IK, 39th, karyawan, Jakarta.

Mendengar saya berencana ikut retret 10 hari selama libur lebaran tahun 2012, boss dan orang-orang terdekat saya berkomentar begini. “Are you crazy or what?” “Yakin loe sanggup gak ngomong, gak ketawa selama 10 hari?” “Are you trying to become a saint?” Itulah reaksi mereka. 

Sebagai kaum urban ibukota, biasanya libur lebaran adalah saat yang paling saya tunggu untuk segera ngacir dari Jakarta dan berpetualang bersama teman-teman sesama kaki panjang. Perlu kebulatan hati untuk merelakan kesempatan jalan-jalan di waktu libur panjang seperti ini. But I did, and I do not regret any second of it.

Meninggalkan Jakarta pada tanggal 15 Agustus pukul 21.20 wib bersama 3 teman sesama peserta retret, kami tiba di wisma cibulan sekitar pukul 23.00 malam lewat, dan menggangu istirahat romo dan panitia yang menyambut kami. Terima kasih Romo Sudri dan Astrid yang bangun untuk menyambut kami.

Hari pertama kami bangun jam 3 pagi untuk mendaki ke air terjun Cibeureum di taman Cibodas. Saya menikmati pendakian ini yang masih dalam toleransi kemampuan fisik saya yang jarang berolah raga. Secara batin? Sliwar-sliwer gak karuan. Saya mencoba untuk hening, tapi rasanya pikiran masih fokus untuk bermain senter dan mencari tempat yang pas untuk menapakkan kaki, disamping berbagai pikiran yang rajin mampir.

Sampai di air terjun, duingiiiiiinn…! Saya yang alergi dingin, gak kuat rasanya untuk duduk diam. Mencoba untuk melihat kondisi batin, tapi tak kunjung sadar, tetap kedinginan. Mencoba sok pasrah, juga tetap dingin. Saya sadar bahwa saya belum sadar.

Kembali ke wisma, ngobrol dalam perjalanan, beristirahat, dan pukul 17.00 semua alat komunikasi, jam tangan dan dompet dititipkan ke panitia, sebelum retret dibuka dengan misa. So I told myself, “This is it; welcome to the silent world for the next 10 days.” Jeng jeng!

Sesi meditasi bersama dilakukan setiap pagi dan sore, dengan diselingi penjelasan dari romo setiap pukul 6 sore. Juga ada 3 kali dialog kelompok.

Sesi “pelajaran” dan dialog membuat saya lebih paham secara teknis, dan berharap pemahaman ini akan membantu saya untuk bisa lebih sadar (aware) dan masuk dalam keheningan. Ternyata keinginan untuk sadar dan terbebas dari “kesemrawutan” batin juga merupakan satu kotoran batin yang menambah kesemrawutan batin itu sendiri.

Backsound lagu yang selalu mengiang dalam batin–dari lagu-lagu ordinarium komplit SATB, mazmur, lagu jingle iklan i*d*café cappuccino (mungkin karena selama retret setiap hari saya minum yah…) sampai salatuloh salamuloh yang berkumandang dari masjid-masjid di sekitar wisma–ikut meramaikan suasana batin saya. Mencoba untuk mengamati dan menghentikan berbagai pikiran yang tampak saling berebut untuk antri muncul di pikiran saya, tanpa hasil.

Sekali lagi saya menyadari bahwa keinginan saya untuk segera bisa sadar, sangat kuat. Ketika saya mencoba untuk menyadari itu pun, saya sadar bahwa pikiran sadar (conscious) saya masih bekerja, secara otomatis, menganalisa semua kotoran batin yang muncul. Dalam hati masih terdengar suara, “Ayo… sadar dong… sadar… sadaaaaar….” Artinya, 100% saya belum sadar.

Sesuai saran romo, saya mencoba menyadari hal-hal yang kasar dulu, seperti ketegangan fisik. Yang ini berhasil, terutama ketika diingatkan romo melalui bimbingannya selama meditasi bersama.

Sekembalinya ke aktivitas sehari-hari, saya mencoba rutin melakukan meditasi, ketika bangun tidur dan sebelum tidur, walau hanya sekitar 15 menit. Meski masih banyak melantur, sekarang relatif lebih cepat sadar kalau sedang melantur, untuk kemudian berlanjut ke lanturan yang lain, dan yang lain. Sepulangnya dari retret pula saya baru menyadari, kalau tubuh seringkali tegang dengan sendirinya, baik ketika dalam keadaan beraktivitas maupun ketika tidur. Satu hal yang pasti saya sadari adalah, batin saya semrawut, dan perlu diolah.

Terima kasih banyak Romo Pembimbing, atas kesempatan mengikuti retret meditasi 10 hari, untuk kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang saya yakin banyak berulang dari retretan-retretan sebelumnya. Meskipun saya sudah membaca 3 buku romo yang sudah terbit, masih banyak pertanyaan yang timbul dari batin yang terkondisi ini.

Terima kasih juga buat panitia dan teman-teman sesama retretan yang telah berjalan bersama-sama dalam keheningan selama 10 hari.*