MR, 40 tahun, karyawan sebuah bank.

Retret meditasi 10 hari di bulan Agustus 2012 adalah retret yang pertama kalinya saya ikuti. Diawali dengan pergulatan untuk bisa ikutan retret, karena izin cuti tidak jelas, tetapi saya nekad pergi. Saya merasa butuh untuk ikut retret ini dan ada keinginan besar untuk belajar meditasi dalam retret ini.

Kegiatan hari pertama walking meditation di Cisarua tentu saya jalani. Saya ingin merasakan melakukan meditasi jalan ke hutan pada dini hari. Ternyata wow luar biasa, menyenangkan dan segar. Berharap walking meditation ke hutan diadakan di setiap retret.

Dalam retret 10 hari ini banyak sekali hal-hal yang saya pelajari dan saya praktekkan menyadari, menemukan, menerima diri dan membaca buku saya sendiri. Pokok-pokok yang menarik misalnya titik hening (still point), batin yang tertib, juga kesadaran pasif (awareness). “Sadar itu tidak sulit, tapi juga tidak mudah”, kata Romo.

Saya menjalani retret ini dengan sukacita. Dari meditasi duduk, meditasi jalan, meditasi makan.  Juga mencoba membebaskan diri dari kelekatan sehari-hari, di mana HP/BB, jam tangan dan uang disimpan oleh panitia.

Terasa kesegaran ketika terbangun di pagi dini hari pukul 03.30 WIB dan tidak mengantuk sama sekali, bahkan saat bel belum terdengar. Biasanya saya jarang bangun sepagi ini secara rutin. Beberapa hari saya sempat terbingung-bingung karena kehilangan orientasi waktu. “Ini jam berapa yah? Ini sudah hari apa?”

Menjalani hidup dengan bebas, tanpa keterikatan, sungguh membahagiakan. Menggunakan pikiran hanya saat dibutuhkan. Menjalani kehidupan dalam keheningan. Saya merasa lebih dapat menikmati keindahan alam yang luar biasa. Terasa setiap keindahan dalam pandangan mata, yang biasanya terlewat begitu saja.

Belajar untuk diam, tidak berbicara, ternyata asyik. Walau ada juga godaan dari sana sini. Yah itulah tantangannya. Ternyata dengan diam, banyak hal yang muncul. Bahkan hal-hal yang biasa saya coba untuk buang jauh-jauh. Benar-benar jauh dari perkiraan saya. Apa yang saya dapatkan di retret ini begitu berlimpah sekali. Saya sangat bersyukur banget atas kesempatan untuk bisa mengikuti retret meditasi ini.

Saya pribadi sangat menikmati retret ini. Bahkan terpikir seandainya kehidupan setiap hari seperti ini, betapa menyenangkan sekali. Variasi kegiatan dari hari ke hari, membuat tidak terasa waktu yang terlewati. Segar dan bahagianya mengikuti retret ini.

Untuk menjalani meditasi bersama, benar-benar penuh tantangan, karena rasa sakit kaki yang selalu hadir. Ketika timbul rasa sakit, belajar tidak menolak dan tidak mengikuti. Kalau kaki digerakkan, rasa sakit akan semakin parah. Diam saja pun juga sakit. Apalagi saat Romo mengatakan, “Kita akan duduk lebih lama”. Pikiran langsung bereaksi membuat kaki terasa tambah sakit. Pikiran yang terkondisi ini perlu dilampaui dari saat ke saat. Saya belajar dan belajar terus untuk bisa melampauinya.

Di kehidupan yang akan datang, setelah kematian fisik ini, ternyata hal-hal berkenaan dengan batin akan terus terbawa. Batin yang terkondisi, tidak akan berhenti pada saat kematian fisik. Jadi betapa pentingnya persiapan diri sebaik mungkin dari sekarang semasa menjalani kehidupan ini.

Jawaban dari Opa yang hadir pada sesi dialog After-Life Communication  juga menguatkan pentingnya olah kesadaran sejak menjalani kehidupan di dunia ini dan bukan nanti setelah meninggal. Hal seperti ini baru saya ketahui sekarang. Dulu saya mengira ketika seseorang meninggal, arus batin itu selesai semuanya, tidak ada yang masih terbawa-bawa terus. Ternyata hidup terus berlanjut dan hal itu harus terus dibereskan sampai selesai di kehidupan selanjutnya. Adalah baik sekali mengikuti retret meditasi secara rutin, supaya bisa selalu sadar dan mempraktekkannya di kehidupan sehari-hari.

Diawali dengan misa pembukaan dan ditutup dengan misa penutupan, dengan suasana yang baru. Saya merasa nyaman mengikuti misa dengan nuansa meditasi. Serasa ada getaran yang menaungi diri.

“Menyadari batin adalah meditasi dan menyadari adalah membebaskan,” demikian kata Romo Sudri. Kata-kata ini sangat inspiratif buat saya. Dengan meditasi, batin diolah dan dengan demikian ada kemungkinan bisa bebas dari segala terkondisian.

Betapa bahagianya hidup selalu dengan sadar, tanpa batin yang terkondisi dan hidup di saat sekarang.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terimakasih buat Romo Sudri untuk segala bimbingan, waktu dan kesabarannya menghadapi saya orang aneh ini. Terima kasih juga untuk kehadiran para tamu di hari penutupan retret meditasi ini, Romo Heli, Chella, Opa. Juga terimakasih buat panitia dan teman-teman retret.*