AA, 37 tahun, akunting, Jakarta. 

Retret MTO 16-26 Agustus 2012 adalah retret meditasi ketiga yang kuikuti. Yang pertama adalah retret akhir tahun 2011 selama tujuh hari. Sepulang mengikuti retret yang pertama kali, energi luar biasa kuperoleh dan aku punya minat untuk terus meditasi. Tiga minggu setelahnya muncul letupan-letupan yang memperlihatkan siapa diri ini, antara lain suka menganalisis. 

Aku senang membaca cerita detektif, seperti Lima Sekawan, Agatha Christie dan Alfred Hitchock. Hasil analisisku terhadap persoalan itu pun ternyata salah. Sempat ada perasaan bersalah, tetapi hanya sebentar. Hal itu justru membuatku dapat melihat diriku dan menangkapnya tanpa menilai atau pun menghakimi. Aku sempat mengaku dosa karena hal itu. Aku sempat menertawakan diriku sendiri di kamar pengakuan dosa karena melihat diriku yang senang menganalisis segala sesuatu, senang menggunakan pikiran yang tidak dibutuhkan dan salah pula. Satu pemahaman kuperoleh, yaitu cukup menyadari–tanpa menilai, tanpa menghakimi, tanpa ingin mengubahnya–sebab tidak ada seorang pun dapat mengubah dirinya sendiri. Semakin ingin berubah, semakin tidak dapat berubah. Hanya Sesuatu Yang Tidak Dikenal yang mampu mengubah. 

Dalam retret 10 hari ini Romo Pembimbing memberikan bahan, teori, atau penjelasan di setiap malamnya. Begitu banyak hal yang dikemukakan. Namun, satu hal yang kuingat adalah Romo meminta agar retretan melupakan apa saja yang baru dijelaskan begitu selesai sesi dialog. Hasilnya, aku memang lupa semua yang sudah dijelaskan selama retret sampai saat aku menulis pengalaman ini. Yang ada hanya minat untuk duduk meditasi, sadar dari saat ke saat, sadar ketika seringkali aku tidak sadar, tanpa daya upaya. Namun demikian, ada beberapa pengalaman yang dapat kubagikan. 

Tanggal 15 Agustus beberapa peserta mengikuti walking meditation menuju air terjun Cibereum. Saat itu sekitar pukul 3.30 pagi kami berenambelas mulai naik. Suhu saat itu sangat dingin. Kaki harus berjalan menanjak, menginjak batu-batu dalam keadaan gelap, berteman senter yang hanya cukup menerangi dua langkah kaki ke depan. Tidak hanya agak terengah-engah, hidungku sakit karena menghirup udara yang dingin. Rasanya seperti kemasukan air ketika berenang. Kusadari saja rasa sakit itu dan kapan menghilangnya aku sudah tidak ingat, tetapi ketika kurang 0,3 km lagi dari titik tujuan, aku sudah tidak merasakannya. 

Ada rasa takut ketika aku harus melewati jembatan kayu yang banyak berlubang. Setelah sampai kami beristirahat sejenak dan turun kembali. Di saat harus melewati jembatan kayu lagi, rasa takut sudah tidak ada lagi, malah aku setengah berlari melewatinya. Total kurang lebih 4 jam untuk naik dan turun, tetapi herannya aku tidak capai sama sekali. 

Selama retret meditasi, wajah seorang teman perempuan yang berada di Jakarta muncul dalam pikiranku. Aku terseret pada ingatan akan beberapa peristiwa saat bersamanya. Aku melihat kejadian-kejadian itu. Batinku bereaksi. Rasanya seperti apa sukar diungkapkan. Aku sendiri kurang mengerti mengapa aku begitu emosi ketika teringat padanya. Hal itu kuutarakan ketika dialog kelompok. Romo berkata supaya diamati saja dan nanti akan terungkap sendiri. Kuturuti nasihatnya. Setiap ada ingatan akan dia, ada kesadaran tanpa daya upaya, pelanturan berhenti, reaksi batin sudah tidak sedahsyat sebelumnya. Sampai saat ini kadang wajahnya masih muncul, tetapi aku tidak emosi lagi. Kenapa dia terbayang terus, masih belum jelas. Ya, sudahlah, cukup diamati secara pasif saja. 

Saat dialog kelompok juga kutanyakan mengenai perbedaan antara walking meditation dan sitting meditation. Romo menerangkan bahwa sitting meditation lebih total karena tubuh tidak bergerak. Kemudian aku lebih mempraktekkan sitting meditation. Benar, setiap ada konflik atau pergulatan, ketegangan di bagian-bagian tubuh atau sel-sel syaraf lebih disadari sehingga membantu menyadari reaksi-reaksi batin. 

Bagiku jam tangan dan handphone akan sangat mengganguku dalam menjalani retret. Syukurlah retretan diwajibkan menyerahkan itu semua kepada panitia karena itu akan sangat menolong retretan itu sendiri. Namun, sebagai petugas yang membunyikan bel di waktu-waktu tertentu, hal itu menjadi masalah. Namun, masalah itu terpecahkan dengan menggunakan jam weker dan beberapa peserta yang pernah mengikuti retret rela membantu membunyikan bel pada pukul 3.30 pagi. Ya, semuanya baik-baik saja. 

Hari kelima, saat meditasi bersama pukul 18.00 air mataku menetes tidak berhenti. Aku teringat pada keluargaku di Jakarta. Ada rasa takut kehilangan. Pikiran buruk mucul. Cukup lama aku menangis. Namun, tangisku sudah berhenti sebelum bel dibunyikan untuk walking meditation. Waktu tersebut sempat kugunakan untuk ke kamar untuk buang air kecil. Waktu itu aku berniat menghubungi keluargaku. Aku masih memegang handphone untuk alarm di pagi hari ketika alarm kupinjamkan pada retretan lain yang membantu membunyikan bel di pagi hari. Kunyalakan handphone. Sambil menunggu loading, aku buang air kecil. Namun, selesai buang air kecil, aku tidak jadi menelepon. Langsung handphone kumatikan lagi. Pikirku, kalau begini terus, kapan pun akan terjadi hal yang sama juga. Dalam dialog kutanyakan pada Romo. Ternyata itu adalah kelekatan. Ketika itu muncul ya disadari saja. Sesampai di rumah kutanyakan keadaan mereka. Semuanya baik-baik saja. 

Pergulatan batin hanya akan membuang energi. Keinginan untuk mencapai sesuatu yang ideal atau sempurna secara psikologis adalah gerak ego yang justru menghasilkan kemunafikkan. Tidak perlu lagi berusaha mempertahankan argumen. Semuanya menjadi tidak penting. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak perlu ada pencapaian apapun dalam meditasi selain hanya kesadaran dengan jalan kesadaran. Untuk setiap pikiran yang datang, tidak ditolak, juga tidak diikuti, cukup disadari tanpa daya upaya. 

Ada pemahaman mengenai ego atau kotoran batin. Bagaimana batin yang penuh ego atau kotoran batin mungkin menjadi jernih? Dengan jalan kesadaran dari saat ke saat, tanpa daya upaya, memungkinkan adanya kejernihan. Keterbukaan batin sangat diperlukan, tidak cepat-cepat menolak maupun menerima. 

Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada Romo Pembimbing, panitia, dan teman-teman yang telah bekerjasama dengan serius dan hening sehingga meneguhkanku dalam penemuan diri.*