Saya sudah 30-an tahun melakukan masturbasi. Saya berpikir, daripada saya mengganggu orang lain, lebih baik saya selesaikan sendiri. Apalagi saya tidak menikah. Tapi tetap saja ada rasa bersalah atau rasa tidak damai. Apa yang sebaiknya saya lakukan? 

Dari mana munculnya rasa salah? Apakah karena Anda melanggar aturan moral atau agama bahwa masturbasi itu tidak bermoral atau dosa? Kalau pun Anda bisa mengendalikan diri dan tidak masturbasi karena takut melanggar dosa atau moral, bukankah Anda merasa tertekan karena tidak bisa melampiaskan hasrat seksual Anda? 

Ada sebagian orang mengatakan, “Masturbasi adalah hal yang alamiah dan menyehatkan. Orang perlu belajar untuk melakukannya dan tidak perlu merasa bersalah.” 

Saya mempertanyakan kebenarannya. 

Kalau masturbasi itu pada dirinya sehat bagi keutuhan pribadi, maka tidak akan ada orang yang merasa tidak pas atau tidak damai dengan melakukan masturbasi atau tidak akan ada orang yang merasa perlu bersalah. Kenyataannya, orang tetap didera rasa salah atau rasa tidak damai, entah mereka orang beragama atau tidak beragama. 

Mengapa setelah 30-an tahun masturbasi, tetap saja merasa bersalah atau tidak damai? Perasaan bersalah atau tidak damai bisa saja muncul bukan sekedar karena melanggar aturan agama atau moral, tetapi menunjukkan fakta kejiwaan bahwa masturbasi pada dasarnya tidak alamiah dan tidak sehat. Tidak alamiah, karena merusak atau memecah keutuhan pribadi. Tidak sehat, karena kenikmatan masturbasi memperkuat dorongan untuk melekat pada kenikmatan dan kelekatan pada kenikmatan adalah penderitaan. 

Berbeda dengan kenikmatan dari hubungan seks pasangan  (sexual intercourse) yang saling mencintai. Kenikmatan dari hubungan seks di sini terkait dengan orang lain. Kenikmatannya bukan pertama-tama karena hasrat seks terpuaskan, tetapi terlebih karena pemuasan dialami bersama-sama dengan pasangannya yang dicintainya. 

Kalau hubungan seks dilakukan dengan egois, atau semata-mata demi kepuasan seks, maka derajat kenikmatan hubungan seks tidak berbeda dari masturbasi. Kenikmatan hubungan seks menjadi berbeda kalau ada cinta dan cinta yang sesungguhnya hanya ada kalau ego tidak ada. 

Kalau ego masih ada, cinta tidak ada, dan kenikmatan akan terus menjadi objek obsesi. Mengapa? Bukankah karena kesepian-kesepiaan membuat batin mencari kenikmatan? Bukankah kesepian-kesepian itu tetap ada, atau bahkan lebih dalam lagi, ketika pemuasan seks sudah berakhir? Kesepian menggerakkan keinginan untuk masturbasi dan masturbasi menciptakan kesepian yang lebih dalam lagi. 

Jadi apa yang perlu dilakukan ketika hasrat seks lagi muncul dan ada hasrat kuat untuk masturbasi? Sadari saja. Buanglah aturan boleh atau tidak boleh, dosa atau tidak dosa, dan kembangkan kesadaran. Sadari imaginasi-imaginasi seksual yang menggairahkan. Sadari korelasinya dengan tubuh dan organ genital. Sadari kesepian-kesepian dan pelarian untuk mencari kenikmatan. 

Kalau Anda memiliki cinta (yang sesungguhnya) lakukan apa saja yang Anda kehendaki dan Anda barangkali akan menemukan keindahan yang jauh melampaui keindahan dari sekedar kenikmatan seks.*