Pertanyaan AW:

Sudah seminggu ini, saya membaca kembali buku tulisan Anthony de Mello yang berjudul Awareness. Pola berpikirnya mirip seperti tulisan-tulisan Rm Sudri, yakni menyadari gerak ego dalam diri yang selalu bereaksi secara terprogram atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidup. Dengan mengamati dan menyadari ego, maka ego itu akan menghilang, dan kita akan mencapai state of awareness. 

Kemarin siang, saya mencoba meditasi sejenak untuk mengamati gerak ego dalam diri saya. Saya sampai pada satu titik, ketika semuanya menghilang, dan tak menjadi berarti lagi. Nothingness. Seolah apa yang saya geluti dan hidupi selama ini tidak ada artinya, karena itu hanya buatan-buatan manusia dan masyarakat yang begitu rapuh.  

Namun, situasi ini tak berjalan lama, hanya kira-kira satu jam. Setelah itu, saya kembali harus bergulat dengan kesibukan sehari-hari yang menuntut banyak tenaga, bahkan emosi. Emosi-emosi negatif pun kembali bermunculan. Rasa takut, cemas, kesal akibat penolakan, serta kemarahan pun kembali berdatangan. Saya mencoba mengamati gerak ego saya yang dilanda oleh berbagai emosi negatif ini. Memang, saya lebih tenang, dan tidak lagi emosional, seperti biasanya.  

Pertanyaan saya adalah, apakah state of awareness, di mana kebebasan diri muncul, ini adalah sesuatu yang sementara? Ataukah ada cara lain, sehingga kita bisa mempertahankan state of awareness ini lebih lama, bahkan menjadi bagian dari karakter diri kita?

 

Jawaban JS: 

Keadaan sadar (state of awareness) hanya terjadi ketika ego/pikiran berhenti. Ketika ego atau si pemikir yang tidak berbeda dengan pikiran psikologis bergerak, kesadaran tidak ada. Keduanya saling menegasi, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Tetapi kesadaran (awareness) bisa berjalan bersama dengan pikiran, sejauh pikiran tersebut hanya sebagai referensi praktis, bukan sebagai pusat psikologis. Kesadaran yang bekerja dengan pusat psikologis ini disebut sebagai kesadaran dualistic (consciousness). 

Kebebasan ini hanya terlahir ketika ego/diri/pikiran berakhir. Kebebasan di sini bukan versi kebebasan konseptual atau filosofis. Bukan kebebasan dari (freedom from) atau kebebasan untuk (freedom for).  Bisa kita menyebutnya sebagai kebebasan dari segala keterkondisian. Maka tidak ada kebebasan dalam ego/diri. Dengan demikian tidak ada pikiran bebas, kehendak bebas, atau keinginan bebas. Tidak pernah ego/diri mencapai kebebasan selama ego/diri masih ada. 

Selama ego/diri berhenti satu detik atau satu jam, maka kebebasan terlahir satu detik atau satu jam. Praktik kesadaran akan membuat intensitas dan frekuensi berhentinya ego/diri/pikiran yang tidak sungguh dibutuhkan semakin lama. Kapan ego/diri/pikiran berhenti secara permanen? Kita tidak tahu. Yang saya tahu, satu-satunya yang mampu meruntuhkan ego/diri/pikiran adalah kesadaran. Tidak ada cara lain. 

Ketika ego/diri/pikiran berakhir, kebebasan terlahir. Ketika ego/diri/pikiran muncul kembali, ia ingin menikmati moment kebebasan yang telah lewat, atau ingin menikmati lebih lama, ingin membuatnya permanen, ingin menjadikan bagian dari karakter diri. Bukankah itu semua adalah gerak ego/diri/pikiran yang mau memperkuat dirinya? Bukankah ego/diri/pikiran yang mengejar kebebasan adalah suatu gerak kontradiktif pada dirinya? Dalam kebebasan, tidak ada diri; juga tidak ada kualitas-kualitas diri. 

Kebebasan musti menjadi langkah pertama sekaligus langkah terakhir. Saat kesadaran terlahir, itulah langkah pertama sekaligus terakhir. Kalau kebebasan ditempatkan sebagai langkah terakhir–sebagai thelos, utopia, tujuan—dan ego/diri/pikiran bergulat untuk mencapainya, maka kebebasan yang sesungguhnya tidak akan pernah didapat. Jadi bisakah kita hidup dalam kebebasan dari saat ke saat. Artinya sama, bisakah kesadaran bekerja dari saat ke saat?*