Kompetisi adalah nilai yang tidak bermutu karena hanya membuat satu pemenang dan semua yang lain kalah. Meskipun tidak bermutu, nilai kompetisi ini sudah merasuki segala sector dan dimensi kehidupan. Di mana saja kita bisa temukan, entah di rumah, sekolah, pabrik, perkantoran, pasar, jalanan, parlemen, tempat ibadah, dan seterusnya. Kompetisi telah menjadi motor penggerak utama dalam kehidupan politik, ekonomi, social, agama, pendidikan, dan kebanyakan organisasi yang dibentuk oleh tangan manusia. 

Kebanyakan dari kita sudah terbiasa memulai dan menyelesaikan sesuatu dengan ambisi, dari bangun pagi hingga pergi tidur. Kita berambisi untuk menjadi sesuatu yang lain dari apa adanya, berambisi untuk menjadi serba lebih (sukses, kaya, pandai, cantik, bahagia, berkuasa, terhormat, religius), termasuk berambisi untuk mengalahkan pihak lain dan menjadi juara sendirian. 

Kebanyakan orang tidak melihat kompetisi sebagai masalah dan justru beranggapan bahwa kompetisi adalah penggerak kemajuan yang alamiah. Persoalan yang sering diangkat hanya sebatas bagaimana orang berkompetisi secara sehat atau bagaimana menempatkan semangat berkompetisi pada tempatnya yang tepat. 

Mari kita bertanya apakah asumsi-asumsi di atas benar adanya. 

Hakikat Kompetisi 

Kompetisi pada hakikatnya adalah ambisi untuk menang dan membuat pihak lain kalah. Ia bisa bersifat intensional dan/atau bersifat structural. 

Sebuah kompetisi disebut bersifat intensional kalau dengan sengaja digerakkan oleh seorang individu atau sebuah kelompok untuk menjadi pemenang. Kompetisi individual adalah ambisi seseorang untuk menang dan membuat semua orang yang lain kalah. Kompetisi kolektif adalah persaingan yang terjadi antar kelompok untuk menjadi pemenang dan membuat semua kelompok yang lain kalah. Misalnya, ambisi individu A untuk menjadi juara kelas atau ambisi sekolah A untuk menjadi sekolah paling unggul mengalahkan semua sekolah unggulan yang lain. 

Selama kompetisi melibatkan pihak ketiga sebagai wasit, juri atau pengawas, penggerak atau pendorong, dan memiliki aturan main tertentu, maka kompetisi ini bersifat structural. Misalnya, kompetisi partai-partai untuk memperebutkan kursi kepala daerah merupakan kompetisi structural yang melibatkan kompetisi individual dan kelompok. 

Kompetisi individual dan kolektif ini bisa menyentuh dimensi structural, bisa tidak. Ambisi individu A untuk menjadi juara kelas, misalnya, tidak menyentuh dimensi structural, kalau pihak sekolah tidak memfasilitasi adanya kompetisi antar siswa untuk menjadi juara. Kalau sekolah mendorong para siswa untuk bersaing, maka ambisi individu A menyentuh dimensi structural. 

Kompetisi structural juga bisa berjalan tanpa kompetisi intensional. Kalau sekolah mendorong para siswa untuk bersaing, tetapi para siswa tidak tergerak sama sekali untuk bersaing, maka dalam sekolah tersebut ada kompetisi structural, tetapi tidak diikuti dengan kompetisi intensional dari para siswanya.

Bisakah kita melihat bersama-sama bahwa kompetisi bukan hanya tidak bermutu, tetapi juga pada hakikatnya tidak sehat, jahat, dan berbahaya? Sulitnya melihat betapa tidak sehatnya kompetisi secara psikologis—bukan sekedar melihat kompetisi yang tidak sehat–disebabkan sebagian oleh beberapa mitos berikut ini. 

Mitos Kompetisi

Mitos 1: Kompetisi adalah fakta hidup yang tak terelakkan. Tidak ada makhluk hidup yang bisa bertahan tanpa bersaing. Kompetisi untuk bertahan hidup menentukan siapa yang kuat dan siapa yang lemah, siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kompetisi untuk sukses, menang atau juara bersifat alamiah. 

Pandangan bahwa kompetisi bersifat alamiah adalah menyesatkan. Tidak ada kesepakatan di antara para ahli bahwa seleksi alam bersifat kompetitif atau kooperatif. Lebih umum diterima bahwa alam bekerja secara simbiosis mutualisme sehingga setiap jenis makhluk hidup memiliki tempat dan perannya masing-masing dalam alam semesta. 

Konflik antar makhluk hidup kadang kala terjadi, tetapi konflik dalam skala massif pada umumnya tidak. Kalau pun terjadi, konflik tersebut dikarenakan oleh kerusakan ekosistem atau keserakahan manusia dan bukan hasil dari proses-proses alamiah. Misalnya, mengamuknya gajah di permukiman perkebunan sawit bukan karena gajah adalah binatang yang jahat, tetapi karena manusia telah menyingkirkan gajah dari ekosistem hutan yang telah dihancurkan dengan mengganti menjadi kebun kelapa sawit. 

Seleksi alam tidak membutuhkan kompetisi; sebaliknya kompetisi membahayakan seleksi alam. Untuk bisa bertahan hidup justru lebih banyak dibutuhkan kerjasama satu dengan yang lain, baik kerjasama dalam spesies yang sama maupun antar spesies yang berbeda. Misalnya, rusaknya tanaman pertanian karena hama tikus membuat frustrasi para petani. Para petani kemudian sadar bahwa mereka sendirilah yang telah mengundang tikus-tikus itu datang dan merusak pertanian mereka karena mereka telah membunuh ular karena benci atau untuk konsumsi. Setelah ular dikembang-biakkan di lahan-lahan pertanian, tanaman mereka menjadi aman dari serangan hama tikus. 

Sesuatu yang alamiah tidak bergerak secara kompetitif. Tetumbuhan dan hewan tidak lahir untuk mengalahkan yang lain. Begitu pula manusia. Tidak ada orang lahir dengan keinginan untuk bersaing. Kalau kita tumbuh menjadi besar dan hidup ambisius dan kompetitif, itu adalah hasil dari pembelajaran. Keluarga, sekolah, dan agama mengajari kita menjadi demikian. 

Mitos 2: Tanpa kompetisi, kita tidak bisa mencapai sukses atau tujuan yang dikehendaki. Kompetisi membuat kita bergairah untuk mencapai sukses. Tanpa kompetisi, kita menjadi mandeg, tidak berkembang, atau tidak produktif. 

Ada tiga cara orang bekerja untuk mencapai tujuan. Pertama, bekerja dengan cara bersaing atau bekerja berhadapan dengan orang lain sebagai pesaing atau lawan. Kedua, bekerja bersama atau berkolaborasi dengan orang lain sebagai teman. Dan ketiga, bekerja sendirian tanpa teman, tanpa lawan. 

Jelaslah bahwa kompetisi bukan satu-satunya cara untuk mencapai tujuan. Berpandangan bahwa kompetisi adalah satu-satunya cara untuk mencapai tujuan adalah ketidaktahuan.

Melakukan pekerjaan sebaik mungkin dan mengalahkan orang lain adalah dua hal yang berbeda. Ambisi untuk mengalahkan pihak lain tidak menambah kualitas cara kita melakukan aktivitas sekarang. Kompetisi pada dirinya tidak membuat orang menjadi istimewa. Penemuan potensi yang ada dan bekerja seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya itulah yang membuat seseorang menjadi istimewa. Pencapaian-pencapaian yang tampak fantastis seringkali merupakan hasil dari ketekunan orang-orang yang tidak lelah bekerja sendirian atau komitment dalam kerja kolaborasi yang saling membangun, bukan hasil dari kompetisi untuk saling menjatuhkan. 

Optimalisasi potensi dan sumberdaya yang ada menjadikan orang atau kelompok terus maju atau berkembang, bukan demi kemenangan dalam ajang kompetisi. Bekerja sendiri-sendiri dalam kompetisi yang ketat tidak selalu membuat penggunaan sumber daya efisien dibanding berkolaborasi. Dalam banyak kasus, kolaborasi justru bisa menekan biaya dan dengan demikian meningkatkan hasil yang diinginkan. 

Ambisi untuk mengalahkan pihak lain tentu saja menimbulkan gairah tertentu. Tetapi gairah yang muncul karena orang melihat potensi dan mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada tentu saja berbeda dari gairah untuk mengalahkan pihak lawan.  Terlebih lagi gairah dalam bersaing menciptakan kegelisahan, konflik, dan pembuangan energy. Perhatian pada sukses atau tujuan justru mengalihkan perhatian kita dari apa yang terjadi sekarang dan alih perhatian ini justru membahayakan produktivitas yang bisa dihasilkan sekarang. 

Mitos 3: Kompetisi membentuk karakater yang baik. Semangat kompetisi membentuk kepribadian yang ulet dan tahan banting. Kompetisi menciptakan keasyikan dalam belajar atau bekerja. 

Dengan kompetisi, orang cenderung lebih menghargai hasil akhir seperti nilai, ijasah, medali, atau uang, bukan prosesnya itu sendiri. Alasan utama untuk belajar atau bekerja hanya untuk mendapatkan hadiah pada moment akhir akan mengurangi mutu dalam proses belajar atau bekerja. 

Keuletan dalam belajar atau bekerja muncul dari perhatian penuh minat pada apa yang dilakukan, bukan pada impian tentang hasil akhir yang nantinya akan dicapai. Dengan demikian keasyikan dalam belajar atau bekerja timbul dari perhatian pada proses yang terjadi sekarang. Dalam banyak kasus, setiap individu yang terlibat dalam proses-proses kerja kolaborasi menemukan keasyikan bukan pertama-tama karena kemenangan akhir yang diraih, tetapi karena proses-proses interaksi atau kerjasama dalam kelompok. Keberhasilan bukan menjadi keberhasilan pribadi, tetapi menjadi keberhasilan bersama. 

Kompetisi menciptakan ketakutan atau kegelisahan. Orang merasa “ada” kalau juara; ketika tidak lagi juara, tidak lagi merasa “ada”. Kegelisahan untuk selalu menjadi juara, untuk selalu mengalahkan orang lain supaya merasa tetap “ada”, bukanlah karakter yang sehat. 

Obsesi bisa membuat orang memandang sesamanya sebagai pesaing yang harus dimusnahkan. Orang lain dianggap sebagai perintang bagi keberhasilan dirinya. Kebiasaan untuk mengalahkan orang lain demi tujuan supaya orang merasa “ada” adalah kecenderungan yang buruk atau jahat. 

Racun yang Jahat dan Berbahaya

Kebanyakan orang kalah dalam kompetisi dan hanya sedikit saja yang menjadi pemenang. Kalaupun menang, kompetisi tidak membentuk karakter yang baik. Justru sebaliknya, kebiasaan bersaing bisa membentuk karakter yang berbahaya dan jahat. Konflik, perang, dan eksploitasi sumber daya alam secara tak terkendali adalah akibat dari nafsu berkompetisi yang pada dirinya jahat. 

Kompetisi mudah membakar sikap permusuhan. Tidak setiap orang memenangi perlombaan. Kalau seorang menang, semua yang lain kalah. Orang bisa menyimpulkan bahwa orang lain merupakan rintangan bagi keberhasilannya. Orang tidak ingin kalah dan mudah curiga pada orang lain. Kompetisi membuat orang lain bukan sebagai teman atau kolaborator, tetapi sebagai pesaing atau musuh yang harus dikalahkan atau dimusnahkan. 

Bisakah kita melihat bahayanya kompetisi, karena kompetisi merusak diri sendiri, orang lain dan alam semesta? Bisakah kita melihat jahatnya kompetisi, karena kompetisi hanya merugikan orang lain dan membawa keuntungan hanya bagi dirinya sendiri. Bisakah kita melihat betapa tidak sehatnya kehidupan politik, ekonomi, social, agama dan seterusnya yang sudah diracuni oleh semangat kompetisi? 

Belajar Kompetisi atau Kolaborasi? 

Kalau kita ambisius dan kompetitif, maka kita akan mengajari anak-anak kita menjadi ambisius dan kompetitif. Kita mengajari anak-anak bahwa tidaklah cukup menjadi baik; mereka harus lebih daripada orang lain. Sukses didefinisikan sebagai menang atau juara, meskipun itu merupakan dua hal yang sama sekali berbeda. Kalaupun memenangkan kompetisi, mereka bisa masuk dalam lingkaran setan: semakin banyak berkompetisi, semakin besar kebutuhan untuk mengalahkan orang lain agar mereka merasa nyaman dengan dirinya. Masalah besar akan datang ketika mereka tidak lagi menemukan orang lain yang dikalahkan atau suatu saat gagal sebagai pemenang. Mereka akan malu dan merasa diri tidak berharga jauh lebih dalam. 

Untuk belajar atau bekerja dengan sungguh-sungguh tidak perlu mengobarkan semangat kompetisi untuk menjadi juara atau untuk mengalahkan orang lain. Ketika ada suasana kerjasama dalam belajar atau bekerja, maka anak-anak merasa lebih nyaman dengan diri mereka. Mereka bekerja bersama-sama dengan yang lain, bukan bekerja untuk mengalahkan orang lain. 

Seperti apakah kita menciptakan suasana kompetisi di rumah, sekolah, atau tempat kerja? Kita suka membanding-bandingkan. “Nak, kakakmu pintar. Kamu jangan kalah.” “Kamu harus bisa menjadi juara.” “Kita harus bisa mengalahkan perusahaan tetangga supaya kita tetap berada di nomor satu.” Silahkan periksa, apakah suasana atau lingkungan yang kompetitif membuat orang berprestasi dibanding lingkungan yang kooperatif? 

Bukankah suasana kompetisi tidak membuat orang belajar atau bekerja lebih baik? Mengapa demikian? Bukankah kompetisi justru membuat cemas dan mengganggu konsentrasi dalam belajar atau bekerja? Bukankah dengan kompetisi, orang justru dibatasi untuk saling belajar satu dengan yang lain. Bukankah perjuangan untuk menjadi nomer satu justru mengganggu proses apa yang seharusnya di pelajari? 

Apakah keberhasilan hanya bisa dicapai dengan mengalahkan pihak lain atau adakah keberhasilan yang dicapai justru dengan membantu pihak lain? Bukankah dengan membantu orang lain, kita sendiri justru dibantu untuk lebih maju? Bukankah dengan membantu keberhasilan pihak lain, keberhasilan itu juga menjadi keberhasilan kita? 

Menjalani Kehidupan secara Alamiah

Bunga bakung adalah bunga bakung. Bunga bakung di ladang tidak perlu menjadi bunga mawar di taman. Bunga mawar di taman tidak perlu merasa lebih indah dari bunga bakung di ladang. Tidak ada yang lebih indah atau kurang indah. Masing-masing unik. Pembandingan hanya ada dalam batin manusia yang ambisius. 

Bisakah batin dibersihkan dari racun ambisi dan kompetisi? Kalau batin tidak memiliki ambisi dan kompetisi, bagaimana kita tumbuh dan berkembang? Ambisi dan kompetisi adalah seperti kanker yang  merusak jaringan syaraf tubuh. Kalau batin bebas dari ambisi dan kompetisi, kanker itu tidak tumbuh dan pertumbuhan alamiah akan terus berlangsung. Anda tidak lagi membanding-bandingkan dengan orang lain. Anda hidup sebagaimana apa adanya Anda. Bukankah tidak ada hidup yang lebih alamiah dari pada hidup apa adanya, tanpa gelisah oleh pembandingan atau ambisi untuk menjadi lebih? Anda sebagaimana apa adanya Anda, dengan seluruh talenta yang ada, justru bisa mekar secara penuh, tanpa harus menang atau kalah. 

Batin yang penuh kompetisi berpikir bahwa sukses adalah kehormatan dan gagal adalah memalukan. Nilai segala sesuatu diukur dari hasilnya. Batin yang bebas kompetisi tidak dipusingkan oleh hasil. Perhatian lebih tertuju pada proses, pada apa yang tengah dilakukan. Hasil merupakan efek samping saja dari proses yang ditekuni dengan sepenuh hati pada saat sekarang.*