FBH, 56 tahun, Katolik, Arsitek

Terasa bingung juga untuk memulai dalam menulis pengalaman retret 11 hari (15-26 Agustus 2012 di Cibulan). Retret meditasi ini memakai pendekatan “Non-Affirmativa” atau “Negativa”, di bawah bimbingan Romo J. Sudrijanta, SJ. 

Menengok perjalanan hidup saya, ternyata pikiran sadar (consciousness) lebih mendominasi setiap aspek kehidupan saya. Itu menyebabkan batin (mind=affection, cognition, will) terpenjara dalam keterkondisian, bersifat “dualistik” atau “rentang pemisahan” baik dari pengaruh luar yang dicerap indera (timbunan pengaruh luar secara langsung atau tidak langsung) maupun dari dalam pikiran itu sendiri (akumulasi ingatan dari masa lampau). 

Dengan berbekal pemahaman intelektual tentang “beyond-self” atau “dying is living” atau “awareness”, saya mencoba sepenuh hati menapaki, memahami, dan menyelami. Saya belajar membiarkan tindakan (action) dalam fakta “apa adanya” mengalir dengan sendirinya dari saat  ke saat.

Walking meditation menerobos hutan Cibodas di pagi buta (03.30 WIB)–gelap gulita, dingin menyengat tulang–membutuhkan waktu total 5 jam. Itu merupakan pengalaman spektakuler pertama dalam hidup saya. Saya membiarkan pikiran sadar mengatur hidup-matinya lampu-senter sebagai satu-satunya sarana yang dapat memberi petunjuk langkah yang harus saya tapaki. 

Saya mencoba senantiasa mempraktikkan kesadaran (awareness) dari saat ke saat. Selama pendakian, banyak sensasi yang muncul baik dari indera, pikiran, perasaan, gagasan. Saya bebas dari perasaan takut, meski saya sering berjalan seorang diri karena jauh dari rombongan di depan atau di belakang. 

Saat perjalanan turun, saya terbebas dari perasaan senang atau capek. Kesegaran saya rasakan. Saya menikmati alam lingkungan yang sejuk dengan panorama pegunungan yang indah yang sangat berbeda dari kesemrawutan padatnya kota Jakarta. Lebih dari itu batin terlihat tanpa beban sama sekali. Barangkali itu adalah hasil pelepasan dari kelekatan terhadap setiap sensasi yang senantiasa muncul selama praktik kesadaran. Apalagi didukung dengan berjalan tanpa berbicara, sehingga energy tidak terbuang sia-sia. 

Lima hari pertama saya sebut sebagai masa adaptasi. Dalam kehidupan sehari-hari, dituntut gerak cepat. Sekarang kegiatan bergerak lambat, namun haruslah sadar dengan sikap relaks. 

Saya merasa sampai hari itu tidak ada kemajuan berarti. Malahan saya terjerumus dalam rasa sakit psikosomatik yang parah yang semula tidak saya sadari. Pada hari ke-5, saya harus ke Puskesmas terdekat untuk memeriksakan kondisi badan yang sangat letih dan kepala yang pening seperti usai menenggak banyak alkohol. Setelah diperiksa dokter, diketahui tekanan darah saya 180/110. Tekanan darah setinggi itu belum pernah saya alami selama hidup. Akibatnya, selama dua hari pagi dan siang, saya terkapar di atas tempat tidur karena efek obat yang di berikan. Namun saya bisa mengikuti setiap sesi acara bersama pada malam harinya tanpa gangguan yang berarti. 

Selama proses penyembuhan diatas tempat tidur, celotehan pikiran tetap bergema bagaikan kerasnya suatu nada dengan siklus crescendo dan decrescendo. Ada pikiran yang mengatakan bahwa saya telah gagal dalam retret dan ada dorongan untuk mengakhiri retret. 

Anehnya, tidak ada daya-upaya sama sekali untuk bereaksi terhadap celotehan pikiran. Saya hanya membiarkan dan mengamati, sambil menikmati peningnya kepala dan denyut otot leher. Itu membuat relaks dan menghantar saya masuk ke dalam fase tidur yang dalam. Apakah itu dampak tidak langsung dari pengalaman mengikuti weekend retreat dan latihan meditasi di rumah meskipun tidak rutin dalam kurun 5 bulan terakhir? Apakah itu yang disebut kesadaran sejati yang tidak digerakkan oleh kehendak sadar, tapi muncul sendiri meski pada penghujung proses? 

Lebih dari semua itu, timbullah suatu pemahaman yang luar biasa dan mendalam pada hari ke-6. Saya menyebutnya sebagai “landmark-diri”. Moment ini menyadarkan saya untuk meneruskan retret meditasi dengan lebih tekun lagi dalam menapaki apa dan bagaimana sesungguhnya bertindak dengan sadar. 

Pada momentum ini, saya menemukan diri saya yang sarat sekali dengan keterkondisian laten sebagai berikut:

  1. Sebagian besar ingatan yang muncul terasa mengguncang atau membawa sensasi dalam gerak relative cepat dan menunggu untuk meminta respon balik.
  2. Terlihatnya arus kehendak, ambisi, pengendalian yang luar biasa kuat untuk mencapai sesuatu dalam meditasi.

Dalam meditasi pikiran sering kali menyusup untuk menamai setiap ingatan yang muncul. Durasi pengenalan ingatan itu berbeda satu dengan yang lain, tergantung dari tingkat kelekatannya. Proses-proses ini telah menjebak saya tenggelam ke dalam pikiran dan menyedot energi fisik dan psikologis yang amat besar dan tanpa arti. 

Pengalaman berikut adalah contohnya. Ketika berhasil sadar tentang suatu ingatan, maka ingatan itu lenyap dengan sendirinya. Kemudian muncullah ingatan berikutnya. Namun ingatan yang baru tersebut kabur bentuknya dan pelan geraknya untuk dikenali. Ketika ingatan itu mulai menampakan sebagian bentuknya (misalnya, meninggalnya istri saya pada 9 Februari  2012 disusul ibu kandung saya 44 hari kemudian), pikiran yang penuh dengan kelekatan telah menyusup dan menutupi bekerjanya kesadaran. Ketika itu durasi pengenalan semakin pelan. Mungkin pengaruh letihnya badan dan kekuatan psikologis selama 4 hari pertama. Alih-alih menyadari, yang terjadi malah muncul ambisi untuk mencapai sesuatu. 

Selanjutnya ketika ingatan kabur dan mulai memunculkan seluruh bentuk tanpa nama, tanpa disadari kandungan kelekatan yang belum dikenali telah mendorong pikiran untuk melabeli. Saya hanyut untuk menamainya. Akibatnya sel-sel syaraf seluruh tubuh bereaksi dan menjadi tegang. Ingatan-ingatan yang berkaitan dengannya bermunculan dan menambah ketegangan. 

Pada hari ke-6 saya konsultasikan semuanya kepada Romo Pembimbing. Romo berkomentar bahwa:

  1. Proses berpikir (consciousness) sangat berbeda dengan sadar (awareness). Proses berpikir bersifat mekanistik, sedangkan sadar bukanlah gerak batin yang mekanistik.
  2. Dalam keadaan sadar, batin sesungguhnya berada di luar keterkondisian. Tetapi kesadaran tidak mudah bekerja ketika tubuh sakit atau tegang.
  3. Kesadaran (awareness) bisa berjalan secara harmoni dengan pikiran sebagai referensi praktis untuk bertindak.

Saya bersyukur akan terjadinya peristiwa “landmark-diri” tersebut. Seperti sering ditekankan oleh pembimbing bahwa kesadaran tidak dapat semata-mata dipelajari secara intelektuil, tetapi harus dialami sendiri. 

Selama 3 hari tahap kedua (hari ke-7 s.d. ke-9), meditasi jauh lebih relaks baik bagi tubuh maupun batin. Selain meditasi bersama, saya lakukan meditasi sendiri di ruang tidur. Bila terasa ada ketegangan tubuh dan batin yang membuat letih, saya teruskan dengan tidur sesaat. Kemudian melanjutkan kembali latihan walking meditation di alam bebas dan kembali lagi sitting meditation di ruang tidur. 

Alhasil pada setiap sesi meditasi bersama subuh dan petang hari, saya dapat dengan mudah menyelami tubuh yang relative tertib dan batin yang relative tidak terkondisi. Seperti pengarahan Romo Pembimbing, saya dapat menjaga tubuh dan pelupuk mata tidak bergerak dan tidak tegang. Dengan lain kata, duduk yang sungguh diam dan lama. Nafas dibiarkan bergerak secara alami. Setiap ketegangan yang terjadi selama meditasi mengindikasikan adanya gerak lembut pikiran atau perasaan yang mulai menyusup. Saya dapat memahami fakta sebagai berikut:

  1. Dalam keheningan tidak ada dualitas atau rentang pemisahan suka dan tidak suka.
  2. Kestabilan optimal terjadi hanya ketika pusat perasaan (affection) dan pusat pemahaman (cognition) runtuh.
  3. Tiadanya rentang kematian dan kehidupan.

Saya kemudian memahami apa yang disebut “titik hening”, yaitu terputusnya rentang masa lampau dan masa datang dan hanya ada saat sekarang. Penyelaman fakta di atas membuat batin memahami “apa adanya” dari saat ke saat dan batin tidak membuat pencatatan.

Selama 2 hari tahap ketiga (hari ke-10 s.d. ke-11) Perasaan puas diri mulai muncul, karena ada keinginan untuk menerapkan meditasi di tengah kehidupan sehari-hari yang lebih banyak menuntut penggunaan pikiran. Saya memahami fakta batin yang hening membuat pikiran bekerja efektif.  Batin yang hening juga menyadarkan saya bahwa manusia adalah makhluk ilahi yang ragawi.

Dengan retret ini, pesan Injil dan panggilan Kristus saya tangkap lebih jernih seperti terungkap pada misa penutupan. Terimakasih kepada Romo Sudrijanta atas bimbingannya.*