BR, 29  Tahun, Wartawan, Jogjakarta

 

Saya ingin berbagi pengalaman setelah mengikuti meditasi pada Juli 2012 lalu. Diawali dengan sakit maag karena tak sengaja makan cabe, awal retret meditasi cukup disibukkan dengan “menyadari rasa sakit”. Semula menolak, lalu menerima apa adanya. Makin menolak rasa sakit itu, makin membelit-belit sakitnya. Akhirnya saya menyerah. Minum obat. Setelah minum obat lumayan membaik. 

Praktis karena serangan akut itu, saya hanya mempraktikkan meditasi berbaring pada hari pertama dan kedua. Saya lega ketika sakit maag sudah berlalu. Ketika siang hari, usai makan siang, saya hampir jatuh pingsan. Kepala saya sakit luar biasa dan badan clekat clekit sakit semua. Saya meditasi berbaring. Mencoba menyadari sakit. Kepikiran ikut acara. Kesadaran datang dan pergi. 

Saya lalu mengambil uang koin. Saya kerikkan uang ke lengan. Cukup kaget karena warnanya nyaris hitam. Sebagian sakit kepala juga hilang. Rupanya saya masuk angin yang cukup berat. Saya minta bantuan pekerja di dapur untuk mengerik tubuh bagian belakang. Benar saja, warnanya nyaris keungu-unguan. Dan begitu berakhir kerikan itu, kepala saya terasa ringan. 

Malamnya, pada pukul 18.00 hingga pukul 21.30, meditasi dengan arahan Romo Sudri bisa saya lakoni. Meditasi selama tiga setengah jam inilah, praktis baru saya ikuti penuh. Saya duduk diam. Energi rasanya penuh. Menyadari batin dan reaksinya dari saat ke saat. Tak sedikit pun saya kepikiran tentang pikiran berhenti, atau ingin mengalami ini dan itu. Sudah bisa mengikuti meditasi penuh cukup buat saya. 

Pada saat meditasi duduk setengah jam, ada banyak perubahan dari meditasi sebelum-sebelumnya. Saya merasakan sesuatu yang keluar dari kepala. Dulu, rasanya mengumpul tidak mau keluar-keluar. Seperti berhenti di tenggorokan dan di dalam kepala. Dan rasanya sangat tidak enak. Saya nyaris frustasi waktu itu. Kejadiannya pada akhir Desember tahun lalu dan Februari ketika retret dengan Romo Sudri. Nah, pada retret ini saya merasakan ada sesuatu (apa mungkin itu yang dinamakan energi ya) yang keluar. Yang jelas tubuh saya terasa ringan dan merasakan penyatuan dengan alam semesta ini. Saya menyadari ini, terlebih pada reaksi batinnya. Mula-mula nyaman, damai, tapi lama-lama kok biasa saja. Tidak ada rasanya apa-apa.  

Saat meditasi berjalan berlangsung, tiba-tiba saja langkah saya berhenti. Saya lantas membuka mata. Saya tertinggal jauh di belakang. saya jalan lagi. Saya tetap menyadari reaksi batin. Sembari berjalan. Tiba-tiba saya merasakan kaki sampai kepala bergetar. Saya merasakan baju yang menempel di tubuh saya berbeda pada hari biasa. seperti menyatu dengan tubuh. setelah itu saya merasakan pandangan yang begitu luas. Saya bingung. Itu tadi apa ya? Untuk kali kedua saya jauh tertinggal di belakang dengan jarak depan saya. Saya lanjutkan meditasi berjalan. Tiba-tiba saya merasakan kaki saya slow motion. Tidak mau bergerak. Seluruh sel dalam tubuh seperti merasakan gerak mulai kaki turun diangkat turun lagi. saya berhenti lagi. Kaki ini tidak mau bergerak. Dia berhenti sendiri. Tidak mau jalan. Setelah pikiran masuk, muncul pertanyaan, “Lho apa ini?” Keadaan kembali normal. Saya berjalan. Saya kembali jauh tertinggal.  

Ketika meditasi jalan berhenti dan berganti menjadi meditasi duduk, saya menyadari reaksi batin yang ada. Sempat bertanya itu, “Tadi apa ya?” Tapi lalu berganti dengan menyadarinya. Beberapa menit meditasi duduk. Tiba-tiba…mulai dari mulut sampai kepala saya bergetar kuat sekali…deeerrrrerreeeeeet. Lalu seperti ada yang ditarik dari dalam diri saya. Tak lama kemudian saya merasakan pandangan luas. Punggung saya yang selama ini sakit seperti hilang entah kemana. Saya tidak merasakan apapun. Setelah peristiwa itu, saya merasakan tubuh saya segaaaarr luar biasa. Belum pernah dalam hidup saya merasakan kesegaran yang demikian. Pandangan mata saya juga jernih. Tubuh terasa ringan sekali.  

Sampai medtasi berakhir, kesegaran badan saya masih terasa. Saya tidak mengantuk dan tetap segar sampai pukul 02.00 dinihari. tidak ada rasa capek maupun mengantuk. Saya mengalami sesuatu yang belum pernah saya rasakan selama ini. Tidak ada apa-apa. Kalaupun disebut damai juga, damainya berbeda dengan kedamaian yang saya alami selama ini.  

Setelah peristiwa itu berlangsung, memang ada kekhawatiran. Ada keinginan mengalami peristiwa senada. Ada harapan ingin mengalami lagi. Semoga dengan sadar setiap saat, saya bisa lepas dari semua itu. 

Yogyakarta, 9 Agustus 2012  

BR