Testimoni seorang yogi, 22 tahun, yang sangat menarik.

Oleh: Lista Surian

Menanggapi postingan Bpk Hudoyo tentang ketakutan dalam meditasi (https://www.facebook.com/notes/hudoyo-hupudio/mengalami-ketakutan-dalam-meditasi/10151042278696640), tulisan berikut ini disusun dengan mengambil potongan-potongan dalam jurnal saya, tentang bagaimana saya sampai pada titik ini.

1

Sejak masih kecil sampai tamat sekolah, sesekali aku mengalami ketakutan akan eksistensi diri—hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun karena kukira itu semua hanyalah sia-sia belaka. Jarang-jarang terjadi, tetapi jika momen itu muncul, aku benar-benar tertinggal sendirian, sekalipun dalam kesehariannya aku berkecukupan, memiliki ibu yang sangat baik, memiliki penghidupan dan fasilitas yang memadai dan juga memiliki sahabat-sahabat akrab. Sekalipun aku memiliki kenyamanan ini semua, namun tetap, di setiap momen ‘itu’ datang, aku harus menghadapi semuanya sendirian. Gersang, hampa, gila, sulit menerima, dan ngeri yang luar biasa tak tertahankan terhadap eksistensi diri sendiri. Bersamaan, jantungku berdegup amat kencang seolah mau copot, ketakutan yang amat hebat, sulit sekali dibendung. Kengerian ini mudah muncul ketika sedang mandi keramas, sabunan.

Biasanya kalau sudah itu yang terjadi, aku menenangkan diri dengan buru-buru mengucap omanipe’mihom berulang-ulang–yang ketika kanak-kanak, demikian aku diajari mama kalau terjadi apa-apa. Ketika agak besar tidak lagi mengucap omanipe’mihom, cara yang kulakukan adalah semacam mengambil suatu topik yang bisa dijadikan bahan pemikiran untuk “mati-matian” keluar dari keadaan itu.

Setiap itu muncul, pada titik yang paling amat tak tertahankan, aku segera membuat gerak untuk menghentikanya, segera melupakannya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dengan begini akhirnya aku sanggup menormalkan keadaan kembali. Mengapa? Karena kemunculannya itu sangat menyesakkan, tak tertanggungkan, sehingga pilihan yang terbaik yang kutahu adalah membuangnya jauh-jauh. Sejauh mungkin. Dan kembali hidup seperti biasa lagi, menjalani hari-hari seperti biasa.

2

Memasuki usia remaja, aku mulai menghadapi masalah demi masalah dari berbagai aspek, masalah keluarga, masalah pribadi, dan sebagainya. Pelarian akhirnya jatuh pada menulis curhatan yang cenderung bernuansa suram, mendengar musik, dll.

Pada suatu titik, aku memutuskan untuk mengubah hidupku agar menjadi lebih cerah, optimistik, dan bergairah. Jadilah aku mulai membaca buku-buku motivasi, pengembangan diri, dan senang dengan kata-kata mutiara yang memberi efek positif. Aku tidak lagi sepesimis dan sesuram dulu. Bersamaan dengan ini, aku belajar Theravada sekaligus menjadi umat yang fanatik Theravada. Sementara itu, jarang-jarang sekali aku masih bisa mengalami ketakutan eksistensial. Namun tetap, setiap itu muncul pada titik tak tertahankan, buru-buru aku segera membuat gerak, susah payah keluar dari keadaan mencekam itu, dengan debaran jantung yang perlahan-lahan kembali menormal, melupakannya, dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa lagi.

Pernah, untuk pertama kalinya, aku coba menceritakan pengalaman itu kepada seorang teman Buddhis yang senang berdiskusi, tetapi ia menanggapiku dengan memberi baris-demi-baris kalimat semacam nasehat yang malah tidak nyambung. Sedari itu aku sempat sesaat menyesal telah melakukan kesia-siaan, karena sebelum kuceritakan padanya aku sudah merasakan tampaknya luar biasa sulit untuk mengkomunikasikan-keluar tentang momen kemunculan ‘itu’.

Pernah juga, suatu hari aku coba-coba bertanya kepada saudaraku, apakah ia pernah mengalami ketakutan semacam itu (ketakutan eksistensial) yang kadang-kadang kualami secara tiba-tiba. “Enggak,” ia menjawab ringan, tidak menghiraukan lebih jauh dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Kukira, kemunculan ketakutan yang mencekam itu memang sesuatu yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Apa boleh buat, sementara aku lupakan saja dan kembali tenggelam dengan kesibukan sehari-hari, sebagaimana tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat semakin banyak bersamaan dengan semakin bertambahnya usia.

Setamat sekolah, aku mulai membaca buku-buku meditasi dari penutur yang berbeda-beda. Pernah juga mengikuti retret meditasi Mahasi selama 10 hari. Selanjutnya, aku sempat bekerja di suatu perusahaan, dan pada saat bekerja di situlah, aku mengalami konflik yang bisa dibilang konflik terhebat yang pernah kualami. Masalah kesehatan fisik dan masalah batin terjadi berbarengan, gaya hidupku berantakan, konflik-konflik dari berbagai aspek menghiasi hari-hariku, sementara aku bahkan belum “selesai” dengan diriku sendiri. Konflik batin tidak benar-benar hilang ketika sebelumnya tampak seolah aku sudah berubah menjadi orang yang positif dan optimistik. Konflik batin itu masih bercokol kuat, hanya sempat ditekan/disembunyikan/ dimanipulasikan saja. Terbukti aku kembali tak berdaya ketika konflik-konflik lainnya datang bertubi-tubi, penuh dengan stress. Masalah-masalah fisik dan batin ini terakumulasi hari demi hari sampai aku mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Selanjutnya, aku mengalami depresi selama beberapa bulan.

Sejalan dengan semua ini, aku sudah mulai ‘friend’ dengan Bpk Hudoyo Hupudio dalam jejaring Facebook. Perlahan-lahan, aku mengikuti wallposts-nya serta menyimak diskusi dari komentar-komentar yang mengikutinya. Ulasan-ulasan yang disajikan beliau telah ‘menampar’ aku secara tidak langsung, membuatku bertanya kembali atas segala motif fondasi yang selama ini kubangun: agamaku, doktrin-dontrin intelektual, pengalaman-pengalamanku, relasi dengan orang-orang, dsb. Fanatismeku akan Buddhisme meluntur karena mengalami banyak sekali kebenaran-kebenaran–berkaitan dengan apa yang kualami, tidak sekedar teori–yang beliau paparkan dalam diskusinya di Facebook.

Sementara aku masih menjalani kesibukan sehari-hari, masih bekerja (telah bekerja di lain tempat), pada suatu kesempatan, aku mengikuti retret meditasi MMD bimbingan beliau selama satu minggu di Mendut untuk pertama kalinya. Kemudian, ada satu masa di mana aku memiliki banyak waktu luang tersisa di rumah, aku mulai sering mempraktikkan apa yang diajarkan dalam MMD, menyadari batin baik saat duduk diam, berjalan, maupun melakukan pekerjaan rumah yang tidak banyak membutuhkan kerja pikiran. Berikutnya retret meditasi serupa kuikuti lagi dengan bimbingan Romo Sudrijanta Johanes.

Aku mendapati praktik MMD ini adalah ajaran yang menurutku murni, di luar teori-teori yang bekerja dalam lingkup pikiran, di luar manipulasi psikologis, di luar teknik-teknik, dan implikasinya bagi perkembangan batinku sangat besar. MMD tidak menambahkan satu pun sesuatu padaku. Maksudnya, di sini tidak ada ‘tools’ atau apapun sebutannya yang dapat memperkuat ego. Sebaliknya, ego disadari sampai diam dengan sendirinya dan dari situ datanglah pemahaman yang benar secara alamiah.

Aku mengalami perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari/duniawi pada berbagai aspek. Perubahan ini bukan berasal dari daya upaya untuk berubah, namun transformasi ini datang dari insight-insight di luar dugaan yang memungkinkan aku dapat “melihat” sesuatu semakin jelas. Idealisme-idealisme yang tidak perlu yang pada dasarnya hanya untuk membawa kepuasan psikologis semakin banyak berkurang. Konflik-konflik yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dapat dipahami dan diatasi lebih mudah.

3

Lebih jauh lagi, pengalaman meditasi ini mengantarkanku pada temuan yang pada awalnya cukup mengejutkan. Aku kembali berhadapan dengan sesuatu yang sudah hampir kulupakan karena itu sangat tak tertanggungkan, yakni, ketakutan eksistensial yang sebelumnya kualami sesekali sejak kecil.

Di samping ketakutan eksistensial, momen menyesakkan yang tidak terlalu mencekam juga sempat sering kualami, yang sementara kunamakan ‘kesedihan eksistensial’. Kesedihan eksistensial biasanya terhadap situasi dunia, prihatin, dalam kaitannya terutama dengan keberadaanku dan keberadaan sesama. Dari penglihatan ini, hidup, tidak bisa tidak, itu meaningless dan bohong hebat. Semuanya, baik yang mampu kulihat, kudengar, kurasa, kupikir, dlsb, semuanya, tidak ada satupun yang dapat dianggap nyata, tidak sekecil apapun yang bisa dijadikan pegangan. Kesedihan eksistensial tampak lebih cair, tidak begitu menyesakkan dibanding ketakutan eksistensial.

Pertemuan kembali dengan momen-momen menyesakkan yang semakin sering ‘menampakkan kehadirannya’ sempat mendatangkan pertanyaan : “Akankah aku meneruskan ‘perjalanan’ ini, atau tinggalkan saja sehingga kembali hidup ‘seperti biasa’?”

Awalnya, padaku sempat menyusul pertanyaan, bila kuteruskan mungkinkah aku akan semakin menjadi “gila” di tengah masyarakat/dunia? Namun, kalaupun aku mengikuti “arus dunia”–dengan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa, kembali tenggelam dalam keseharian tanpa menghiraukan pengalaman ‘itu’ yang sebelumnya telah berkali-kali dialami– kalaupun demikian, bagaimanapun, jauh di dalam batin ini, ketakutan dan kesedihan eksistensial yang sangat mendasar itu ada. Meski kemunculannya tak bisa diduga, urusan satu ini tidak bisa dibohongi. Itu ada.

Itu pun sudah ada sebelum aku mendapat pengkondisian duniawi lebih jauh (ketika masih kanak-kanak), pun ketika belum mengenal MMD. Sejak dulu, aku selalu merasa yakin bahwa ketakutan eksistensial yang kualami sama sekali tidak relevan dengan segala penemuan pengetahuan yang dituang dalam buku-buku secanggih apapun hasil-karya itu. Bisa saja aku membaca buku sebanyak-banyaknya untuk mengoptimalkan pemahaman(intelektual)-ku, memaksimalkan kapasitas berpikir, aktualisasi bakat-bakat, dan sebagainya. Namun, sejak dulu aku pun melihat bahwa membaca banyak buku atau membaca sedikit buku keduanya sama saja, sama-sama kecil–tidak signifikan, tidak ada artinya–jika dipandang dari penglihatan bekas pengalaman ketakutan eksistensial.

Pada saat itu aku pun meragukan kecanggihan ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan jika buku-buku dapat membebaskan seseorang dari penderitaan secara total; serta merasakan semacam adanya ketidakadilan.

Mengapa telah berabad-abad peradaban manusia berkembang kian maju dan maju, namun tetap banyak manusia yang menderita, saling membunuh, perang, dan sebagainya?

Apakah kebenaran hanya milik orang-orang tertentu? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya akses memadai terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan? Apakah itu akan jadi kutukan bagi mereka untuk selamanya menderita tak terbebaskan?

Belakangan aku mendapati bahwa tidak pas juga kalau dikatakan bahwa kebenaran milik semua orang, karena kebenaran bukan milik siapa-siapa. Ia dapat menghampiri siapapun kapanpun ketika itu terjadi di luar pikiran dan keterbatasannya.

Sebenarnya bisa saja aku terus tenggelam menjalani hidup seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, semakin sering kini aku mengalami itu*, secara alamiah semakin aku tidak mau lagi berbohong terhadap diri sendiri hanya agar dapat menikmati hidangan kehidupan** yang juga bohong/fana. 

[*itu: (ketakutan eksistensial, kesedihan eksistensial, penglihatan di luar kesadaran sehari-hari, kadang-kadang terjadi kekosongan tiba-tiba yang di situ tidak ada apapun sama sekali, dan berbagai pengalaman lainnya dengan intensitas yang berbeda-beda)

**hidangan kehidupan = pengalaman inderawi]

Terlebih ketika mendapati sejumlah kemiripan pada pengalamanku dengan pengalaman awal Bernadette akan ketakutan eksistensial yang sangat mencekam itu setelah membaca buku ‘The Experience of No Self’ yang ditulis Bernadette Roberts (diterjemahkan oleh Pak Hudoyo). Mengetahui ternyata ada orang lain di luar sana yang juga mengalami keadaan yang mirip, yang awalnya kukira rasa tak tertanggungkan dan segala kesia-siaan ini hanya kualami seorang saja, sedikit banyak telah membantuku ‘melangkah’ di awal-awal ‘perjalanan’ ini.

Jadi, dengan begini jelas sudah pertanyaan ‘akankah aku meneruskannya atau tidak’ terjawab. Aku meneruskannya.

Dalam suatu retret MMD berikutnya, salah seorang yogi sempat mengajukan pertanyaan : “Cerita-cerita dari para pejalan spiritual (salah satunya seperti Bernadette Roberts) membuat saya terheran. Mengapa mereka memilih jalan yang justru menyakitkan seperti itu? Mengapa, kalau sudah tahu itu menyakitkan, mereka tetap meneruskannya?”

Dari pertanyaan ini, sekaligus aku dapat bercermin. Pelan-pelan aku mendapatkan jawaban dan menjelaskannya sejauh apa yang kualami. Bahwa pertanyaan itu janggal, ada yang tidak pas di sana. Tidak tepat jika dikatakan bahwa mereka bisa memilih (mau jalan yang seperti apa). Karena ini bukan soal pilihan. Melainkan fakta kehidupan. Fakta yang adalah penderitaan. Fakta yang kita selalu lari darinya.

Demikian sharingnya, semoga bermanfaat.

 

September 2012

======

CATATAN:

Lista Surian, 22 tahun, seorang praktisi meditasi kesadaran, beberapa kali mengikuti retret MMD seminggu dan retret bersama Romo Johanes Sudrijanta, SJ.

Tulisan ini diambil dari https://www.facebook.com/#!/notes/hudoyo-hupudio/ketakutan-eksistensial-oleh-lista-surian/10151052102481640?notif_t=note_tag