terdapat subyek si “aku” dan objek pembicaraan, sementara dalam awareness subyek atau si “aku” tidak ada, maka obyek tidak lagi disebut obyek, tetapi cukup disebut “apa adanya”. Meskipun hampir semua orang tahu bahwa semata-mata mementingkan diri sendiri tidak baik, tetapi dalam dialog orang sudah mementingkan diri sendiri sehingga tidak bisa menerima sikap lawan bicaranya. Sekali lagi, ini karena naluri mendorongnya untuk beropini, menilai, dan mungkin mengadili. Sikap ini adalah akibat dari reaksi ingatan atas peristiwa relasi masa lalu.

Meneladani cara dialog Bunda Maria dengan Yesus

Contoh dialog awareness secara jelas dapat kita lihat dari percakapan antara Bunda Maria dan Yesus dalam Injil Yohanes 2:1-11; Perkawinan di Kana. Sejak Bunda Maria menerima Kabar Gembira dari Malaikat Gabriel, ia berjanji untuk hidup setia: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Janji tersebut dihayati sepanjang hidupnya.

Dalam kisah perikope Injil Yohanes tersebut, Bunda Maria sangat peduli kepada si pemangku hajat. Ia tetap fokus ingin membantu supaya tidak kekurangan anggur. Ketika Bunda Maria berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya, “Mau apakah engkau daripada-Ku, Ibu? Saat-Ku belum tiba.” Mendengar ucapan Yesus tersebut, Bunda Maria tetap bersikap positif, fokus, dan tidak reaktif. Bunda Maria bisa menerima ucapan Yesus apa adanya, tanpa opini karena menggunakan kesadaran hati sejati, tanpa mementingkan diri sendiri.

 Bayangkan apabila hal itu terjadi pada diri kita ketika berdialog, mungkin masalah bisa beralih karena pikiran secara naluriah mendominasi, sehingga si “aku” beropini. Bisa jadi yang awalnya berniat peduli kepada sesama akhirnya tidak bisa terwujud. Karena Bunda Maria tidak beropini, bisa menerima apa adanya ucapan Yesus, tetap fokus ingin membantu, maka berkatalah Bunda Maria kepada para pelayan (tidak menanggapi ucapan Yesus), “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Akhir dari kisah ini kita semua tahu bahwa si pemangku hajat berkelimpahan anggur yang diubah Yesus dari air karena dialog Bunda Maria dengan Yesus yang awareness. Dalam dialog tersebut Yesus juga tidak reaktif terhadap ucapan Maria kepada para pelayan, karena Yesus-pun awareness.

Eling atau kesadaran hati inilah yang kiranya harus kita biasakan dalam hidup supaya bisa membangun relasi yang baik dengan sesama, terutama di dalam keluarga, lingkungan sekolah, pekerjaan, komunitas, dan sebagainya. Rusaknya relasi banyak disebabkan karena menggunakan kesadaran pikiran: si “aku” selalu mendominasi. Atau yang sering terjadi adalah tampaknya baik, tetapi sejatinya ada pihak yang tidak puas tapi terpaksa mengalah karena tidak berdaya atau tidak ingin konflik. Pihak yang terpaksa mengalah ini juga masih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri karena belum bisa menerima ucapan secara apa adanya, masih ada yang “mengganjal”, dan karena itulah sejatinya masih ada konflik di dalam batinnya, meskipun katanya sudah mengampuni dan bisa menerima.

Kita tahu bahwa hukum bukan sebuah produk pikiran belaka, tetapi harus memiliki roh berupa moral. Dan ketika hukum diterapkan hanya berdasarkan apa yang tertulis tanpa moral, maka yang terjadi rekayasa hukum yang sangat tidak berkeadilan. Demikian pula, apa pun produk manusia bila tidak didasari kesadaran hati sejati yang adalah Bait Allah, produk itu menyimpan konflik. Yang sering kita saksikan adalah konflik terbuka akibat egoisme yang kasat mata merugikan banyak orang, misalnya kerusakan lingkungan ketika yang berwenang mengeksploitasi sumberdaya alam dengan serakah. Padahal apabila kita cermati, banyak produk manusia yang tampaknya baik tetapi sesungguhnya buah dari egoisme, ia menyimpan konflik. Tetapi karena sikap lebih baik mengalah dan diam atau karena tidak berdaya, maka seolah-olah tidak ada konflik. Banyak orang mengukur konflik dari yang kasat mata, padahal di balik itu ada api di dalam sekam yang tak bisa dianggap enteng.

 Membangun Habitus Baru

Segala sesuatu, apa pun itu, selalu dimulai dari kebiasaan. Demikian juga consciousness menjadi kebiasaan karena biasa mengandalkan pikiran, menganggap pikiran analitis mampu menyelesaikan berbagai masalah kehidupan. Ki Ageng Surya Mentaram dalam salah satu piwulangnya mengatakan, bila orang memakai baju untuk semata memenuhi kebutuhan rasa, meskipun telah memiliki seratus baju, masih merasa kurang; sebaliknya apabila baju untuk memenuhi kebutuhan raga, tiga potong baju sudah lebih dari cukup, karena satu dipakai, yang dua disimpan dan dicuci. Maksud dari ajaran ini, hendaknya kita hidup proporsional, barang yang kasat mata dipakai untuk memenuhi yang kasat mata, yakni raga, tetapi yang bukan kasat mata harus dipenuhi dari yang tidak kasat mata.

Dari sini pula hendaknya orang hidup menggunakan kesadaran pikiran (consciousness) untuk menyelesaikan masalah-masalah teknis dalam pekerjaan sehari-hari, contoh sepele memasak air, kita gunakan pikiran untuk mencari air, menyiapkan tungku, menyalakan api, dan seterusnya. Ketika untuk menyelesaikan hal-hal yang bersifat batin, misalnya dalam berelasi dengan orang lain atau kegiatan spiritual, hendaknya juga menggunakan kesadaran batin (awareness), sehingga bisa menerima orang lain secara apa adanya tanpa intervensi pikiran untuk beropini dan menghakimi, atau membuka rekaman masa lalu dalam berelasi, padahal setiap orang setiap saat berubah. Sikap ini mungkin ada yang menilai menjadi pribadi yang tidak peduli dengan lawan bicaranya. Jangan salah, karena menggunakan awareness, justru responnya love and compassion seperti yang diharapkan oleh lawan bicara (bukan opini dan mengadili).

Untuk menjadikan awareness kebiasaan, dibutuhkan niat meluangkan waktu rutin berlatih dalam doa hening yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan kepada Gusti ingkang Maha Tan Kinira (bukan Gusti menurut image atau konsep saya), dengan sadar atau eling setiap saat tanpa daya upaya sampai dengan sendirinya si “aku” hilang. Sikap ini serupa ketika, misalnya kesemutan di kaki karena lama duduk bersila, atau kegerahan dalam suatu ruangan yang pengap. Bila kita bisa menyadari atau eling menerima apa adanya tanpa beropini bahwa kesemutan atau kegerahan akan mencelakakan diriku karena membuatku tidak bisa berdiri atau dehidrasi, pasti sensasi fisik berupa kesemutan dan kegerahan akan hilang dengan sendirinya. Inilah makna dari “eling setiap saat” menerima hal secara apa adanya tanpa opini. Dalam doa hening “sesuatu yang lain” itu tidak dikejar dengan daya upaya. Datangnya “sesuatu yang lain” sepenuhnya merupakan rahmat yang datang tanpa diantisipasi, tanpa diduga, tanpa diinginkan sebelumnya. Rahmat tersebut datang ketika diri atau si “aku” lenyap. Akhir perjalanan tidak dicapai dalam suatu waktu tertentu sebagai hasil pergulatan panjang oleh si “aku”, melainkan terlahir setiap saat ketika si “aku” lenyap karena eling setiap saat.

Ada manfaatnya juga bila kita mengingat arti kata “sekolah” seperti aslinya. Sekolah dari bahasa Yunani skula yang artinya saat teduh, ketika orang menggunakan waktu luangnya untuk mengembangkan kekuatan batinnya. Kekuatan batin ini akan menghasilkan buah-buah pikiran yang cerdas untuk membangun budaya kehidupan dan menjaga keselarasan dengan alam. Sekolah modern sangat jauh dari konsep waktu teduh, apalagi untuk pengembangan kekuatan batin. Sekolah saat ini sangat bergantung pada kekuatan pikiran analitis yang membuahkan sikap defensif dan mementingkan diri sendiri. Demikian pula menghayati agama dengan pikiran akan membuahkan egoisme dalam ber-Tuhan, Allah direduksi sebagai Allah sesuai image-ku dan untuk memenuhi kemaunku, bukan kehendak-Nya Yang Maha Tan Kinira.

Buah Retret Meditasi Tanpa Objek

Tulisan ini buah dari keikutsertaan dalam retret “Titik Hening – Meditasi Tanpa Objek”, pada tanggal 14 sampai dengan 18 Nopember 2012 di Rumah Retret Susteran OSF Muntilan, yang didampingi oleh Rama J. Sudrijanta SJ. Penulis rasakan bahwa retret tersebut bermanfaat sebagai bekal melanjutkan peziarahan hidup, njangkepi lelakoning urip, bukan sebagai ilmu, tetapi sebagai ngelmu yang harus dihayati dengan membiasakan eling setiap saat. Ngelmu iku kelakoni kanthi laku, harus dihayati tekun bermeditasi eling setiap saat tidak hanya selama duduk hening dalam waktu khusus (seperti yang penulis ketahui tentang metode meditasi selama ini), tetapi juga saat mengayunkan dan mengangkat kaki ketika sedang berjalan, makan, minum, atau apa pun yang sedang dilakukan, harus selalu eling, karena ukuran sukses retret bisa membuat keseharian hidup nyaman, selalu fresh tanpa ego, peaceful, menghayati love and compassion dalam berelasi dengan keluarga, rekan kerja, komunitas, dan siapa pun. Selain itu, penulis juga ingin belajar menggunakan pikiran secara efektif ketika ia benar-benar dibutuhkan untuk memecahkan sesuatu, tidak membuang energi karena si “aku” defensif. Sembah nuwun, Rahayu, Berkah Dalem.

*) P. Kusuma Wirawan (KRT. Kusuma Wijaya),

Koordinator Pandhemen Temu Kebatinan

Komisi Hubungan Antar Agama,

Keuskupan Agung Semarang