Oleh J. Sudrijanta

Selama puluhan atau ribuan tahun manusia hidup, kebanyakan manusia tidak bebas dari konflik, ketakutan, kepedihan, keserakahan, dan berbagai bentuk pergulatan. Sejak awal sejarah manusia mendiami bumi, manusia sudah terpenjara oleh waktu. Waktu adalah konflik. Hidup dalam waktu adalah hidup dalam konflik. Bisakah manusia—Anda dan saya—membalikkan arah, hidup bebas dari waktu, bebas dari konflik? 

Pencarian manusia akan hidup kekal—Anda bisa menyebutnya Kerajaan Allah, Tuhan, Roh Kudus, Surga, Nibana, Moksa, Keabadian, Pencerahan, Kebenaran, Cinta, Damai, Kebebasan, Kearifan—melalui dogma-dogma, kitab-kitab suci, tradisi, dan liturgy, justru sering kali menjauhkan manusia dari problem dasar yang dihadapi. Dogma-dogma atau kitab-kitab yang dilekati  justru membuat manusia takut atau malas untuk berjalan lebih jauh. Takut, karena manusia berhadapan dengan otoritas kebenaran di luar atau di dalam batin yang tidak boleh dilanggar. Malas, karena rumus-rumus kebenaran pada tingkatan tertentu menciptakan rasa aman atau rasa pasti. Ketakutan dan kemalasan membuat batin tumpul, mekanis, dan dangkal. 

Bukankah hidup kekal atau realita di luar waktu tidak bisa dicapai melalui proses waktu? Bukankah lebih penting bertanya bisakah proses waktu berakhir, supaya realita di luar waktu terlahir? Bukan bertanya bagaimana mencapai hidup kekal sementara kita enggan meninggalkan arus waktu. 

Ada waktu kronologis dan ada waktu psikologis. Waktu kronologis adalah gerak fisikal yang bisa diukur menurut hitungan detik, menit, jam, hari, tahun, dst. Waktu psikologis adalah gerak batin sebagai penerusan masa lampau ke masa sekarang dan diproyeksikan ke masa depan.

Kita membutuhkan waktu kronologis untuk bergerak atau berkembang dalam dunia fisik. Tetapi apakah kita membutuhkan waktu psikologis untuk mengalami perubahan batin secara fundamental atau untuk mengalami realita di luar waktu?

Bisakah kita menyelesaikan problem waktu psikologis setiap hari? Waktu kronologis kita selesaikan dengan menjalani. Anda menyelesaikan kontrak kerja 3 tahun, misalnya, dengan menjalani dan waktu 3 tahun akan berakhir dengan sendirinya. Tetapi apakah waktu psikologis akan berakhir dengan sendirinya dengan menjalani hidup yang pendek di dunia ini sampai kematian fisik tiba?

Arus waktu psikologis belum akan berakhir, bahkan setelah kematian fisik. Banyak pengalaman reinkarnasi, NDE (Near-Death Experience), atau ALC (After-Life Communication) menyatakan secara gamblang fakta tersebut. Maka tantangan kita adalah bisakah kita—batin—keluar dari arus waktu psikologis sekarang?

Waktu psikologis bisa dikenali dengan mencermati gerak batin berikut.

1)      Gerak menyaring. Batin yang terkondisi sudah terbiasa menghadapi tantangan melalui filter atau saringan masa lampau. Masa lampau adalah memori, pengalaman, imaginasi, pengetahuan, ide-ide, otoritas, ketakutan, kelekatan, hasrat, harapan, ambisi, dst. Lewat memori psikologis, kita menyaring, menyensor, menilai, menolak atau menerima. Apa yang baik atau buruk, benar atau salah, bernilai atau tidak bernilai hanyalah masalah cocok atau tidak cocok dengan keterkondisian batin, bukan hasil dari persepsi langsung akan faktanya. Batin yang meresp0ns tantangan dengan merujuk pada sampah masa lampau tentu saja tidak bisa merespons tantangan secara baru. Respons yang baru hanya mungkin kalau batin dibebaskan sepenuhnya dari sampah masa lampau. Ingatan psikologis sekian detik yang lalu atau sekian ribu tahun yang lalu adalah sampah masa lampau. Kalau batin tidak bebas dari ingatan psikologis, kita selalu hidup dalam masa lalu atau tidak pernah hidup di Saat Sekarang.

2)      Gerak menjadi. Kita sudah terbiasa dididik untuk mengarahkan hidup ke masa depan, dengan menjadi apa yang bukan apa adanya kita, untuk menjadi apa yang seharusnya. Karena kita tidak pernah mencapai secara sempurna idea yang kita impikan, maka kita menghibur diri dengan mengatakan, “Waktu akan menyembuhkan. Segala sesuatu akan menjadi baik dalam proses waktu.” Dalam banyak bentuk, kita bergulat “untuk mencapai” atau “untuk menjadi”. Pergulatan “untuk menjadi” atau “untuk mencapai” itu sendiri adalah esensi dari waktu psikologis. Realita di luar waktu ada di masa depan sebagai proyeksi dari pikiran yang adalah masa lampau. Masa sekarang hanya berisi pergulatan dari masa lampau menuju masa depan.

3)      Gerak ego/diri. Waktu menciptakan ego/diri: uangku, hartaku, pengetahuanku, kebenaranku, ketakutanku, hasratku, kepedihanku, kebahagiaanku, kenikmatanku, dst. Ego/diri hanya ada di masa lampau. Ketika kita hidup masih berpusat pada ego/diri, maka kita masih membawa masa lampau ke masa sekarang. Kita suka mengatakan, “Yang penting adalah hari ini, sebab kemarin sudah lewat dan besok belum terjadi. Jalanilah hidup ini dengan mengalir seperti air sungai.” Gerak batin yang berfokus pada “hari ini”, adalah juga esensi dari waktu psikologis, selama masih berpusat pada ego/diri. Masa sekarang yang masih digerakkan ego/diri bukanlah Saat Sekarang di luar waktu. Sekalipun kita berusaha menjalani kehidupan seperti air mengalir, selama ego/diri sebagai akumulasi dari waktu belum runtuh, batin belum keluar dari problem waktu. 

Kalau kita pernah keluar dari arus waktu, meskipun hanya sekian detik, kita menjadi paham bahwa waktu psikologis pada hakekatnya bersifat ilusif atau tidak nyata. Peristiwa-peristiwa yang kita alami bukanlah peristiwa-peristiwa yang sambung-menyambung tak terputuskan, melainkan berlangsung secara terpisah, utuh, lengkap, seperti potongan-potongan gambar dalam film. 

Apa yang disebut masa lampau tidak lain adalah ingatan yang sudah lewat dan masa depan adalah ingatan yang diproyeksikan atau diprediksikan ke depan. Gerak ke masa lampau dan masa depan tidak lain adalah gerak pikiran, keinginan, ketakutan, harapan, ambisi, dst. Ketika gerak masa lampau berhenti, setiap peristiwa yang terjadi dalam waktu (kronologis) dan melampaui waktu (psikologis) adalah baru. 

Keabadian atau realita di luar waktu adalah realita Saat Sekarang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Saat Sekarang dari moment ke moment selalu baru, khas, berbeda. Benarlah apa yang dikatakan Heraclitus, “Manusia tidak bisa menginjakkan kaki ke dalam air sungai yang sama.” 

Banyak peristiwa muncul dan lenyap, setiap hari, setiap saat. Namun dalam dunia yang terus berubah ini, ada sesuatu yang tidak datang sekaligus tidak pergi, tidak bersebab sekaligus tidak berakibat, tidak berawal sekaligus tidak berakhir, tidak dilahirkan, tidak diciptakan. Dari sanalah segala sesuatu datang, bergerak, dan ke sanalah segala sesuatu kembali. 

Segala sesuatu datang dan pergi begitu cepat. Dalam hitungan detik, kita melihat banyak pergerakan dan perubahan evolutif di dunia luar; juga pergerakan evolutif di dalam tubuh dan batin. Tetapi batin yang hening, bebas dari memori masa lampau, adalah seperti sebuah lensa yang mampu menerobos fakta bahwa seluruh gerak evolutif di dalam atau di luar batin semu belaka. Seperti gambar film, batin  menangkap setiap potongan gambar—moment sekarang—yang berhenti, utuh, dan sempurna. 

Sebaliknya, batin yang berpikir selalu bergerak—menamai, membayangkan, membandingkan, menilai, menyensor, ingin menjadi, ingin mencapai, membenarkan, menyalahkan, menyenangi, membenci– sehingga dunia ini tampak tak pernah berhenti berlari dengan konflik-konflik dan pergulatannya. Tetapi ketika gerak pikiran sepenuhnya berhenti, bukankah ilusi waktu sepenuhnya lenyap? Bukankah batin dibebaskan dari penjara waktu pada moment Saat Sekarang? Ketika waktu psikologis berakhir, bukankah kita bisa menjalani dan menyelesaikan waktu kronologis dengan vitalitas energy yang berbeda dan dunia di sekitar kita juga tampak menjadi berbeda?*