MR, 40 th, karyawati sebuah bank. 

Mengikuti retret meditasi kembali buat saya sangat menyenangkan. Retret  empat hari, 25-28 Oktober 2012 ini adalah yang kedua kalinya saya ikuti. Liburan yang asyik dengan belajar menyelami diri ini lagi dan lagi.

Saya teringat kata-kata Romo Pembimbing, “Apa yang kita lakukan sangatlah sederhana. Sadar dari saat ke saat dalam waktu yang lama. Itu saja.” Meskipun sederhana, kata Romo, “Praktik kesadaran tidaklah mudah, namun juga tidaklah sulit”. Duduk diam dan menyadari gerak pikiran, sampai berhenti dengan sendirinya. Hemmm, selalu menarik untuk dicoba dan dicoba lagi.

Retret  ini dibuka dan ditutup dengan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dengan suasana meditatif, sangatlah indah. Empat janji agung yang selalu kami ucapkan bersama di saat penutupan retret, mengingatkan kami untuk selalu menghargai kehidupan ini.

Saya tertarik sekali dengan tantangan Romo, “Bisakan melihat dalam kejernihan, mendengar dalam kejernihan, bertindak dalam kejernihan…?” Inspiratif sekali. Biasanya saya melihat atau mendengar dengan pikiran yang begitu gaduh. Pikiran menilai suka atau tidak suka. Pikiran melebeli. Jarang saya bisa melihat atau mendengar dalam kejernihan. Dengan meditasi, saya belajar untuk melihat ‘apa adanya’, yang berarti melihat dalam kejernihan.

Menyelami batin ini memang tidak mudah. Duduk diam pun tidak mudah. Ada gangguan saat kaki terasa sakit. Pikiran berkecamuk. Muncul keinginan untuk mengubah posisi kaki atau untuk tetap bertahan. Pikiran datang dan pergi silih berganti.

Dialog pribadi atau bersama juga sangat memperkaya. Pertanyaan atau pengalaman dari teman-teman lain dan tanggapan Romo mempertajam bagaimana praktik kesadaran bisa dijalankan. 

Saya terkesan dengan ulasan Romo tentang pemekaran batin. “Batin ini seperti bunga. Biarkan bunga ini mekar dan layu dengan sendirinya. Dalam pemekaran batin, terjadi pengakhiran. Semuanya berlangsung secara alamiah.” Pada saat meditasi, hal-hal tidak terduga yang tidak saya perkirakan muncul begitu saja. Saat muncul ingatan akan hal-hal yang tidak saya sukai, ada kecenderungan untuk menghentikan. Dengan menghentikannya, justru saya tidak membiarkan batin mekar. Pikiran itu seperti pisau yang memotong bakal bunga yang mau mekar. Padahal dengan membiarkan mekar, gerak batin berhenti dengan sendirinya. Dengan membiarkan mekar, ingatan atau pikiran apapun tidak lagi menjadi gangguan.

Diam itu mengasyikkan. Tetapi belajar diam memang tidak mudah. Maka dukungan dari teman-teman peserta retret lain sangat membantu. Tidak berbicara satu dengan yang lain sudah menjadi bantuan yang berarti. Sebaliknya, peserta yang melanggar aturan keheningan dengan berbicara menjadi gangguan bagi yang lain.
Terima kasih banyak secara khusus  kepada Romo Sudri, yang sudah berbaik hati dengan menyediakan waktu secara total di setiap kesempatan retret meditasi. Juga atas kesabarannya dalam menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Terima kasih juga buat teman-teman peserta retret atas kebersamaannya.*