VH, 43 tahun, Karyawati, Tangerang. 

Retret 10 hari kali ini adalah retret yang kedua kalinya. Retret 10 hari pertama kali saya ikuti tahun lalu. Saya merasa membutuhkan retret ini karena dalam kesibukan saya praktik meditasi tidak berjalan dengan baik. Kalau sedang capek sekali, saya langsung istirahat tanpa melakukan meditasi, padahal praktik meditasi sebaiknya dilakukan secara rutin.

Pada waktu retret pertama kali, saya banyak meraba-raba apa yang diajarkan Romo. Selama retret kali ini saya lebih santai hari demi hari. Tetapi ada perbedaan pada apa yang saya dapat pada retret tahun lalu dan retret kali ini. 

Pada waktu retret pertama, banyak objek yang datang silih berganti. Di antara objek-objek tersebut, ada satu objek yang membawa saya pada pengalaman runtuhnya kemelekatan saya. Saya merasakan hal yang berbeda kali ini. 

Sebelum berangkat retret, saya bercerita pada salah satu sahabat saya. Saya katakan bahwa saya sekarang merasa ada yang berubah dalam diri saya. Saya menyadari bahwa sekarang ini saya bisa berhubungan dengan baik dengan orang-orang yang sudah menyakiti saya tanpa rasa sebel, marah dan lain-lain. Bahkan saya bisa bercanda dengan mereka. Hal itu tidak pernah saya lakukan selama ini. Selama ini, kalau saya tidak suka dengan teman atau siapapun yang menurut saya suka menyakiti dan tidak menyenangkan diajak berteman, saya cenderung menjauh. Bahkan kalau bisa tidak perlu mengajak bicara kalau tidak sungguh perlu. 

Hal ini saya rasakan sebelum saya berangkat retret, tetapi saya masih belum tahu apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Apakah karena saya setia mengikuti Misa harian, atau karena meditasi atau sebab lain. Saya masih bertanya-tanya.

Selama dua hari pertama, banyak kotoran batin atau objek yang datang silih berganti pada saat meditasi. Objek ini saya sadari dan semuanya berlalu. Mulai hari ke 3, saya merasakan kekosongan dan keheningan yang dalam. Pada saat dialog saya sampaikan pada Romo pembimbing. Romo menganjurkan saya untuk melihat apakah ada pusat psikologis dalam kekosongan tersebut. Karena saya kurang enak badan pada hari ke 4, jadi saya mulai mengikuti anjuran Romo pada hari ke 5. 

Pada saat kekosongan datang, saya tidak menemukan apa-apa. Saya merasakan hilangnya perasaan, baik marah, sedih, senang, bahkan rasa takut yang selama ini ada di pikiran saya. Biasanya rasa takut ini mengikuti saya. Ketakutan terutama akan anak saya yang besar yang kadang kejang saat kelelahan, terlalu banyak main game yang menimbulkan cahaya yang berlebihan pada matanya dan sebab-sebab yang lain yang kadang tidak saya ketahui. 

Pada saat keheningan datang, saya juga merasa seperti ditarik oleh suatu kekuatan atau energy yang besar. Sebelumnya saya seperti berada pada lingkaran yang kecil, lalu ditarik masuk ke lingkaran yang lebih besar. Dalam kekuatan atau energi ini, ada kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. 

Saya merasakan semuanya kosong. Hilang entah kemana perasaan-perasaan ini. Saya sempat bingung bagaimana mungkin seseorang tidak ada perasaannya, padahal selama ini perasaan adalah ekspresi diri terhadap orang lain. Saat itulah saya menyadari  bagaimana saya bisa berteman dengan orang yang saya tidak suka. Hilangnya rasa benci dan marah membuat saya bisa melakukan hal itu.

Pada sesi dialog, saya ceritakan pengalaman tersebut kepada Romo pembimbing. Beliau mengatakan bahwa berhentinya perasaan membawa kepada tindakan benar (true action). Jadi cinta saya terhadap anak bukan lagi sebatas perasaaan, tetapi lebih sebagai tindakan mencintai itu sendiri. Menurut Romo, energy yang saya rasakan itu bukanlah energy yang baru, tetapi sebenarnya sudah ada. Karena energi terpecah-pecah, maka vitalitas energi yang tak terpecah ini jarang kita alami. Setelah pembuangan energi yang terpecah-pecah ini berhenti, energy ini menyatu dan terasa besar kekuatannya. 

Setelah retret selesai dan pulang sampai di rumah, saya mendapat cerita bahwa mobil kami ditabrak dari belakang saat menghindari motor di depan yang tabrakan. Mobil itu baru datang seminggu. Anehnya saya tidak marah mendengar cerita itu. Saya hanya berpikir syukur bahwa keluarga saya tidak ada yang cedera. Biasanya saya mengomel kalau tahu mobil baru ditabrak begitu. 

Pada tanggal 1 September lalu, saya mengajak teman-teman lingkungan ke Bandung. Kami ber 50 orang termasuk anak-anak pergi ke Gereja Pandu tempat adanya Adorasi abadi. Saya menyempatkan diri untuk bermeditasi di ruang adorasi. Terasa ada keheningan yang luar biasa. Juga lingkungan yang tenang ikut mendukung keheningan. Itu membuat saya rasanya tidak ingin berhenti meditasi. Saya merasakan ketika objek-objek yang datang tidak ditanggapi dan kita pasif terhadapnya, maka ada ketenangan dan kedamaian. 

Sampai hari ini saya masih merasakan keheningan. Juga tiadanya rasa-perasaan. Saya juga tidak tahu sampai kapan situasi ini akan bertahan. Ditengah-tengah keramaian mal pun, saya sekarang merasakan batin saya tetap hening. Sepertinya yang ada di luar saya adalah dunia yang lain yang tidak mengganggu saya. 

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Romo Sudri karena sudah mengijinkan saya mengikuti retret ini kembali. Terima kasih juga buat Mbak Fetria yang memberikan tumpangan lagi kepada saya, juga kepada teman-teman retretan yang turut mendukung keheningan selama retret.*