Testimoni Retret Meditasi 7 hari, 25 Desember – 1 Januari 2013.

MRG, 44 tahun, Pengajar sebuah Perguruan Tinggi.

Saya mengenal meditasi tanpa objek ini sekitar 1.5 tahun lalu di Gereja Santa, Kebayoran Baru. Dalam satu tahun terakhir saya tidak pernah mengikuti meditasi di gereja, tetapi dalam waktu yang tidak menentu tetap melakukan meditasi singkat di rumah. Bagi saya, meditasi ini mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada persoalan yang tiba-tiba datang. Saat itu saya mencoba sadar dengan hening, untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Alasan utama saya mengikuti retret ini adalah  agar di masa depan saya dapat mengolah kehidupan batin saya menjadi lebih berkualitas dengan mencoba menyingkirkan kotoran-kotoran batin, seperti prasangka, kemarahan, kebencian.

Saya ingin mengisi testimoni ini dengan men-sharing-kan perjalanan saya melihat batin selama retret 7 hari.

Pada hari pertama retret meditasi, batin saya bergolak. Saat itu tiba-tiba muncul peristiwa 2 tahun lalu, di mana ada permasalahan dengan seorang sahabat. Tetapi pergolakan ini tidak lama, karena memang kami sudah “berdamai”. Kemudian muncul kejadian 5 tahun lalu, yaitu berpulangnya mama yang ternyata masih meninggalkan kesedihan mendalam. Saya tidak siap dengan pergerakan batin ini, karena selama ini saya berkeyakinan bahwa saya sudah “berdamai” dengan peristiwa itu. Selain itu, hari pertama retret merupakan saat-saat penyesuaian di mana saya merasa seperti dicemplungkan ke dalam alam keheningan yang serba baru. Ketidaksiapan itu saya wujudkan dengan melarikan diri dari meditasi, yaitu mencari kesibukan lain yang tidak berhubungan dengan meditasi. Bahkan terlintas untuk kabur dari lokasi. Untunglah dompet sudah diamankan oleh panitia.

Pada hari kedua saya mencoba berdamai dengan peristiwa hari pertama. Saking khusyuknya, saya tidak mendengar bel makan siang yang dibunyikan, padahal saya meditasi pada jarak sekitar 15 meter dari lokasi makan. Pada saat dialog dengan Pembimbing pada sore hari, saya disadarkan untuk tidak melarikan diri dari fakta-fakta yang muncul. Sebaliknya, justru saat itulah saat yang paling baik untuk melihat pergerakan batin. Harapan saya untuk menata kehidupan batin di masa yang akan datang buyar, karena yang muncul adalah masa lalu. Tetapi menurut Pembimbing, inilah saat yang baik untuk meletakkan fondasi yang kuat untuk pengolahan hidup batin.

Pada hari ketiga, saya tetap mencoba rileks dan tetap fokus pada pergerakan batin.

Pada hari keempat saat istirahat siang,  perut saya mules. Sore harinya saya menyadari ada bentol-bentol di badan saya. Saya menemui Panitia dengan mengatakan, “Saya keracunan makanan”. Panitia langsung menanggapi dengan membantu membelikan obat penawar racun. Meditasi malam saya jalani dengan pergulatan menahan rasa gatal.

Pada hari kelima, sekitar setengah jam sebelum bel bangun tidur dibunyikan, saya terbangun tetapi dalam keadaan kurang prima. Pandangan mata putih semuanya, lutut tidak kuat untuk berdiri dan kepala pusing. Saat itu saya berpikir bahwa saya sakit. Saya mencoba kembali tidur, tetapi tidak berhasil. Saya ingat pesan Pembimbing, “Kalau tidak bisa tidur malam hari jangan dipaksakan tidur, tetapi silahkan terus bermeditasi.” Saya mencoba menjalankan saran Romo Pembimbing. Tiba-tiba seperti ada bom meledak di batin saya. Muncul suatu peristiwa 37 atau 38 tahun lalu. Saat itu saya berusia 7 atau 6 tahun. Ketika itu saya dituduh melakukan sesuatu oleh teman yang lebih muda usianya dari saya. Yang menyulitkan keadaan saya saat itu adalah ibu dari teman itu mengadu pada orang tua saya dan akibatnya saya dihukum oleh orang tua saya. Saya membela diri sekuat tenaga, tetapi tidak ada yang mau percaya. Beberapa jam setelah saya dihukum, ada seorang ibu lain yang memberi kesaksian pada orang tua saya, bahwa saya tidak melakukan hal yang dituduhkan itu. Selama saya tumbuh menjadi dewasa, saya tidak pernah ingat lagi peristiwa itu. Tetapi saat moment itu meledak, rasa sakit itu muncul. Saat itu saya tahu batin saya masih terluka. Dugaan saya, rasa mules dan gatal-gatal yang saya alami pada sore sebelumnya hanyalah dampak dari fenomena batin seperti ini.

Hari keenam dan ketujuh saya terus bertahan untuk melihat batin, memberi perhatian penuh pada rasa sakit yang muncul. Sekarang saya mengikuti saran Pembimbing untuk fokus pada batin yang sakit. Saya butuh dua hari untuk fokus pada luka yang ada. Yang saya rasakan adalah luka tersebut seperti bisul di dalam dada yang menusuk-nusuk. Setiap kali diberi perhatian penuh, si bisul ini pelan-pelan mengecil dari arah samping sampai akhirnya berkurang pelan-pelan.

Akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Rm. Sudrijanta, S.J. atas pencerahannya. Saya mendukung kebijakan mengumpulkan semua barang yang dianggap dapat menganggu keheningan. Saya senang bisa menyelesaikan retret 7 hari ini dengan meletakkan fondasi yang lebih baik pada perjalanan batin saya. Walaupun ketika muncul hal-hal yang tak terduga, saya terkaget-kaget. Saya kemudian sadar bahwa semua itu adalah proses yang harus saya jalani.

Keajaiban lain adalah ternyata saya bisa makan 2 kali sehari. Biasanya saya makan minimal 3 kali sehari. Tetapi selesai retret kok tidak jadi kurus ya? Terima kasih juga untuk Panitia yang telah bersusah payah mensukseskan retret ini.*