Oleh J. Sudrijanta

Hampir setiap saat kita melakukan pencarian untuk menemukan Kebenaran. Banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan pencarian Kebenaran, misalnya sebagai berikut. “Apakah relasiku dengan seseorang sudah benar?” “Bagaimana bekerja atau bertindak secara benar dalam situasi-situasi yang tidak ideal”. “Bagaimana mendekati persoalan dan memecahkannya secara benar?” “Bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari secara benar?”

Kebenaran yang kita temukan dengan merujuk pada sumber-sumber kebenaran dalam Kitab-kitab, doktrin agama atau tradisi sebagai satu-satunya sumber paling valid dalam menemukan kebenaran tidak cukup menjadi penerang setiap langkah kita. Bahkan kebenaran versi Kitab-kitab dan doktrin intelektual yang kita lekati justru menjadi sumber konflik dan peperangan sejak awal manusia mendiami bumi hingga sekarang. Oleh karena itu, betapa penting dan mendesak untuk menemukan Kebenaran secara actual.

Kebenaran actual bukanlah informasi tentang fakta, melainkan persepsi tentang fakta “apa adanya” itu sendiri. Kebenaran adalah persepsi tentang fakta sebagai “apa adanya” dan persepsi tentang “apa adanya” adalah tindakan seketika. Dengan demikian persepsi tentang Kebenaran merupakan tindakan actual yang berlangsung dari saat ke saat.

Kebenaran actual hanya di temukan pada saat sekarang, dalam relasi-relasi, dan seketika. Ia bukan penerusan konsep-konsep kebenaran dari masa lampau, bukan hasil spekulasi kebenaran di masa yang akan datang. Ia tidak ditemukan dalam isolasi diri, melainkan ditemukan dalam relasi-relasi kita satu dengan yang lain. Ia juga bukan hasil dari proses-proses pikiran dengan mencari rujukan, membandingkan, menganalisa, menilai, dan menyimpulkan.

Tidak ada pendekatan yang paling baik untuk mencari dan menemukan Kebenaran actual selain melihat kepalsuan sebagai kepalsuan. Dengan melihat dalam kejernihan kepalsuan sebagai kepalsuan–bukan persepsi tentang kepalsuan sebagai hasil pembandingan terhadap kebenaran konseptual– kita melihat Kebenaran.

Sesuatu disebut sebagai ilusi atau kepalsuan adalah kalau sesuatu itu tidak sesuai dengan fakta atau realita. Tetapi tidak semua fakta atau realita adalah Kebenaran.

Ada realita fisikal dan ada realita psikologis. Mari kita salami bersama.

Ada realita fisik yang tercipta tanpa melibatkan pikiran dan ada yang harus melibatkan pikiran. Tetumbuhan, hewan, bebatuan adalah realita fisik yang tercipta tanpa melibatkan pikiran. Benda-benda hasil teknologi, perumahan, pakaian adalah realita fisik yang tecipta dengan melibatkan pikiran.

Semua realita psikologis, seperti pengalaman kenikmatan dan kesakitan, timbul karena proses-proses pikiran. Misalnya, setiap kali timbul ingatan tertentu tentang masa lampau, ingatan itu membangkitkan kenikmatan atau kepedihan ketika pikiran bekerja. Ingatan yang datang tersebut bisa dialami seperti sebuah gambar film yang hidup, yang membangkitkan perasaan yang begitu nyata, sampai mempengaruhi detak jantung, tekanan darah, dan ketegangan fisik. Rasa perasaan tersebut, entah kenikmatan atau kepedihan, adalah realita psikologis dan realita psikologis, apapun namanya, diciptakan oleh pikiran.

Semua realita psikologis, betapapun tampak nyata seperti pengalaman kenikmatan atau kepedihan, sesungguhnya adalah ilusi atau kepalsuan. Ilusi adalah fakta, kenyataan atau realita psikologis yang diciptakan oleh pikiran. Bagi batin yang dipenjara ilusi, fakta psikologis tampak betul-betul nyata, tetapi fakta tersebut bukanlah Kebenaran.

Berikut ini beberapa contoh lain tentang fakta yang bukan Kebenaran sekedar untuk menambah deskripsi.

–          “Hidup adalah penderitaan” merupakan fakta, tetapi bukan Kebenaran karena kita bisa mengakhiri penderitaan itu sekarang juga kalau kita mau.

–          Adanya entitas ego/diri adalah fakta sebagai akar dari penderitaan, tetapi bukan Kebenaran karena ego/diri hanya ciptaan pikiran.

–          Reinkarnasi adalah fakta tetapi bukan Kebenaran karena  ego/diri yang berinkarnasi tidaklah abadi dan proses reinkarnasi bisa diputus pada saat kita hidup sekarang ketika ego/diri diruntuhkan.

–          Tuhan-tuhan sebagai konsep adalah fakta yang membuat kita merasa aman atau pasti dalam menjalani kehidupan, tetapi bukan Kebenaran karena tidak ada Tuhan-tuhan yang mendatangkan keselamatan atau pembebasan.

–          Pernyataan bahwa kalau kita percaya pada Allah atau Krishna atau Buddha, kita akan masuk surga atau mengalami moksa atau mengalami pembebasan adalah fakta yang membuat kita merasa menemukan kepastian, tetapi bukan Kebenaran, karena kepercayan justru menghalangi penemuan akan Kebenaran.

Bagaimana bisa batin yang hidup dalam kepalsuan keluar dari penjara ilusi? Kebenaran actual ditemukan pertama-tama kalau ada kesadaran total tentang kepalsuan-kepalsuan. Dengan melihat kepalsuan sebagai kepalsuan secara total, maka Kebenaran ditemukan dan Kebenaran itulah yang membebaskan.

Bisakah kita belajar bertindak bukan dari proses pikiran, tetapi dari insight tentang Kebenaran? Kenyataannya, hampir selalu tindakan kita bersumber dari proses-proses pikiran dan proses-proses pikiran ini menciptakan kepalsuan. Dengan demikian hampir selalu kita hidup dan bertindak dalam kepalsuan. Maka tindakan yang muncul dari insight tentang Kebenaran hanya mungkin kalau batin melihat kepalsuan-kepalsuan ini. Melihat kepalsuan dari saat ke saat adalah menemukan Kebenaran. Dan menemukan Kebenaran adalah bertindak seketika.

Tidak ada habis-habisnya menyelami kepalsuan-kepalsuan yang kita warisi, kita ciptakan dan kita wariskan kepada anak-anak kita. Ada begitu banyak paham, konsep, teori, gambaran tentang kebenaran yang ada di benak kita dan itu semua mengondisikan batin dan meracuni relasi-relasi kita termasuk relasi dengan Tuhan yang sesungguhnya. Dengan melihat Kebenaran di dalam kepalsuan, kita belajar membiarkan Kebenaran bekerja dan menghasilkan tindakannya sendiri.*